Belajar Dari Komik

Kalau ada yang nanya, “Menurut kamu, Put, surga itu kayak apa?” Bukan yang langit berpelangi, pohon menghijau, umat manusia hidup damai berdampingan, atau tempat yang banyak cowok cakepnya. Emang bagus sih semuanya. Tapi ya, saya selalu kepikiran bahwa yang namanya surga itu adalah perpustakaan. Makin panjang rak bukunya, makin bagus.

Library_1400_800*Gambar dari sini

Namanya kutu buku sih, ya surganya isinya buku.

Tapi saya nggak selalu kutu buku, lho. Aslinya, saya ini penggemar berat komik. Yah, sekarang nggak berat-berat amat, sih. Soalnya udah jarang juga baca komik karena sibuk ngurus anak, rumah sama suami. Tapi waktu masih sekolah dulu, saya gudangnya komik.

Saya tumbuh bersama buku. Ayah saya dosen. Adik-adik ayah yang ikut tinggal di rumah kami juga kebetulan suka membaca. Jadi saya udah biasa ngeliat orang dewasa baca buku. Buku bukan sesuatu yang mengintimidasi. Tapi kecintaan saya yang pertama pada buku, berawal dari komik.

Waktu saya TK, ayah saya sering menyewa video aneka kartun Jepang (anime) untuk hiburan saya dan adik. Saya kecil udah lebih lancar nyebut nama anggota Voltes V daripada baca. Dan ketika akhirnya saya udah bisa baca, otomatis saya beralih ke medium dengan cerita yang serupa, komik.

Sampai saya remaja, saya juga masih suka komik. Kebetulan, saya tumbuh jadi remaja yang cupu. Ya, namanya juga anak perempuan yang kerjaannya Cuma nonton kartun sama baca komik, nggak heran kan kalo saya masuk jurusan cupu. Mungkin karena emang bawaan lahir, atau emang pada dasarnya saya ini orangnya ogahan. “Main basket, yuk!” Ogah, ada komik baru keluar belon gue baca. “Ke mal aja!” Ogah, ntar sore ada episode baru anime Casshern. “Nonton konser?” Mmpph …, mending tidur. Kalau konser ini emang bukan kegiatan kesukaan, sih. Lagian, kalo keluar malem, saya suka sakit pilek. Cupu parah, deh.

Lalu ngapain aja sama selama remaja ini? Baca komik aja?

Hehe, lihat di halaman selanjutnya ya.