Say Thanks, Please..

husband_wifeKepada suami dan anak sih, budaya berterima kasih sudah lumayan diterapkan dengan baik. Misalnya, saat suami membersihkan kamar mandi atau hal lain yang memang sudah menjadi tugasnya, saya tetap mengucapkan terima kasih. Apalagi kalau suami melakukan hal yang membutuhkan effort lebih, terima kasihnya paket lengkap (hugs-kisses-smile :D). Makanya, saya suka bilang “Sama-sama, Ayah” kalau suami langsung melahap habis makanan yang saya masak dengan penuh perjuangan, dan lupa mengucapkan terima kasih (lho kok jadi pamrih ya?).

Karena saya memulai berkeluarga dalam keadaan sudah punya ‘thank awareness’, rasanya lebih mudah untuk menerapkan sesuatu yang baru dari awal daripada mengubah kebiasaan lama. Kepada orangtua saya, hal tersebut terasa lebih susah karena sejak kecil saya tidak dibiasakan untuk berlaku demikian. Orangtua saya pun jarang mengucapkan terima kasih kepada saya. Yang saya ingat, kita diharuskan mengucapkan terima kasih kalau diberi sesuatu. Bukan, bukan salah orangtua saya sebenarnya, karena setiap keluarga dan masyarakat memiliki budaya yang berbeda. So, perbedaan itu saya anggap wajar.

Meskipun demikian, saya sudah berhasil membuat beberapa perubahan. Sekarang saya sudah bisa say thank you ke Mama dan Papa, khususnya setelah mereka memberi bantuan seperti mengantar ke RS, menjaga Aksa, memijit saya kalau kelelahan. Walau kadang ucapan itu bernada lirih dan tanpa memandang wajah mereka karena rasanya masih malu dan canggung, haha..

Karena itu, walaupun Aksa masih belum bisa berbicara, saya sudah membiasakan dia untuk mengucapkan terima kasih. Situasi yang paling mudah untuk menerapkannya adalah ketika ia meminta sesuatu dan saya memberi apa yang ia minta. Saya pun demikian. Setelah mengajaknya ke acara yang lokasinya jauh dan ia tidak rewel, misalnya, saya bilang, “Terima kasih ya anakku, sudah jadi anak yang sholeh..” Saya menggunakan kalimat tersebut karena terdengar lebih positif dibandingkan “Terima kasih ya Nak, karena tidak rewel sepanjang perjalanan..”

Saya pernah iseng-iseng menguji murid-murid saya, usia mereka antara 9-10 tahun. Salah seorang dari mereka membawa oleh-oleh berupa makanan dari luar kota. Ia pun mempersilakan teman-temannya untuk mengambil kue tersebut. Saya katakan padanya, “Salsa, nanti coba hitung ya, ada berapa yang mengucapkan terima kasih.” Satu per satu teman-temannya pun mengambil kue hingga habis. Guess what, hanya satu anak yang mengucapkan terima kasih!

Dari sini saya belajar bahwa mengajarkan sesuatu harus dilakukan terus menerus, tidak boleh cepat puas, apalagi berhenti ketika hasilnya tidak kunjung terlihat. Saya percaya, anak adalah peniru yang ulung. So, cara yang paling efektif untuk mengajarkan terima kasih adalah dengan menjadi role model mereka. Inilah salah satu alasan mengapa saya suka memberi thank you card kepada setiap murid saya setelah final test, saat saya menjadi guru les bahasa Inggris. Saya tambahkan pula motivasi serta hal-hal yang bisa mereka tingkatkan. Everybody loves personal touch.

Sementara bagi yang memiliki orangtua seperti Mama Papa saya, cara yang paling tepat untuk membiasakan ber-thank you ria adalah dengan memulai terlebih dahulu. For this case, I don’t really expect them to thank me, tetapi lebih kepada mendobrak rasa canggung untuk mengekspresikan rasa terima kasih kita. Mengirim sms juga bisa menjadi alternatif lho, khususnya jika kita benar-benar merasa kurang nyaman mengatakannya secara langsung.

Seperti sms saya untuk Papa, kali pertama saya mengucapkannya pada beliau 7 tahun lalu:

“Pa, makasih ya udah banyak berkorban buat aku selama ini. Maafin aku yang jarang sms Papa, kecuali kalau ada butuhnya. Aku sayang Papa.”

Walau Papa hanya menjawab, “Sama-sama, Papa juga sayang Mbak”, I know that it means a lot for him. And I’m glad that finally I let him know.


Post Comment