Kenapa Montessori?

Akhir-akhir ini, saya kembali merasakan antuasiasme yang meletup-letup terhadap metode pendidikan montessori. Sebelumnya, kesan yang saya dapat dari kata montessori adalah metode pendidikan yang banyak dipakai di preschool namun saya tidak tahu seperti apa dan bagaimana; saya malah sempat mengira montessori terkait dengan agama tertentu. Padahal faktanya melenceng sekali dari itu.

Pertama kali saya tahu tentang montessori secara mendalam adalah setelah membaca buku “Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori.” Kebetulan, kini anak saya bersekolah di tempat yang menerapkan kurikulum montessori. Ketika mengobrol dengan wakil kepala sekolah seputar metode montessori, saya jadi diingatkan lagi tentang apa dan bagaimana montessori; it’s only predictable kalau efek dari membaca buku yang saya sebutkan tadi kembali terulang: saya terpikat dan jatuh cinta all over again pada metode ini.

Sebenarnya apa dan bagaimana, sih, montessori itu? Metode ini diciptakan oleh Dr. Maria Montessori (1870-1952), seorang pendidik dan physician dari Italia yang memang mencurahkan usaha untuk mengembangkan filosofi pendidikan yang paling efektif untuk anak-anak. Di buku yang saya sebut tadi, dijelaskan bagaimana awalnya Dr. Maria Montessori memperhatikan bahwa anak umur 3-4 tahun senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari, seperti merawat kebersihan lingkungan sekolah, menyiapkan makanan, dan mengurus dirinya sendiri. Nah, ketika anak-anak diajak melakukan hal-hal kecil yang berkaitan dengan keterampilan hidup, anak-anak merasakan harga dirinya meningkat. Singkatnya, untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri.

Filosofi montesori berdiri di atas keyakinan bahwa pendidikan harus berjalan paralel dengan kondisi unik masing-masing anak. Montessori menghormati anak dengan menerima mereka sebagaimana kekuatannya, minatnya, kebutuhannya, maupun gaya belajarnya. Dengan demikian, metode ini memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value “respect” sebagai landasan untuk mendidik.

Kebetulan, beberapa hari lalu, sekolah anak saya mengadakan seminar – tentunya seputar montessori – yang membahas dua karakteristik utama anak berusia di bawah 6 tahun, yang terdiri dari absorbent mind dan sensitive period.

Apa saja maksud dari 2 poin tersebut? Simak di halaman selanjutnya.


7 Comments - Write a Comment

  1. Artikelnya sangat menarik. pas banget anak saya juga sekolahnya full montessori. dan kami merasa metode ini yang paling pas dan sesuai dengan anak kami. kurikulum yang seperti inilah yang kami cari, meski pun bayarannya mahaaaal :D hehehe, dulu sebelum masukin anak ke sekolah dengan metode ini saya sempet ikutan pelatihan montessori. banyak manfaat yg saya rasakan untuk diajarkan kepada anak di rumah. sederhana tapi penuh makna. merasa tertarik dan lanjut trial di sekolah sekarang, dan pas anaknya cocok:) .di rumah pun udah mulai kelihatan hasil yang baik dari metode montessori ini, baik moralitas dan akademisnya bisa seimbang seneng rasanya. terima kasih. salam kenal:)

    1. Hai pupun, thanks buat komentarnya dan salam kenal jugaa.
      Setuju banget kalo metode montessori itu “sederhana tapi banyak makna.”
      Wah, dirimu ikut pelatihan montessori di mana? Emang berguna banget yah, kalau orangtua tahu gimana menerapkan montessori untuk sehari-hari. Tapi buku yang tadi saya sebutin di artikel juga lumayan lengkap, sih, ngasih guidance untuk diterapkan di rumah.

  2. Suka sekali dengan quote dari @therealbansky tsb :)
    Saya jg setuju dgn konsep mixed age di montessori karena melatih anak utk menghargai dan bergaul dgn teman yg beragam usianya. Dalam hidup kan kita lebih sering berinteraksi dgn orang yg tidak sebaya.

    Nice sharing, mba :)
    Orang tua sangat perlu membuka pikirannya utk terus belajar ttg perkembangan dan pendidikan anak.

    1. Nah, bener banget poin yang kamu sebut itu! Waktu ngobrol dengan pihak sekolah, mereka juga ngasih tau kalau in real life, interaksi itu ‘kan nggak dibatasi oleh usia. Pas aku gali lebih jauh, ternyata sistem mixed-age emang banyak manfaat positifnya.

      Sip, thanks untuk komentarnya :) Yuuk, belajar terus!

Post Comment