Mengukur Keinginan Dan Kenyataan

Reality Check

Suatu hari di akhir pekan, saya dan adik perempuan saya asyik mengobrol tentang berbagai hal. Mulai dari ‘keseruan’ hari-harinya sebagai ibu baru, sampai membahas kabar orang-orang yang kami kenal. Pembicaraan kami lalu sampai ke kabar seorang Om.

Om ini tahun depan akan memasuki masa pensiun, namun ia mengambil keputusan yang menurut kami agak drastis. Ia memasukkan anaknya ke universitas swasta yang terkenal mahal, ke fakultas yang juga terkenal sulit. Yang kami sayangkan, sebelumnya si anak sudah mencoba tes masuk ke fakultas yang sama di berbagai universitas – negeri maupun swasta – dan dinyatakan gagal di semua tempat tersebut. Menurut kami, kok keputusannya tetap memasukkan anaknya ke fakultas itu terkesan ‘maksa’ banget, ya?

Saya jadi menyimpulkan, bahwa “moral of the story” yang bisa kami petik – selain bahwa hobi bergosip sebaiknya jangan dipelihara, hehehe – adalah sepertinya si Om perlu reality check, deh. Kenapa meskipun sudah disodorkan fakta bahwa kemampuan anaknya tidak memadai, tapi ia masih tetap ngotot juga? Apa dia tidak bisa melihat apa yang orang lain (baca: pihak yang menguji kemampuan anaknya) lihat?

Tapi, sebelum saya bertanya-tanya lebih jauh dan bersikap menghakimi (uhuk!), saya berhenti sejenak untuk berkaca pada diri sendiri. Apa iya saya juga suka terlewat melakukan reality check, ya?

Reality check yang saya maksud adalah melihat suatu hal atau kondisi sesuai dengan kenyataan. Tanpa tertutupi ‘kabut’ ekspektasi, optimisme buta, mispersepsi, atau bahkan “excessive idealism” akibat kurangnya pemahaman atas apa yang terjadi.

Ibu saya sering sekali berkata, “Bayang-bayang sepanjang badan.” Artinya kurang-lebih dalam mengharapkan sesuatu, hendaklah sesuai dengan keadaan dan kemampuan. Seringnya, sih, ibu saya memakai peribahasa ini untuk menasihati saya dalam soal berbelanja, hehehe. Lagi-lagi, ketika sudah sekian tahun menjadi orangtua, saya baru memahami manfaat dari kata-kata dan tindakan orangtua saya dahulu. Ternyata nasehat ini pas banget untuk reality check.

Misalnya saja, seperti Om tadi, apa saya juga suka terlampau berlebihan menilai kemampuan anak saya? Memang sih, manusiawi kalau sebagai orangtua kita suka susah bersikap objektif terhadap anak sendiri. Baik dalam kelebihan, maupun kekurangannya.

Bagi orang lain, hal yang kita anggap sebagai kelebihan anak mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi kita, sangat membanggakan. Begitupun kekurangannya; orang lain mungkin beranggapan kita tak perlu memusingkan hal yang menjadi kekurangan di diri anak, tapi bagi kita, bisa menjadi masalah besar.

Apa mungkin sudah menjadi ‘bawaan’ orangtua untuk memakai kaca pembesar setiap kali menilai anak sendiri, ya?

Dalam hal kemampuan anak, berhubung anak saya masih balita, yang menjadi concern masih seputar kemampuan kognitif dan motoriknya saja, memang.

Tapi, apakah saya bisa menilai bakat atau kemampuan anak saya dengan adil?

Misalnya, saat anak-anak lain sudah jago berenang sementara anak saya masih takut menyemplungkan kepalanya ke kolam, apa saya akan tergoda untuk memaksanya masuk ke kolam renang?

Atau ketika anak laki-laki lain hobi bermain bola sementara anak saya memilih duduk tenang crafting, apa saya akan tetap menyodorkan bola kaki padanya?

Ketika anak-anak lain seusianya sudah lancar membaca sementara ia belum, apa saya akan parno dan men-drill-nya dengan berbagai metode instan?

Kalau seperti itu, apakah kira-kira saya akan bisa menemukenali bakat dan ketertarikan sejati anak?

Kalau saya kerap membandingkannya dengan anak lain, apakah itu adil baginya? Don’t we need to see our child as a whole individual, dengan keunikan dan kondisinya masing-masing?

Selain itu, apakah keinginan saya untuknya itu murni karena kepedulian saya terhadap dirinya, atau saya hanya tidak ingin dipandang sebelah mata oleh ibu-ibu lain?

Nah, jleb deh, yang ini. Apalagi yang harus kita cek? Lihat di halaman selanjutnya, ya.


Post Comment