Mertua

“Mudah-mudah kalau gue jadi mertua nanti, nggak bakal galak banget sampe jadi  inspirasi kayak nama sambel ini”.

Kalimat di atas ini merupakan caption foto Sambal Mertua yang diposting Mbak Ira di Instagramnya. Waktu baca, saya pun  jadi mesem-mesem sendiri. Yang terbersit dalam pikiran, “Benar juga, ya, kalau nanti status saya sudah nambah jadi seorang mertua, mudah-mudahan saja menantu saya nggak punya pikiran kalau saya ini horor.” :D

mother-in-law

Perjalanan saya menuju jadi ibu mertua sebenarnya masih panjaaaaaang banget. Lah, wong, jadi  istri saja baru mau masuk tahun ke-6. Anak, masih berusia 4,5 tahun. Tapi, lagi-lagi, lantaran baca caption Mbak Ira, saya jadi mikir, kelak akan seperti apa sosok saya saat menjadi ibu mertua? Cerewet? Galak? Banyak ngatur?

Bukannya apa-apa, sampai sekarang, saya masih sering mendengar banyak perseteruan yang terjadi antara ibu mertua dan menantunya. Biasanya, sih, persoalnya akan terjadi antara ibu mertua dengan menantu perempuannya.

Salah satu konflik menantu versus mertua ini saya dapatakan dari cerita salah satu teman yang merasa begitu sengsara karena tinggal satu atap dengan ibu mertuanya. Katanya, “Bener-bener makan hati, deh, Dis…. apa-apa ibu mertua gue ini mau ikut campur. Selain itu kayaknya apa yang gue lakuin selalu salah di mata mertua gue ini. Protes ke suami, percuma juga. Biar bagaimana, dia itukan ibunya yang harus tetap dihormati. Ah, serba salah!”

Jujur saja, waktu itu saya memang nggak bisa banyak memberikan ‘pencerahan’  atau nasihat untuknya.  Tapi paling nggak, dengan menjadi tong sampahnya saya berharap beban yang dirasakan teman saya ini bisa sedikit berkurang. Tapi menurut saya, perseteruan antara ibu mertua dan menantu perempuan bisa terjadi tentu ada sebabnya. Ibaratnya nggak akan ada asap kalau nggak ada api.

Saya memang nggak bisa banyak kasih komentar lantaran pengalaman saya dengan ibu mertua memang bisa dibilang nol besar. Saya nggak pernah punya kesempatan untuk mengenal perempuan hebat yang melahirkan dan membesarkan pria yang kini menjadi imam saya karena  ibu mertua sudah menghadapNya jauh sebelum saya mengenal suami. Beruntung, saya masih diberikan kesempatan untuk mengenal dekat dengan bapak mertua saya. Dan alhamdulillahnya, hubungan kami terbilang dekat.

Mungkin yang diperlukan untuk menghindari cekcok dengan ibu mertua nggak hanya sebatas pikiran postif saja. Tapi lebih pada rasa peka dan menyadari adanya fakta bahwa pasangan kita merupakan sosok penting dalam kehidupan ibu mertua yang telah membesarkannya. Jika memang pasangan memiliki perhatian yang begitu besar untuk orangtuanya, bukankah hal ini juga sekaligus bisa mengajarkan anak-anak  kita untuk berbakti dan terus mengasihi orangtua?

Dalam hal ini, tentu termasuk peka dalam hal lainnya. Misalnya ketika mertua melakukan pekerjaan rumah tangga, masak misalnya. Nggak ada salahnya untuk ikut bantu walaupun mungkin kita nggak bisa masak. Toh, bantuan yang kita berikan bisa dalam bentuk lain seperti mencuci piring. Soalnya, setau saya konflik dengan mertua sering muncul karena hal sepele.

Walaupun proses saya menjadi ibu mertua masih sangat panjang, tapi rasanya saya cukup paham kalau seorang ibu merasa sangat berat ketika harus merelakan anaknya menikah. Setelah sekian lama bersama, mulai dari dalam kandungan, menyusui, hingga membesarkan anaknya, rasanya sangat wajar jika seorang ibu merasa khawatir jika perhatian atau kasih anaknya akan terbagi.

Tapi sesugguhnya, saya pun yakin, bahwa cinta seorang anak terhadap orangtua tetap memiliki porsi khusus, yang sulit dibandingkan dengan porsi terhadap pasangannya. Dan mudah-mudahan saja, kelak ketika Bumi sudah menikah, porsi cintanya ke saya juga nggak akan berubah. Amiin….

 

 

 


Post Comment