Motherhood Monday: Rahayuningsih Hoed, “Memasak Adalah Bukti Sayang”

Kalau ditanya makanan favorit saya apa, saya selalu menjawab “Masakan ibu saya”. Siapa yang punya jawaban yang sama dengan saya?

Walaupun belum keliling dunia, tapi saya lumayan sering mencicipi makanan dari berbagai lokasi. Seenak-enaknya steak, masih lebih enak sayur asem bikinan mama saya. Seenak-enaknya pasta carbonara, lebih enak sambal terasi bikinan mama saya. *ini mah kayanya karena lidah kampung, ya?*, hahaha.

Anyway, saya yakin, setiap anak pasti mengakui bahwa di setiap masakan ibunya ada rasa khas  yang tak bisa  dimiliki menu makanan yang dimasak oleh chef sekelas Jamie Olivier sekalipun. Apa lagi kalau bukan rasa cinta dan kasih sayang?

IMG-20141106-WA0009Berbicara tentang ini, saya jadi mau berbagi cerita pertemuan saya dengan Ibu Rahayuningsih Hoed di restoran Patheya miliknya di Jl. Kemang Utara Raya no. 22, Jakarta Selatan. Ibu Yayuk, demikian ia disapa, adalah seorang perempuan bekerja dengan karir cemerlang di bidang hukum.

Menjadi pengacara yang memiliki jam kerja panjang, tak membuat ibu dari Anto Hoed ini melupakan statusnya sebagai ibu dan hobinya memasak. “Memasak buat saya merupakan bukti kasih dan perhatiannya kepada keluarga  dan teman-teman”. Ya, selain hobi masak, Ibu Yayuk juga hobi menjamu orang lain. “Kalau saya yang bikin pesta, pasti teman-teman nggak akan melewatkan. Soalnya dikenal dengan makanannya dijamin enak! Haha”, tuturnya.

Atas desakan teman dan kerabat, Ibu Yayuk kini membuka restoran. Teman-temannya beralasa, agar masakan Ibu Yayuk bisa dinikmati setiap saat, tak hanya kalau sedang mengadakan pesta saja! Beberapa bulan lalu, Patheya yang menyediakan masakan khas Asia dan Eropa ini pun dibuka. Tak sekedar restoran yang menyajikan makanan, tapi juga jadi tempat nongkrong anak-anak dan kerabatnya. “Ya kan, jadi mereka kalo ngumpul nggak harus di tempat orang. Di sini malah enak, makanannya juga masakan saya”. Selain itu, Ibu Yayuk juga kerap memenuhi permintaan tamu untuk memasak makanan yang tak ada di menu, “Misalnya nih, yang lagi pertemuan orang-orang Batak, nah mereka biasanya minta sediain makanan khas Sumatera Utara”.

Karena itulah, Ibu Yayuk berusaha membuat Patheya senyaman mungkin. Bentuknya yang seperti rumah, lengkap dengan kolam renang dan kamar tidur sengaja dipertahankan. Waktu saya kemarin memasuki Patheya, saya langsung ngebatin “Feels like home” *tsah, padahal rumahnya nggak punya kolam renang*, maksudnya auranya akrab sekali. Nggak heran, tamu yang datang ke sini pun betah. “Itu, teman-temannya Anto sama Melly (Goeslaw- red) kalau nongkrong di sini suka sampai jam 1, jam 2”, ungkap perempuan ramah ini.

joglo_patheya*Gambar dari sini

Urusan makanan, Ibu Yayuk nggak main-main. “Hampir 20 lebih koki saya tes dan seleksi sendiri. Saya tidak hanya menilai rasa masakannya dan penyajiannya tetapi juga perilakunya di dapur. Saya ingin bagi mereka memasak bukan hanya sekedar kewajiban atau pekerjaan, tetapi juga ada kecintaan atau passion untuk menyajikan makanan-makanan yang bermutu, sehat, dan membahagiakan”. Nggak jarang Ibu Yayuk turun sendiri ke dapur. Dan kalau restoran lain membanggakan chef internasional, Ibu Yayuk malah memilih koki asli Indonesia.

Demikian juga dengan pemilihan karyawan. “Saya kerjasama dengan RT di sini lho, jadi karyawan-karyawan Patheya kebanyakan ya orang-orang belakang (restoran)”. Tak hanya ingin memberdayakan lingkungan, Ibu Yayuk juga tak ingin sukses sendiri. Semua karyawannya diberikan kursus Bahasa Inggris serta komputer dasar. Tak jarang, mereka diberikan juga keterampilan dasar di bidang kuliner, misalnya cara memotong daging yang benar, memilih sayuran yang segar, dan seterusnya. “Saya suka kasih tau ke karyawan, kalo ngadain pesta yang makanannya para tamu nggak harus bayar aja, saya pilih yang terbaik. Apalagi di sini kan tamunya bayar”.

sop_buntut_patheya*Gambar dari sini

Saya melihat sosok Ibu Yayuk ini seperti ibu-ibu pada umumnya. Ingin memberikan yang terbaik terutama untuk tamu. “Pernah lho, ada komunitas motor mau ngumpul di sini, tapi mereka bilang budget-nya nggak cukup (dengan harga makanan Patheya). Saya bilang, gampang deh, nggak usah mikir budget. Akhirnya, si komunitas motor ini jadi ngumpul di Patheya dengan menu yang disesuaikan dengan budget. Yang ada malah saya lagi masak di rumah keingetan anak-anak muda ini, terus hasil masakan saya di rumah saya bawa ke restoran buat nambahin makanan anak-anak itu, hahaha”.

Btw, saya sudah mencoba makanan di Patheya dan menurut saya enak!  Rasanya akrab di lidah, mungkin karena yang memasak melakukannya dengan hati kali ya? :)

 The kitchen, is the heart of a home

 *thumbnail dari sini


Post Comment