Suamiku, Sepatuku

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan

Pertama kali dengar lagunya Tulus ini, saya langsung jatuh cinta. Bahkan sampai sekarang, lagu ini jadi play list wajib yang harus saya denger setiap hari. Sehari aja, nggak denger…. lantas kangen.  Sama kangennya kalau nggak ketemu mantan pacar, hahahaha…

Awalnya, saya sempat butuh waktu untuk mencerna lirik lagu Tulus yang satu ini. Apa iya pasangan kita (baca : suami) memang bisa diibaratkan seperti sepatu? Hingga pada suatu hari ada salah satu teman saya yang kebetulan penggemar lagu-lagunya Tulus, nyeletuk, “Memang benar, kok, kalau suami itu seperti sepatu. Maksudnya, singkatan dari, sejalan sampai tua,” ujarnya sambil tertawa.

Love-Is-In-My-Dancing-Shoes

Mendengar perkataan teman saya ini jelas bikin tersenyum, dan tentunya sekaligus mengamiini. Ya, setelah menikah dan punya suami, perempuan mana sih yang nggak berdoa kalau hubungannya rumah tangganya langgeng sampai tua? 100% jawabannya pasti seperti itu. Kalaupun ada perbedaan yang bikin kita bertengkar, ya wajar saja. Namanya juga dua pribadi yang disatukan. 

Memasuki pernikahan tahun ke-6, saya pun sudah cukup banyak nemuin masalah dalam rumah tangga. Mulai dari masalah komunikasi, nggak kompak dalam mengasuh Bumi, salah paham soal finansial, bahkan ada masanya kami cek cok soal hubungan intim di mana yang satu mau, tapi yang satunya lagi ‘dingin’ :D . Tapi dengan bayaknya masalah yang kami temui, jadi ajang pembelajaran sehingga kami bisa sama-sama belajar untuk menghindari pemicu pertengkaran

Biar gimana, hubungan suami istri itu kan nggak melulu diwarnai kemesraan. Ada masanya kemesraan itu jadi meredup karena pertengkaran. Semua tergantung bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikan perbedaan tersebut.

Balik lagi ke soal sepatu,  kalau boleh diibaratkan mungkin sepasang sepatu memang bisa jadikan salah satu contoh yang baik buat kita yang sudah memiliki pasangan. Kenapa, ya?


Post Comment