21 Hari Tanpa Ayah

Karena disiapkan agar menjadi anak yang tidak manja, saya jadi iri melihat teman-teman yang dimanja oleh orang tuanya. Manjanya yang model, kalau ban mobil pecah, tinggal telpon, nanti bantuan datang. Atau fasilitas mobil terkadang lengkap dengan supir untuk antar jemput sekolah maupun les, iri karena saya ‘dipaksa’ naik kendaraan umum, hahahahaa, ngeselin, ya? Well, pokoknya saya suka iri, deh, dengan fasilitas hidup yang menurut pandangan bisa saya dapatkan tapi kenyataannya nggak ada. Nah, jadilah saya berdoa kepada sang empunya hidup, “Ya Allah, kalau saya nanti punya suami, tolong kasih saya suami yang manjain gitu, ya. Janji, deh, manja sama suami aja. Kalau suami nggak available, ya, saya nggak akan sok manja dan nyusahin diri sendiri.. aamiin!”

Doa terkabul. Walau sudah bersama selama 8 tahun dan (merasa) tahu bagaimana kepribadian si pacar, tapi pas menikah terjadi perubahan dalam hidup. Suami manjain saya banget! (Ya namapun ‘doa minta suami’ ya, bukan ‘minta pacar’ yang manjain hihii) Salah satunya adalah pengorbanan jemput dari kantornya yang ada di daerah Blok M ke kantor saya di daerah Thamrin, padahal saat itu kami tinggal di Kemang, artinya melawan arah, kan? Atau pas saya sudah pindah kerja ke Kebon Sirih, dan dapat jadwal siaran pagi dari pukul 6 pagi, dirinya yang sulit bangun pagi pun rela nganterin setiap Senin sampai Jumat setelah salat Subuh. Dan nggak bisa dilarang! Hahaha, ciee banget, ya?

Tanpa disadari, kebiasaan memanjakan saya ini berakibat buruk, loh. Saya bisa jadi uring-uringan nggak jelas kalau suami ada kerjaan keluar kota. Pokoknya, saya jadi istri yang menyebalkan setiap suami harus pergi meninggalkan saya lebih dari dua malam.

husband_businesstrip*Gambar dari sini

Sejak melahirkan, terlihat suami saya tidak pernah lagi pergi keluar kota. Memang sebetulnya suami mendapat promosi jabatan dan tidak mengharuskan lagi dirinya in-charge ketika ada event di luar kota. Tapi saya kasihan, dirinya seperti kehilangan separuh jiwanya. Suami saya bukan tipe pekerja yang diam duduk di belakang meja. Jadi terbayang, kan, bagaimana jenuhnya suami selama tiga tahun ini? *puk puk puk* Hingga akhirnya pertengahan Agustus lalu, suami saya mengabarkan kalau dirinya akan berangkat ke Sumatera.

“Berapa hari?” tanya saya, masih kalem karena berpikir paling hanya pergi selama 2-3 hari. *hitungan kalau ada event weekend, berangkat Jumat, pulang Minggu*

“Tiga mingguan. Berangkat tanggal 18 Agustus, pulang tanggal 7 September.”

Saya bengong.

Apa?! Tiga minggu?! Mendadak pusing! Yang terbayang pertama kali adalah peliknya hidup saya nanti selama tiga minggu kalau Menik terbangun dan minta makan atau main tengah malam. Haduh, selama ini suami saya yang akan back up kalau saya sudah kehabisan energi menjaga Menik. Lah, kalau partnernya nggak ada, bagaimana nasibku?

Jadi bagaimana nasib saya dan Menik?Lihat di halaman selanjutnya ya.


One Comment - Write a Comment

  1. pas banget nih! pagi ini ditinggal suami tugas keluar kota, berapa lama? TIGA HARI AJA. hari ini (dan dua hari ke depan) berangkat kerja sendiri, biasanya selalu bareng. nanti pulang kantor juga sendiri, biasanya dijemput. istri manja ini sungguh kehilangaaaaaan. drama.

Post Comment