Berbahagia Dengan Pilihan Sendiri

Jauh sebelum saya menikah, Mama saya selalu berpesan supaya saya terus bekerja setelah menikah nanti. Katanya, “Rasanya nggak enak, Dis, kalau nggak kerja dan punya uang sendiri. Apalagi kalau sampai suami akhirnya ungkit-ungkit masalah ini. Duh, jangan sampai deh, ngerasain hal yang seperti itu. Jadi perempuan sebaiknya bekerja,”. Senada dengan Mama, kedua kakak perempuan saya juga pernah menyampaikan hal serupa.

mom_work

Seandainya Mama ataupun kedua kakak saya nggak pernah kasih pesan seperti itu, sebenarnya saya juga tetap memutuskan untuk bekerja walaupun sudah menikah dan punya anak. Bukannya apa-apa, saya ini memang pada dasarnya bukan tipe perempuan rumahan. Jadi, kalau berbulan-bulan nggak punya aktivitas, ya, bakal stres sendiri. Paling tidak, harus punya kerjaan sambilan atau menjadi freelancer seperti yang saya lakukan tidak lama setelah memiliki Bumi.

Yang pasti, di sini saya nggak mau meperdebatkan persoalan ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang sudah basi :D Toh pada dasarnya, apapun profesinya, ibu ya tetap saja ibu. Titik. Hanya saja, ketika ngobrol panjang lebar dengan Maharani Ardi Putri MSi. Psi, saya tambah yakin kalau sebenarnya menjadi Ibu pekerja bukanlah sebuah pilihan yang salah.

Waktu itu, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila ini bilang, “Ketika kita sudah menjadi perempuan dewasa, kita sepenuhnya harus bisa hidup tanpa tergantung pada orang lain. Tidak dengan orangtua kita, saudara, ataupun suami kita. Karena sebagai manusia dewasa, ada kalanya kita hidup seorang diri, ada kalanya kita harus membuat keputusan sendiri, yang memang tidak bisa tergantung dengan orang lain. Manusia dewasa harus bisa mandiri, sehingga kalau kita berada dalam posisi yang kurang menguntungkan kita juga bisa berpikir secara mandiri dan objektif.”

Bahkan katanya, ketika hubungan kita harmonis sekalipun, sebagai manusia dan perempuan dewasa kita harus sudah bisa bersiap diri kalau ada hal-hal yang harus kita bersikap mandiri. Biar bagaimana pun, kita kan juga nggak tau ke depannya seperti apa. Termasuk dengan datangnya musibah. “Kondisi seperti inilah yang membuat kita harus bersikap matang dan mandiri,” tukas psikolog yang aktif di Yayasan Pulih.

Maka saya pun memutuskan untuk tidak merasa bersalah ketika harus meninggalkan Bumi untuk berkerja. Seperti yang Gina tulis, cinta juga berarti kerja. Lagipula pekerjaan sekarang yang waktunya sangat fleksibel ini memudahkan saya mengatur waktu bersama Bumi. Bahkan dia sering menemani saya kerja. Paling nggak, dengan memilih untuk terus berkerja saya merasa jadi manusia bahagia dan lebih ‘hidup’. Bukankah, anak yang bahagia lahir dari ibu yang bahagia?

 

 

 


Post Comment