“Bu, Aku Dikatain Jelek..”

Bagaimana kalau anak Mommies ‘laporan’ hal tersebut? Reaksinya kira-kira gimana? Marah, sedih, kesel, atau mau nampol orangtua itu anak? *jangan anaknya ya, anak kan produk tiruan*.

JpegBeberapa waktu lalu, hati saya dongkol pas dengar Langit cerita hal tersebut. Saat kami ber-pillow talk sebelum tidur, kami selalu ngobrol dan sharing tentang hari masing-masing. Saya menceritakan kegiatan dan perasaan saya di hari itu, Langit juga.

Sampai pada momen, “Hari ini aku sedih deh, Bu. Ada yang ngatain aku jelek”.  Deg. Reaksi pertama dari belahan hati sebelah kiri, “Siapa yang ngomong gitu? Kaya dia cakep aja!?”, hehe. Tapi yang keluar, “Siapa yang ngomong gitu? Kok bisa ya?”, sambil mikir gimana ya cara ngajarin Langit menghadapi ini.

Terbersit sih keinginan supaya Langit bisa membalas ejekan tersebut, secara saya ini orangnya suka sinis, hehe. Tapi untuk saat ini sepertinya tidak dulu :D

Sebagai orangtua, sadar nggak sadar kita pasti menganggap anak kita yang paling segala-galanya. Paling pintar, paling cantik, paling keren, paling top lah pokoknya! Atau kalau ada anak lain yang melebihi anak kita, pasti kita bakal mencari kelebihan anak kita. Bahkan untuk saya yang kenyang makan seminar parenting, masih ada kok perasaan seperti itu. Tapi dalam kasus ini, bukan masalah anak saya dibilang jeleknya, hanya saja, saya takjub kalau mendengar anak-anak sudah bisa ngatain anak lain. Karena, seingat saya, sekesal-kesalnya Langit pada temannya, belum pernah saya mendengar dia ngatain orang lain sih.

Eh, kok saya jadi ngebelain anak sendiri, nih, hehe.

Intinya, wajar sekali ya kalau kita sebagai orangtua marah atau kesal saat anak kita diejek oleh anak lain. Tapi, di era sekarang ini, di mana kita sebagai orangtua wajib mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang positif ke anak, rasanya jadi sulit sekali untuk mengajarkan anak untuk fight back. Serba salah, gitu. Kalau diajarkan untuk fight, kok sepertinya kita ngajarin rasa dendam? Kalau diajarin untuk diam saja, nanti yang ada anak malah jadi bahan bulan-bulanan. Ah, serba salah!

Yang pertama saya lakukan adalah, menyelamatkan hatinya yang terluka. Tapi bukan berarti kemudian saya memanggilnya dengan “Si Cantik” atau hal semacam itu, lho. Lebih kepada mengenal dirinya sendiri. Saya tanyakan pada Langit, “Menurut kamu, kamu cantik apa jelek?”. Setelah itu, saya fokuskan Langit ke hal lain yang bukan hanya soal fisik. Misalnya, ke hasil gambar, bernyanyi, berenang, dan seterusnya.

Langkah ke dua, cari sumber masalahnya. Bagaimana? Cek di halaman berikutnya ya.


11 Comments - Write a Comment

  1. Duh, karena gue tipe orang yang meletup-letup, gue takut, deh, kalau nanti ngadepin situasi begini. Mobil nyalip aja, gue teriakin, gimana anak gueee? T_T

    Lit, Langit berapa lama ngerasa sakit hatinya? Sedih, bacanya, deh!

Post Comment