Kantor Ramah Ayah

Ketika awal menyusui Lanang dulu, saya aktif ikut beberapa forum ibu, baca cerita ibu menyusui, dan tentang penggalakan kantor ramah ibu. Kantor ramah ibu adalah kantor yang menyediakan fasilitas khusus untuk para ibu yang menyusui, contohnya menyediakan ruang laktasi, untuk ruang memompa ASI, yang di dalamnya dibuat senyaman mungkin dan disediakan kulkas untuk menyimpan ASI perah. Ada juga kantor yang sampai menyediakan daycare, sebagai tempat penitipan anak selama ibu bekerja, sehingga anak masih dalam jangkauan yang dekat.

Di era gembar-gembornya emansipasi, para perempuanpun memperjuangkan hak dasarnya sebagai ibu, memberikan yang terbaik untuk anak, yaitu ASI dan perhatian yang sesering mungkin.

Bagaimana dengan kantor ramah ayah?

working-dad*Gambar dari sini

Ketika saya melempar isu ini di Twitter, salah satu teman ada yang menjawab dengan sudah banyak kantor yang menyediakan fasilitas bersenang-senang untuk ayah, misal ruang olahraga dan ruang merokok.

Dan tentu saja bukan ini jawaban yang saya inginkan.

Saya ingin adanya persamaan antara kantor ramah ibu dan kantor ramah ayah. Ketika kantor ramah ibu berlomba-lomba menyediakan fasilitas untuk menunjang perannya di rumah, maka kantor ramah ayah seharusnya juga menunjang peran ayah di rumah, sehingga kantor ramah ayah bukan hanya menyediakan tempat bersenang-senang untuk para ayah.

Peran ayah, seperti sudah sering dibahas, bukan hanya sebagai karyawan lho. Dia juga berperan sebagai orangtua bagi anak-anaknya. Maka kehadirannya di rumah juga diperlukan. Kalau ada pembagian tugas ayah yang bekerja dan ibu yang mengasuh anak, maka akan terjadi sedikit ketimpangan. Padahal orangtua anak yang lengkap itu ada dua lho, ayah dan ibu. Maka kehadiran keduanya di rumah untuk melakukan pengasuhan yang baik sangat dibutuhkan.

Jadi menurut saya, kantor ramah ayah adalah, kantor yang mempunyai waktu kerja yang wajar, kalau 8 jam ya 8 jam saja, ga usah lebih. Kalau ada beberapa yang lembur sampai lebih dari 8 jam, mungkin kesalahan orang tersebut kurang memaksimalkan waktu bekerja, tapi kalau semua orang di kantor itu kerjanya bisa 12 jam lebih, maka kalau saya sih, menyalahkan kantornya.

Lalu, kalau ada yang berkata, “Kan si ayah bisa pindah ke kantor lain?”, maka kenapa pertanyaan yang sama saya tujukan kepada ibu, kenapa ga berhenti kerja aja buat menyusui bayi langsung di rumah?.

Saya jadi bertanya-tanya, sejak kapan kerja pagi sampe larut malam ini berlaku?

Orang pertama yang saya tahu jam kerjanya adalah ayah saya sendiri. Dari jam 6 pagi sampe jam 2 siang ia di kantor, sore harinya bisa menyapu halaman dan bermain semprot-semprot air bersama saya, setelah maghrib bisa makan malam bersama keluarga, setelah itu masih bisa membantu mengerjakan PR, meski terkadang harus kembali ke kantor untuk lembur.

Kemudian di lingkungan tempat saya tinggal, bapak-bapak masih banyak yang salat Maghrib di musholla, masih banyak yang ikut tahlilan setelah maghrib kalau ada yang meninggal, dan masih banyak yang ikut pengajian setiap Rabu malam.

Kalau semua ayah pada akhirnya harus pulang kerja jam 12 malam, lalu siapa yang masih bisa makan malam dengan susunan keluarga yang lengkap, siapa yang menemani belajar anak-anaknya, siapa yang akan memenuhi musholla, siapa yang akan baca tahlil tujuh hari, siapa yang menjadi imam salat di keluarganya?

Kenapa para ayah itu tidak menuntut kantor ramah ayah? Kenapa mereka tidak mau merebut kembali haknya untuk melakukan kewajibannya sebagai ayah di rumah? Mungkin para ayah ada yang mau menjawab? Atau Mommies ada yang suaminya beruntung bekerja di lingkungan ramah ayah?


One Comment - Write a Comment

  1. ahh bruntunglah yg kantornya ramah ibu, apalagi ayah.
    kantor saya sayangnya nggak kedua2nya. Gak ada fasilitas ruang menyusui apalagi daycare, bahkan mutasi ke luar daerah pun dilakukan tanpa notice sebelumnya sehingga gak ada psiapan buat para ibu yg dimutasi untuk membawa keluarga, terutama anak-anaknya *sigh* padahal kantor saya ini termasuk BUMN besar loh

Post Comment