Jadi Mandiri, Siapa Berani?

Pernah nggak, sih, Mommies terhenyak setelah melihat angka cicilan rumah? Saya pernah! Setiap kali me-review cashflow, saya mengkhayal, kapan, yaa, cicilan rumah bisa lunas? Pasti akan indah dan sentosa rasanya, hihihi. Memang, sih, mencicil rumah itu tanggung jawab yang kadang terasa menyesakkan dada. Tapi, tentunya saya tetap perlu mensyukuri, bahwa meski masih dicicil, kami punya tempat untuk disebut rumah.

Kalau saya kenang kembali perjalanan kami mencari rumah, memang, ada kesan ‘maksa’ saat membeli rumah sendiri. Untuk rumah pertama, uang mukanya saja kami pinjam dari orangtua. Cicilan rumah juga menempati porsi yang besar dalam cashflow kami. Tapi, sebenarnya ‘maksa’ itu bukan untuk gaya-gayaan, dan bukan karena ikut-ikutan orang lain. Semangat yang membara untuk punya rumah sendiri itu dikobarkan oleh sejarah “pertempattinggalan” saya dan suami.

DreamHomeDulu, ketika sedang menyiapkan pernikahan, ibu bilang pada saya dan suami, “Nanti kalian tinggal di rumah mama aja yang di X (deket rumah ibu). Nggak usah pusing. Kalian boleh, kok, pakai rumah itu… Tapi minjem, yaaa. Tiga sampai lima tahunlah. Nanti kalau adikmu mau nikah, kalian harus siap-siap gantian.”

Kesannya ibu saya tega sekali, yah? Tapi saat didengar langsung, perkataannya itu tidak membuat kami kaget atau kecewa. Suami, being the good son-in-law that he is, serta-merta menjawab, “Iya, mah.” Sementara reaksi saya, “Iyalaaah, siapa juga yang mau tinggal di situ lama-lama…” Hahaha.

Syukurlah, setelah hampir dua tahun menikah, kami bisa juga punya tempat tinggal sendiri. Sebenarnya, sih, rumah bekas, kecil, dicicil pula, but it’s our very own place. :) Pengalaman ngebet punya rumah sendiri (dan kisah sedih membayar cicilannya) membuat saya memikirkan kembali tindakan ibu saya waktu itu. I think she totally deserves a credit. Beliau memfasilitasi kenyamanan kami, tapi juga mengajarkan kami untuk tetap mandiri. Yang beliau lakukan menimbulkan efek tumbuhnya harga diri dan kepercayaan diri pada kami, sehingga kami punya target untuk memiliki rumah. Dan mungkin cara paling bermanfaat untuk mewujudkan rasa terima kasih itu adalah dengan meneruskan ajaran tentang kemandirian kepada anak kami.

Saat orangtua ditanya apa keinginannya buat anak, “mandiri” pasti menjadi salah satu atribut karakter yang disertakan, bukan? Kemandirian seperti apa yang dimaksud? Lihat di halaman selanjutnya.


Post Comment