Memilih Daycare Yang Aman Untuk Anak

daycare*Gambar dari sini

Seperti saya ceritakan di sini, Bumy pernah saya titipkan di daycare ketika berusia sekitar 3 tahun. Saat itu, daycare menjadi pilihan yang nyaman dan lebih terpercaya untuk bagi kami untuk menjadi sarana pengasuhan anak selama saya bekerja. Nyaman, karena kami tidak perlu menunggu lama untuk bertemu anak sesudah bekerja, mengingat waktu tempuh perjalanan yang cukup lama dari kantor ke tempat tinggal dan sebaliknya. Daycare juga lebih terpercaya bagi kami, karena anak tidak ditinggal sendirian saja bersama pengasuh di rumah; ada fungsi kontrol sosial yang lebih baik karena berada di ranah publik, dan juga ada sesi kreatif yang membuat anak terstimulasi.

Alasan yang sama tentu mendasari banyak orangtua lain yang juga menitipkan anak ke daycare sehari-harinya. Hal ini menjadi faktor yang mendasari semakin menjamurnya daycare atau tempat penitipan anak (TPA) tidak hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota satelit maupun daerah.

Tapi, baru-baru ini, jagad orangtua digegerkan oleh kasus dugaan penganiayaan anak di sebuah daycare di Jakarta. Saya bayangkan, orangtua yang sehari-harinya menitipkan anak di daycare pasti kebat-kebit. Padahal, daycare sudah menjadi tempat yang dipercaya untuk menjaga dan mengasuh anak selama orangtua bekerja. Tapi kepercayaan tersebut seolah perlu dipertanyakan akibat kejadian yang muncul ke permukaan ini.

Menurut saya, reaksi tersebut sangatlah bisa dimengerti. Kekerasan terhadap anak tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun, terlebih dalam kasus ini, kekerasan itu diduga dilakukan oleh pihak yang menyediakan jasa mengasuh dan menjaga anak-anak.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan memfasilitasi kebijakan pendirian tempat penitipan anak melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional. Dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa pembinaan PAUD baik formal, nonformal, maupun informal, berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI), yang secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini.
Namun, dari beberapa berita yang saya baca terkait kasus dugaan kekerasan tersebut, pengawasan pemerintah terhadap daycare secara administrasi dan operasional, maupun terhadap kualifikasi tenaga pengasuh masih sangat lemah.

Oleh karena itu, menurut saya, memang sudah semestinya  orangtua lebih waspada dan juga kritis terhadap penyedia jasa daycare yang dipilih dan layanannya. Selain misalnya memilih daycare yang memiliki sertifikasi dari Dirjen Pendidikan Anak usia Dini Kementerian Pendidikan, ada hal-hal lain dapat kita jadikan acuan saat akan memilih daycare atau malah jika ingin me-review seaman apa daycare yang sudah dipilih.

Bagaimana memilih daycare yang tepat? Lihat di halaman selanjutnya, ya.


Post Comment