Anak Bukan Asbak!

Masih ingat nggak dengan pemberitaan soal Aldi, anak balita asal Sumatra yang doyan ngerokok? Di usianya yang begitu belia, 2 tahun, Aldi sudah bisa menghabiskan 40 batang rokok dalam sehari. Waktu mendengar dan mengetahui kondisi ini dari berbagai media, jelas saya miris. Apalagi waktu itu media internasional ikut mem-blow up pemberitaan.

Sebagai masyarakat Indonesia, jelas saya ikut merasa malu dengan pemberitaan ini. Tapi seenggaknya peristiwa tersebut bisa ‘menyentil’ sekaligus mengingatkan kita bahwa kasus Aldi ini bisa dibilang salah satu potret kondisi masyarakat Indonesia. Bahwa, saat ini banyak sekali anak-anak yang sudah mengenal rokok.

Faktanya, walaupun sudah tau kalau merokok itu berbahaya, jumlah perokok aktif di kalangan generasi muda Indonesia semakin meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan prevalensi perokok berusia di atas 15 tahun sebesar 36,3 persen. Sebagian besar dari mereka adalah perokok laki-laki dengan prevalensi 64,9 persen dan jumlah itu merupakan yang terbesar di dunia. Sementara itu, prevalensi perokok perempuan mengalami peningkatan dari 5,2 persen pada 2007 menjadi 6,9 persen pada 2013.

atop_smoking

Parahnya, 20,3% anak sekolah usia 13 sampai 15 tahun sudah merokok. Yang paling menyedihkan, kebanyakan remaja yang merokok ini melihat contoh buruk dari orangtuanya. Di mana angka menunjukan 72,4% remaja tersebut punya orangtua yang merokok. Saya sendiri baru mengetahui fakta dan data ketika mengikuti peluncuran kampanye nasional media masa anti tembakau bertema Berhenti Menikmati Rokok Sebelum Rokok Menikmati Anda yang digagas oleh Kementerian Kesehatan RI – World Lung Foundation (WLF).

Sebagai orangtua dari bocah laki-laki jelas saya miris. Jadi, kebayang bagaimana kondisi Bumi jika beranjak dewasa nanti? Biar bagaimana, kita sebagai orangtua tentu nggak bisa mengawasi anak 100% dan memastikan kalau mereka tidak terpapar pengaruh buruk. Pengaruh ini tentu saja nggak cuma lewat teman dan lingkungan saja, bagaimana dengan paparan iklan rokok yang masih begitu bebas dan bisa dilihat di mana saja. Di sepanjang sudut jalan, di setiap kios yang jaraknya begitu dekat dengan sekolah, belum lagi dengan konser musik yang seringnya didukung oleh produk rokok. Hal ini tentu saja bisa mencerminkan kalau target pasar mereka adalah anak-anak remaja.

Nggak aneh rasanya kalau saat ini pihak pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah perokok. Khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Seperti yang diungkapkan Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan, segala macam cara dan celah perlu dilakukan untuk memperingati masyarakat.

“Salah satu tantangan yang harus kita sikapi bersama dalam pengendalian rokok adalah masih kuatnya iklan, promosi dan sponsor perusahaan rokok. Ini dilakukan secara masif dan intensif, dan tertuju pada anak-anak agar menjadi perokok pemula,” kata Nafsiah.

Dengan diluncurkannya kampanye “Berhenti Menikmati Rokok Sebelum Rokok Menikmatimu” lewat Iklan Layanan Masyarakat Korban Rokok ini, Nafsiah mengaku sangat optimistis kalau akan dapat mengurangi jumlah perokok, terutama perokok pemula. Soalnya, selain ditayangkan di ditayangkan di YouTube dan stasiun televisi nasional yakni ANTV, TRANS TV, Trans7, MNC TV, Metro TV, TV One dan Global TV, iklan ini juga akan diputar di bioskop. Oh, ya, penayangan kampanye ini juga selaras dengan #30HariTanpaRokok, inisiasi nasional berhenti merokok.

Yuk, Mommies kita ikut menyebarkan inisiasi nasional berhenti merokok ini. Paling nggak kita jadi ikut berupaya mencegah kelahiran Aldi-Aldi berikutnya! Biar bagaimana, anak-anak kita kan memang bukan asbak!

 


Post Comment