Mommy Recovery: Menghadapi Hari Yang Buruk

mom-had-a-bad-day*Gambar dari sini

Pernah mengalami hari yang buruk nggak Mommies?

Bangun kesiangan hingga anak telat ke sekolah, pas mau diajak mandi susahnya minta ampun, terburu-buru bikin sarapan, pas mau mengantar anak mobil atau motor nggak bisa distarter, begitu mau jalan, eh jalur yang biasa dilewati macetnya minta ampun, sampai sekolah ada tugas anak yang ketinggalan, di kantor deadline menanti, suami ribut cari barangnya yang hilang, si mbak di rumah minta pulang, arghh… pasti kepala rasanya mau pecah ya?

Saya pernah.

Yang terbaru adalah beberapa waktu lalu gadget yang baru saya beli 2 minggu terendam air (dont ask why and how, haha). Nggak lama kemudian 2 tv yang kami miliki di rumah mati kompakan. Lalu terakhir, ubin di lantai atas pecah karena kepanasan (diduga juga waktu pembangunan lantai atas adonan semennya nggak bagus).

Secara keuangan di keluarga yang kehidupannya biasa-biasa saja seperti keluarga kami, bagaimana bisa mengakomodir semuanya sekaligus?

Padahal saya harus segera membeli handphone baru, karena pekerjaan dan semua aktivitas kebanyakan didukung oleh smartphone. Lalu baru saja menyetorkan uang untuk ikut hari raya kurban. Ih, KZL BGT!

Menggunakan uang yang dimiliki saat itu, mungkin saja. Tapi semua kejadian tersebut berurutan di awal bulan. Sebulan ke depan, masih jauh perjalanannya. Apalagi saya nggak punya kartu kredit yang seharusnya mungkin bisa  saya gunakan untuk membeli gadget atau tv. (bukan berarti nggak bisa hidup tanpa TV, cuma saya mikir mbak di rumah, kalau saya dan suami kerja, terus Langit sekolah, pasti dia bakal bosan banget kan seharian? Nanti kalau dia minta pulang, siapa lagi yang repot?)

Mau marah,  marah sama siapa coba? Semuanya adalah hal yang tidak bisa diprediksi, kan?

Semua orang, menurut saya pasti pernah mengalami hari yang terasa buruk. Kalau nggak tahan banting, mungkin bisa stres, marah-marah melulu, atau nangis :D

Bagaimana dengan saya?

Ya kesel sudah pasti lah. Rasanya semua salah! Awalnya saya nggak mau kelihatan kesal di depan Langit. Tapi bagaimana mungkin? Saya juga baca di 24hourparenting, di mana salah satu poinnya adalah hal yang wajar jika orangtua menunjukkan emosinya di hadapan anak. Hal ini membuat anak paham bahwa orangtua mereka adalah manusia biasa yang bisa marah, sedih, kecewa, dan seterusnya.

Walau demikian, saya nggak mau berlarut-larut. Masa iya galau berkepanjangan gara-gara hal itu? Yang ada masalah nggak selesai, timbul masalah baru!

Ada beberapa hal yang bisa saya share untuk Mommies jika menghadapi hari yang buruk. Simak di halaman selanjutnya, ya!


4 Comments - Write a Comment

  1. Salah satu kuncian gue adalah berbaik sangka pada Allah SWT. Apalagi kalau cobaan datang berturut-turut.. Pokoknya percaya, abis kejadian buruk bakal ada kejadian baik :p Pede ya?

    Kadang juga berusaha untuk tertawa pada keadaan. Ini Rino jagonya, sih, bisa aja nemuin hal lucu diantara kesusahan yang dihadapin :’D

Post Comment