Tentang Menjadi Ayah

yayah1Dulu awal menikah, saya berkomitmen untuk pindah meninggalkan ibukota mengikuti suami ke Kalimantan, tempat suami bekerja. Berhubung sudah pacaran lama plus long distance relationship, saya sih nggak kuat kalau harus jauh-jauhan lagi. Jadi, saya pun siap dengan segala konsekuensi atas keputusan saya itu, termasuk soal jarang ke mal :p

Awal kehidupan pernikahan kami terasa biasa saja, karena kami merasa nggak ada yang berubah total, kecuali kini tinggal bersama dan bertemu setiap hari. Masa pacaran cukup jadi modal untuk mengenal satu sama lain, makanya nggak terlalu kaget. Kejutan justru banyak muncul setelah anak kami, Rasya, lahir.

Suami saya bukan tipe orang yang gampang mengekspresikan apa yang dirasa dan dipikirkannya. Maka kalau ada yang bertanya, “Bagaimana rasanya jadi ayah?”, jawabannya hanya “Biasa saja.” Namun, hal ini berbanding terbalik dengan sikap dan perilakunya.

Ia susah bangun pagi, tapi tangisan Rasya di pagi hari adalah alarm jitu yang bisa membangunkannya dari tidur. Ia juga dengan senang hati menjaga Rasya saat saya harus lembur bekerja kala weekend. Pulang dinas pun kopernya penuh oleh-oleh untuk Rasya. Setiap malam ia sukarela membereskan rumah yang berantakan oleh mainan Rasya, sementara saya sudah tidur bersama Rasya. Juga ketika ia merelakan diri ‘dimarahi’ Rasya yang terus menangis selama proses menyapih. Suami juga sering mengajak Rasya pergi berdua saja, boys’ day out katanya.

Maka, saya langsung brebes mili, terharu biru saat membaca ungkapan perasaan suami saat pertama kali bertemu dengan Rasya (dan ini baru ia tulis 1 tahun setelah Rasya lahir!).

“Selamat, ya, Pak. Anaknya laki-laki,” ujarnya sambil tersenyum.

Saya terdiam, otak ini seperti mengalami jeda bekerja untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memerintahkan seluruh bagian tubuh untuk bangkit dan menyambut anggota baru keluarga kami tersebut.

Akhirnya, kami bertemu untuk pertama kalinya. Saya menatapnya, dan ia memiliki fisik yang sempurna, tidak kurang satu apapun. Tuhan tampaknya masih sayang dengan kami, atau lebih tepatnya, Tuhan lebih sayang lagi dengan bayi kecil kami ini. Saya melanjutkan dengan memperkenalkan nama-Nya dengan suara lirih menahan segala gejolak emosi, melalui kedua kuping kecilnya. Beratnya 2,8 Kg dan panjangnya 46 cm.

Menjelang 4 tahun usia pernikahan kami, saya dan suami malah menjalani long distance marriage atau saya menyebutnya suami-istri Sabtu-Minggu. Keputusan ini diambil untuk memudahkan kami menjalani aktivitas di hari kerja. Rupanya kami sudah terlalu nyaman tinggal di kota kecil, sehingga kami berusaha menerapkan itu ketika pindah ke Jakarta: mencari tempat berteduh yang dekat ke lokasi kerja dan kuliah.

Meski janggal dan terasa kurang karena jarang kumpul bertiga, weekend justru jadi hari paling ditunggu. Saya dan suami seperti pacaran lagi, sementara Rasya juga bisa kelonan dengan sang ayah. Kalau dulu setiap ayahnya pulang Rasya biasa saja, kini ia semangat menyambut ayah saat baru datang. Saya juga langsung berbunga-bunga seperti diapelin pacar, hehehe. Episode ini membuat saya lebih menghargai waktu kumpul bertiga, maka kami harus membuatnya berkualitas, demi keluarga kecil kami dan Rasya.

Editor’s Letter Mommies Daily bulan ini menyadarkan saya bahwa kita harus memberikan tepuk tangan paling meriah pada para ayah atau suami. Di balik sedikit kecanggungan para suami menghadapi anak, mereka punya cara sendiri untuk memenangkan hati anak, cara yang pasti berbeda dengan cara ibu. Jadi, jika ingin suami lebih dekat dengan anak, maka tugas kita hanya satu: memberikan mereka waktu bersama, hanya ayah dan anak.


Post Comment