Suami Saya dan Suaminya Teman-Teman Saya

Pernah saya ceritakan serunya persahabatan satu dasawarsa antara saya dan teman-teman saya. Saya juga pernah ceritakan bahwa salah satu cara me-maintenance persahabatan kami melalui arisan tiap 6 bulan sekali. Nah, dari tiga kali pertemuan antara saya, teman-teman saya, suami-suaminya teman-teman saya, dan anak-anak mereka, maka saya mempunyai perspektif indah tentang suami-suami masa kini.

CYMERA_20140830_195608

Mari kita sebut mereka adalah para daddy (untuk suami saya dan suaminya teman-teman saya). Para daddy tidak ada yang pernah absen dari 3x pertemuan. Mereka meluangkan waktunya seharian full untuk nemenin istri-istrinya ngerumpi. Karena durasi arisan yang lama (kadang-kadang lupa waktu), maka selalu ada sesi mandi sore untuk anak-anak. Yap, para daddy dengan sigapnya menyiapkan segala peralatan mandi anak-anaknya. Para daddy sibuk mengawasi balitanya sambil sesama daddy ngerumpi seputar day care di komplek perumahan masing-masing. Nah, tapi urusan nyuapin balita yang butuh skill tingkat tinggi (alias kesabaran tiada terbatas) memang agak sulit tampaknya untuk didisposisikan pada para daddy. Oh iya, sebagian daddy malah ada yang bisa bikin menu makanan untuk arisan. Keren ya….

Untuk kami working mom, yang sebagian tanpa asisten rumah tangga, para daddy benar-benar merupakan partner dalam segala hal. Tidak ada pemilahan dalam urusan pengasuhan anak. Memandikan, mengganti popok, mengajak bermain, menidurkan, menceritakan dongeng dilakukan bersama. Siapa sempat, dia yang melakukan. Untuk urusan rumah, juga kami lakukan bersama sesuai kemampuan masing-masing tentunya. Memasak jadi kewajiban saya, tapi membersihkan toilet dan mengepel lantai jadi kewajiban suami saya. Selebihnya, mencuci piring dan mencuci pakaian jadi pekerjaan bersama. Kalau setrika baju? Ini rezekinya tempat laundry kiloan, hehe. Hasil ngobrol-ngobrol sama teman-teman saya pun serupa, urusan rumah di-share bersama antara suami-istri.

Berat memang bagi kami yang working mom untuk membagi waktu dan pikiran agar seimbang dan tetap waras. Namun, dengan dukungan dan partisipasi aktif para daddy semua bisa dijalani dan dilakukan. Tidak sempurna memang, tapi yang penting prioritas penting dapat terlaksana. Lagipula, bukankah memang seharusnya demikian? :)

 *thumbnail dari sini


Post Comment