9 Creepiest Things My Kids Have Ever Said

Beberapa waktu lalu, Lita pernah share link di Facebook tentang hal-hal menyeramkan yang pernah dikatakan seorang anak pada pengasuhnya. Pas baca, alih-alih merasa seram, saya justru senang karena seperti mendapat teman senasib, hahaha.

Sejak dulu, Rakata-Ranaka memang sering melihat 'hal-hal' yang tidak saya lihat. Sejak dulu, Rakata-Ranaka memang sering melihat ‘hal-hal’ yang tidak saya lihat.

Beberapa cerita di bawah ini baru secuil di antaranya :D

1. Saat usia Rakata 21 bulan, kami ke Ujung Kulon dan menginap di resort CB. Tidak lama setelah check in dan masuk kamar, Rakata asyik bermain di pojokan, bolak-balik ke depan-belakang rak TV. Saya pun bertanya, “Kamu lagi ngapain?”
Rakata menjawab, “Petak umpet. Ada harimau,” sambil tertawa-tawa mengejar ‘sesuatu’. Jangankan harimau, kucing pun tidak ada di area penginapan.

2. Saat keluarga adik saya main ke Semarang, kami mengajak mereka keliling area Kota Lama (semacam Kota Tua di Jakarta) di malam hari. Adik saya cerita, di satu jalan sepi, Rakata sempat bertanya kepadanya, “Paman, itu kenapa ada orang yang mukanya hancur?”

3. Sahabat saya baru pindah ke perumahan PE di daerah Cipayung, Jakarta. Saya mengajak Rakata-Ranaka ke rumahnya sejak siang. Sorenya, kami keluar sebentar untuk main di playground. Begitu kembali ke rumah dan sahabat saya membuka pintu depan, Rakata yang berdiri di teras langsung melihat ke arah kamar sambil bilang, “Fiuuuh… Udah nggak ada ‘badutnya’.”
Definisi badut di mata Rakata: muka putih dan mulut lebar berwarna merah.

4. Saat masih tinggal di Semarang, menjelang tengah malam, saya yang lagi di kamar mandi dikejutkan oleh Rakata yang terbangun dari tidurnya dan sudah menyusul saya ke depan kamar mandi. Rakata mengadu ada putih-putih tinggi besar di kamar tidur kami yang terbang ke atas menembus atap.

5. Di hari ke-2 menginap di hotel RA di Yogyakarta, Rakata sudah hapa letak kamar kami. Setelah pintu lift terbuka, dia langsung melesat. Berhubung posisi kamar cukup jauh dan sambil menggendong Ranaka, saya agak lama sampai. Dari ujung lorong yang temaram, saya mendengar Rakata—yang sudah di depan pintu kamar— bicara beberapa kalimat. Begitu sudah dekat, saya tanya, “Kamu tadi ngomong apa? Maaf Ibu nggak dengar.”
Rakata menoleh ke saya, “Eh, Ibu. Tadi ada anak kecil. Raka ngomong sama dia, bukan sama Ibu.” Padahal, saat itu hanya ada kami bertiga di lorong.

Sudah berapa? Oh baru 5, ya. Baca 4 cerita Rakata dan Ranaka yang lain di halaman berikutnya, ya!


5 Comments - Write a Comment

  1. Meelll!! Hahahaha, sama kayak Menik, nih. Kalo kata temen gue yang bisa melihat hal gaib, anak usia 0-3 tahun memang super sensitif dan kadang saru sama teman khayalan. Tapi kalau slebih dari 3 tahun dan memang suka kasih tau hal yang kita nggak bisa lihat, tandanya ya memang punya indra keenam :))

    Menik pernah buka jendela kamarnya dan memandang ke taman lalu bilang “Deeekk, masuk sini! Jangan loncat-loncat di taman sendirian, gelap tau!”

    -__________-

  2. Ki, Langit sampe sekarang tuh. Berarti.. :D Tapi dia terutama banget kalo lagi sakit x_x

    Dulu pas masih kecilan, dia rada susah kalo diajak nginep atau tidur di tempat baru. Gelisah dan takut merem, kadang suka menatap lekat-lekat ke ruang kosong :D. Makin gede, mungkin udah bisa deal sama masalah itu ya. Terus di guenya juga santai, alhamdulillah nggak terlalu penakut jadi kalo dia ngomong macam2, gue tanggepin biasa :)

  3. Aaa anak gw juga begituuu..apalagi waktu 1,5-2,5 taun, pas bayi juga suka ngeliatin 1 tempat lama, waktu baru2 bisa ngomong yang disebut ‘eh bapak’ lama-lama ngomongnya badut sama macan, mana gw penakut banget, begitu anaknya ngomong gitu gw langsung komat kamit baca ayat kursi, pernah juga di hotel di singapur bangun tidur bilang ada jiddah (nenek) sama kodok lagi lompat, padahal gak ada orang trus sering juga di jalan tol wiyoto wiyono bilang ada bapak padahal yang dia tunjuk itu kosong, hadeeeeh untung belakangan ini udah jarang banget, emaknya mulai lega deh..

Post Comment