The Other Blues: Kakak Blues

Behavior & Development

sanetya・07 Oct 2014

detail-thumb

Ada yang beda dengan masa kehamilan kedua yang baru berlalu. Kalau enam tahun lalu, ketika mulai hamil Igo, saya melahap What to Expect When You’re Expecting karena ingin supersiap dengan kondisi baru ... ketika hamil Gya, saya lebih concern dengan kondisi mental Igo sebagai calon kakak. Buat saya dan suami memang bukan pengalaman pertama, tapi lain halnya buat Igo.

Belajar dari pengalaman sendiri yang dulu selalu dikondisikan sebagai kakak-yang-harus-mengalah-sama-adik dan selalu diganggu-ganggu dengan hasutan orangtua nggak sayang lagi, deh, sama saya kalau sudah ada adik ... saya nggak mau itu terjadi pada Igo. Sudah jadi tantangan saya dan suami untuk menyiasati kondisi baru kami. Selelah-lelahnya saya pulang kerja, semabuk apa pun all day sickness waktu itu ... saya pokoknya harus bisa meluangkan waktu ekstra untuk Igo. Sambil main, saya jelaskan dengan santai enak dan nggak enaknya kondisi baru keluarga kami. Kadang Igo terlihat paham, kadang dia menatap saya nanar. Haha. Namanya juga anak-anak.

Akhirnya tiba waktu Gya lahir, waktunya mempraktikkan teori yang selama ini kami jelaskan ke Igo. Sama seperti waktu tahu saya hamil, Igo super excited. Dia memang minta adik, laki atau perempuan menurutnya sama, “... yang penting adik sama ibu sehat.” Igo kakak siaga banget, deh. Siap dimintai tolong kalau saya lagi repot dengan adiknya. Banyak orang berkata kalau ibunya lagi hamil, si calon kakak akan bertingkah. Jadi lebih manja, misalnya. Tapi itu nggak terjadi pada Igo. Wajar, dong, kalau saya berpikir, “Wah, mulus banget, nih, prosesnya.” Dan ternyata saya terlalu cepat mengambil kesimpulan ...

IMG-20141004-WA0017

Ada perubahan dalam sikap Igo. Bukan cemburu buta sampai ia kesal dan menjahili Gya, ya, tapi lebih kepada merasa dirinya harus berbagi spotlight. Kalau Nenna (ibu saya) mencium-cium Gya sambil tiduran, Igo pasti datang lalu memaksa tiduran di antara Nenna dan Gya. Atau ketika ayahnya sedang ngobrol dengan Gya, Igo pasti nyelip di antara mereka. Alasannya dia juga mau ikut ngobrol.

Contoh lainnya, dia sengaja lari-lari keliling rumah sambil teriak-teriak. Dia tahu kami nggak akan menegur dia dengan alasan Gya lagi tidur karena mau membiasakan Gya harus bisa tidur dalam situasi apa pun. Pokoknya caper bangetlah kelakuannya. Belum lagi Igo dan Gya punya jadwal berbeda; giliran Igo tidur siang, Gya melek atau sebaliknya. Igo suka kesal kalau dia tidur, Gya sedikit rewel karena bosan ditaruh di tempat tidur. Atau ketika Gya tidur, Igo main Lego sambil berkhayal dengan volume suara cukup kencang. Kadang kalau sabar ini lagi panjang, saya bisa bicara pelan. Namanya punya bayi pasti kurang tidur, jadilah si sabar kadang pendek banget, bikin nada bicara hampir selalu tinggi. Haha. Tidak jarang juga saya mendadak mewek karena merasa bersalah marah-marah melulu ke Igo. Mana hormon lagi naik-turun, kan? Duh, kok, nggak ada yang cerita soal kakak blues, siiiih.

Apa? Apa itu kakak blues? Lihat di halaman selanjutnya, ya!

IMG-20141004-WA0016

Itu istilah yang saya dan teman-teman pakai. Kebetulan dalam kelompok main saya ada beberapa yang baru tambah anak kedua. Semua mengalami hal yang sama, si kakak nggak cemburu buta tapi ekstra minta perhatian. Adaaa saja yang dikerjakan. Teman-teman juga merasakan sulitnya menahan emosi walau mengerti juga posisi si sulung. Yah, memang tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali menyabarkan diri. Selalu ingat kalau bukan kita saja yang beradaptasi dengan situasi baru tapi juga si kakak. Apa saja yang saya lakukan untuk menyiasati situasi itu?

  • Tag team bersama suami. Kalau suami main sama Gya, saya siap handle Igo. Mengajaknya ngobrol atau main. Begitu juga sebaliknya.
  • Meluangkan waktu khusus untuk si kakak. Yup, begitu Gya bisa dititip ... saya dan suami pasti pergi bertiga sama Igo. Pulang kerja, pasti duduk bareng untuk ngobrol soal hari itu.
  • Gunakan rasio. Kami berusaha untuk tidak menghubung-hubungkan status kakak dengan sesuatu yang memang sudah menjadi kewajiban Igo. Misalnya, ketika Igo lalai menjemur handuk, kami akan berkata, “Go, jangan lupa jemur handukmu, ya.” bukan “Igo, kan, sekarang sudah jadi kakak, jadi mesti lebih rajin. Jemur handuknya, ya.” Igo memang harus jemur handuk sendiri, ada atau tidak ada adik.
  • Semakin Gya besar, perilaku caper Igo mulai berkurang. Mungkin ia sudah mulai paham kalau sayang dan perhatian kami ke anak-anak itu sama persis tapi perlakuannya berbeda karena ada perbedaan usia dan kebutuhan. Igo mulai belajar kalau adil itu bukan berarti selalu mendapatkan potongan yang sama besar. Wiiih, baru dua anak, yaaaa, gimana yang tiga atau empat? *nggak mau membayangkan*

    Kalau Mommies gimana? Ada yang mengalami kakak blues nggak? Menyiasatinya gimana? Share, dong :)