Mayestik, Pasar Kesayangan Keluarga

Jauh sebelum mengenal Pondok Indah Mall, Plaza Indonesia, Senayan City, Grand Indonesia, atau mal lain yang mentereng di Jakarta,  tongkrongan yang paling saya suka adalah Pasar Mayestik, hahaha. Bisa dibilang saya sudah menganggap pasar yang berada dibilangan Kebayoran Baru ini seperti mal. Ya, habis gimana, dong… pasar Mayestik ini memang serba ada. Mau belanja sayuran, ada. Daging  atau ikan-ikan yang segar, melimpah. Mau belanja kosmetik ataupun baju di sini juga ada! Saya masih ingat, zaman masih SD saya paling senang diajak Mama ke sini. Apalagi kalau diajak ke Esa Genangku dan diizinkan membawa baju atau mainan incaran. Bahagia banget!

Perkenalan saya dengan pasar Mayestik ini memang sudah dari zaman baheula. Kalau kata Mama saya, pasar ini memang sudah lama berdiri, bahkan jauh sebelum saya lahir.  Kalau katanya Wikipedia, salah satu pusat perdagangan di Jakarta Selatan sudah hadir sejak tahun 1950-an. Walaupun umurnya sudah cukup tua, tapi pasar ini tetap nyaman kok untuk dikunjungi. Soalnya tahun 2010 kemarin, pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja melakukan peremajaan Pasar Mayestik

Sebenarnya banyak sekali alasan kenapa saya suka banget ke Pasar Mayestik.  Di antaranya karena beberapa hal di bawah ini.

Pasar yang nyaman dan bersih

mayestik1

Seperti yang saya sebutkan di atas, pasar Mayestik ini sangat lengkap. Semua kebutuhan rumah tangga rasanya nyaris bisa ditemukan di sini. Termasuk kebutuhan pokok harian rumah tangga yang bisa ditemukan di pasar tradisionalnya. Salah satu yang bikin saya suka ke pasar mayestik adalah kondisi pasar tradisionalnya yang bersih dan nyaman. Bahkan, kalau mengajak Bumi ke sini, dia terlihat anteng. Selain itu, menurut Mama saya yang doyan masak, barang-barang (baca: daging, ikan, ayam) yang dijual di sini kualitasnya lebih bagus dan segar ketimbang di pasar lainnya. Bahkan sampai sekarang kalau saya beli ikan atau daging di swalayan, Mama masih sering bilang, “Kenapa nggak beli di Mayestik aja, sih, Dis? Pasti jauh lebih seger.”

Ada apa lagi di Mayestik yang bikin saya jatuh cinta? Lihat di halaman selanjutnya!


5 Comments - Write a Comment

  1. Toss banget deh ah. Walaupun sekarang uda makin nyaman dan modern, somehow aku masih kangen sama Pasar Mayestik yang dulu. Karena gedungnya baru jadi masih suka disorientasi. Kalau dulu walaupun becek2 tapi uda hapal tempat2nya dan uda langganan penjual sayur, daging, ikan, ayam, bahan2 pokok, alat2 kelontong, toko buku Anggrek sampe ke tukang parkir. Sekarang musti nyari langganan baru lagi karena mereka sekarang entah dimana kiosnya.

    1. Toko buku Anggrek, toko kosmetik Budi Mulia, dan masih banyak banget toko2 favorit gue di sana, hahahaha. Ternyata pasar ini emang jadi pasar kesayangan banyak mamak2, ya :D

      Emang, sih, setelah berubah, banyak kios atau pedagang yang nggak ketaun di mana rimbanya. Oh, ya… kalau dulu, sebelum pasarnya b’ubah paling doyan beli kue lupis yg jualnya di bawah tangga arah ke pasar tradisional :D

  2. setelah baca artikel ini jadi kangen suasana mayestik, udah lama gak mampir ke sana.. not to mention jejeran tukang jahit yang siap mewujudkan kebaya impian macem butik yg tentunya ramah dikantong.. hihi
    i couldn’t agree more with SEPAKAT, masakan padang yang gak seperti resto padang lainnya. mereka siap terima pesenan rendang kiloan lho pas lebaran.. :)

Post Comment