Ketika Relaktasi Gagal

asi

Cita-cita setiap ibu untuk memberikan yang terbaik bagi bayinya ketika ia lahir ke dunia, salah satunya dengan memberikan ASI. Anak saya lahir dengan kondisi Tongue Tie dan Lip Tie yang mengakibatkan tidak dapat menyusu dengan baik. Sama seperti ibu-ibu lainnya, saya tidak ngeh dengan kondisi ini, sehingga anak saya sempat diberikan susu formula. Siapa yang tidak sedih ketika saya sudah bertekad ASI tapi ternyata terpaksa harus dicampur susu formula, demi ia tidak dehidrasi..

Kemudian saya pergi menemui dokter anak sekaligus konsultan laktasi yang bergelar IBCLC di suatu rumah sakit terkenal. Ternyata ketahuan penyebabnya adalah anak saya tongue tie dan lip tie dan harus di-incisi saat itu juga. Saya juga menjalani program relaktasi, di mana anak saya diberikan susu tambahan melalui selang yang ditempel di payudara sehingga anak saya mendapatkan dua susu sekali sedot. Atas alasan pribadi, saya dan suami tidak mengambil donor ASI dari luar, kami tetap menggunakan susu formula dan bantuan donor ASI dari saudara, meskipun hanya sebotol per hari dikarenakan ia juga harus menyusui anaknya. Semuanya disyukuri saja.

Kalau tiba saatnya menyusui, saya cukup repot karena harus menggunakan selang-selang itu. Tapi kan harus disyukuri ya, apalagi perjalanan saya mendapat anak cukup panjang. Alhamdulillah juga ada Ibu saya dan ART yang sigap membantu. Harapan saya pun melambung tinggi bahwa suatu saat dan sesegera mungkin anak saya bisa lepas dari susu formula dan hanya bergantung pada ASI saya saja.

Tiap minggu saya kontrol ke dokter, dicek payudara saya, ASI menyembur kuat dan saya semakiiin senang saja. Tiap minggu pula asupan susu tambahan seperti susu formula dan donor ASI semakin dikurangi. Saya pun tidak boleh menyetok ASI dulu karena harus fokus memberikan ASI secara langsung. Saat itu, saya belum mikir bagaimana caranya nanti anak saya mendapatkan ASI kalau saya kembali bekerja.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Berat Badan anak saya malah semakin rendah di bawah garis normal! Simak lanjutan ceritanya di halaman selanjutnya, ya.


5 Comments - Write a Comment

  1. Sama banget ceritanya sama aku.. Aku yakin kita ke dokter yang sama .. Di RS yg sama :)

    Anakku alhamdulillah hampir 9 bulan .. Dan lepas dari suplementasi pas 6 bulan.. :)

    Yang penting happy aja mbak.. Legowo .. Bersyukur.. Gak usah pikirin kata orang dan gak perlu menyesal..

    Semua ibu pasti mau dan berusaha untuk kasih yg terbaik buat anaknya kann

    *kecup*

  2. Damanitya : hehe..sepertinya yah…secara dokter itu emang terkenal banget…ia mba, bersyukur meski sedikit ternyata masih bisa menyusui sampai sekarang nih, 16bulan…alhamdulillah…meskipun tetep yahh kalo ngeliat orang yang stok ASIPnya se-kulkas, bawaannya pengen ngerampok ASIPnya,hihi..:*
    SailorMoon : makasi mba….semangat2…kita semua harus saling menyemangati sesama mommies :*

  3. Halo Mrs. P..
    Saya baru aja baca postingan ini… Waah.. Saya juga mengalami persis seperti Mba, dan sepertinya memang dokternya sama. Saya sampai menginap 2 malam di RS dan ketika saya masuk kantor, sekali perah paling banyak saya dapat 30 ml. Rasanya sedih sekali ya Mba, tapi akhirnya saya juga berusaha berdamai dengan diri sendiri… Pikiran saya, yang penting anak saya mau menyusu sama saya… :) Sekarang anak saya sudah berumur 20 Bulan.. Mudah2an anak2 kita semua sehat ya… :)

  4. Sampai nangis sy baca ini..teringat pengalaman sendiri.
    Sy relaktasi dari baby umur 1.5 bulan s.d 5 bulan dengan suplementasi sufor krn asi sy hanya 20-30ml. Relaktasi berhenti karna baby sudah mulai menarik2 selangnya.. sy stop selang lalu pompa asi setiap hari setiap 3 jam, hanya dapat 15-30ml, akhirnya lama2 habis & baby full sufor di usia 7bln.. Setiap kali baby sakit sy merasa sedih karena tidak bisa memberikan asi yg full antibodi

Post Comment