Hebohnya Perkalian Terbalik

Membaca polemik perkalian terbalik di media sosial itu tadinya saya mau asbun (asal bunyi) mendukung si Kakak mahasiswa. Mana ada “x kali y tidak sama dengan y kali x”, kan? Tapi sebelumnya saya kroscek dulu sama anak saya Dellynn yang kelas 3, apa memang begitu menurut yang pernah diajarkan. To my surprise ternyata iya, memang disalahkan kalau terbalik. Batal lah semangat komentar berapi-api saya :D.

Berjalan waktu makin ramai orang komentar ini itu, dari para orangtua yang pasrah sambil mengaku kalau dulu pun nilai matematikanya menyedihkan :D, sampai ke beberapa ahli, dosen, dan profesor matematika. Namanya polemik pasti ada pro dan kontra, itu wajar. Tapi sayang rupanya Kakak mahasiswa tidak siap kalau post-nya sampai kemana-mana (terakhir saya sempat lihat sudah ter-share 4500+) dan dikomentari banyak orang. Hingga akhirnya saat saya tengah menjawab komentar teman saya di share-an yang di wall saya, post tersebut menghilang.

Pada dasarnya yang membuat ramai adalah karena paham yang sudah tertanam di otak orang-orang tua ini *tua?!*, tidak bisa menerima kalau persamaan tersebut salah. Well, ya, secara perhitungan perkalian, sih, pasti benar. Operasi perkalian di mana-mana juga “x kali y sama dengan y kali x”, 2 kantong isi 10 permen pasti sama jumlahnya dengan 10 kantong isi 2 permen. Tapi lain ceritanya saat kemudian dua kantong terjatuh di jalan, berapa sisa permennya? Yang satu permennya habis hilang semua, yang satu lagi masih tersisa 8 kantong alias 16 permen.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah konteksnya persamaan matematis ini apa? Cuma menghitung bilangan, atau contoh kasus (membahasakan situasi riil ke matematika)? Kalau menghitung, nggak usah lihat berapa kantong berapa permen, pokoknya 10 x 2 = 2 x 10 = berapa. Kalau contoh kasus, barulah kita telaah lagi soal ceritanya bagaimana.

Bagus, sih, diajarkan bahwa “x kali y tidak sama dengan y kali x”, karena dosis obat 3 x 1 tentu sangat berbeda dengan 1 x 3, tapi perlukah hal ini diajarkan pada anak kelas 2 SD? Seingat saya, seumur-umur sekolah saya tidak pernah diajari bahwa “x kali y tidak sama dengan y kali x”, tapi, ya, nggak pernah kebalik, sih, kalau minum obat :D. Pun membeli memory card 2 x 64GB juga nggak kebalik jadi 64 x 2GB. Saat anak saya kelas 2 SD, hafal perkalian sampai 10 x 10 saja belum, boro-boro dijelaskan kalau dibalik jadinya berbeda ..hahaha.. Kalau berbeda, apa kabar poster perkalian seperti yang saya punya ini? 

DSC_1258-edit1gambar pribadi. berhubung ditempel di dinding jadi sasaran coret-coret dan ditarik D4 juga :D

Bagaimana enaknya kita menyikapinya? Santai saja :D. Waktu saya kroscek ke Darris apa betul 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 dan bukan 4 x 6, dia ragu-ragu dan ingatnya 4 x 6 sama seperti kita yang tua-tua ini *iya, saya doang deh yang tua :p*. This is not an important concept menurut saya. Jauh lebih penting anak-anak hafal hasil perkalian karena itu yang akan terpakai terus baik dalam kehidupan nyata, maupun dalam matematika tingkat selanjutnya seperti pecahan yang nanti membahas KPK (kelipatan persekutuan terkecil) dan FPB (faktor persekutuan terbesar), bahkan dalam penyelesaian rumus-rumus fisika di sekolah menengah kelak.

Bagaimana nih, Mommies yang punya anak SD? Sudah siap menghadapi balik lagi belajar matematika? :D

 


3 Comments - Write a Comment

  1. :) langsung keringetan kalau ada materi math baru karena alamat butuh juga belajar. Makanya saya follow gak cuma akun berita, akun jualan tapi akun diskusi pelajaran juga di twitter. Hehheeh asyiknya motherhood.
    Btw ini urusan hakikat perkalian yg merupakan penjumlahan berulang mak, bukan sedang dijelaskan ttg sifat perkalian yg subtitusi itu…sebaiknya memang dimengerti benar karena dasar kan ya..

  2. –This is not an important concept menurut saya. Jauh lebih penting anak-anak hafal hasil perkalian karena itu yang akan terpakai terus baik dalam kehidupan nyata, —

    Justru menurut saya, konsep itu penting sekali
    Justru lebih bagus anak sekarang diajarkan konsep bukan hanya sekedar menghapal. Bukankah dulu banyak yg teriak2 ketika membandingkan pend. di Indonesia yg katanya cenderung menghafal. Sekarang dikasih kurikulum yg mengedepankan konsep dibilang mngga penting. kan ini lucu namanya
    saya ngga tau dgn yg lain, tapi guru saya dulu mengajarkan demikian juga kok, contoh yg paling ingat itu waktu guru saya menganalogikannya denga minum obat. padahal saya pakainya kurikulum jaman kapan itu

  3. Hehehe, Mommies, saya menganggap konsep tersebut tidak penting (sebetulnya lebih tepat ‘belum’ penting) karena lihat usia si anak. Di kasus perkalian tersebut anaknya baru kelas 2 SD, pemahaman tentang hal yang agak abstrak sehubungan pembalikan perkalian sepertinya kok terlalu advanced ya. Mungkin lebih cocok untuk anak kelas 4 atau 5 maksud saya. Nah di kelas 2 rasanya lebih pas kalau konsep berhitung perkaliannya saja diperkuat dahulu.

Post Comment