Anak-anak Pun Bisa Depresi!

kids_depressionBeberapa minggu lalu nampaknya kata ‘depresi’ mendominasi keyword berita. Dari si mantan artis cilik yang ditengarai mengalami gangguan bipolar, sampai kematian Robin Williams si Mrs. Doubtfire yang mengejutkan banyak orang. Saat terekspos bahwa si artis ternyata sudah terdeteksi bipolar sejak usia anak-anak, banyak orangtua bertanya-tanya, bagaimana mengetahui gejala gangguan kejiwaan atau mendeteksi depresi pada anak-anak?

Dari mini talkshow tentang Mendeteksi Depresi pada Anak Sejak Dini yang diadakan oleh 3 Little Angels yang dimotori oleh Rhanda @justsilly, Monika Joy Reverger, psikiater yang menjadi narasumber mendefinisikan depresi sebagai “Perasaan sedih berkepanjangan dan mempengaruhi fungsi sehari-hari dari anak/orang tersebut.”

Dr. Herbowo, SpA sebagai narasumber dari sisi kedokteran menjelaskan bahwa risiko depresi lebih tinggi pada anak dengan:

  • Berat badan lahir rendah.
  • Riwayat depresi pada keluarga dekat.
  • Disfungsi keluarga atau konflik keluarga.
  • Paparan dini terhadap masalah (abuse, pengabaian, kematian dalam keluarga dekat).
  • Tekanan psikososial (masalah pertemanan, kesulitan akademis).
  • Negative style dalam menyikapi masalah.
  • Episode depresi sebelumnya.
  • Riwayat gangguan cemas, kesulitan belajar, GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas).
  • Cedera kepala.
  • Penyakit kronis.

Depresi pada anak bentuknya sama dengan pada dewasa. Pengobatannya juga sama, tapi faktor kesulitan pendeteksiannya adalah karena anak-anak masih belum dapat mengomunikasikan perasaannya sebagaimana orang dewasa.

Lalu gejala yang bisa diwaspadai apa? Yang utama adalah perubahan perilaku yang mendadak, yang bukan perilaku atau sifat asli si anak sebelumnya. Di antaranya, yaitu:

  • Mood yang iritabel, mudah memburuk, mudah tantrum.
  • Berkurangnya minat terhadap sesuatu atau terhadap kesenangan. Pemurung, penyendiri.
  • Perubahan nafsu makan dan berat badan.
  • Gangguan tidur.
  • Agitasi psikomotor atau retardasi (tidak bisa duduk diam, menarik baju, bicara suara pelan).
  • Cepat lelah atau keluhan sakit fisik yang berulang seperti sakit perut atau kepala.
  • Perasaan bersalah atau tidak berguna.
  • Gangguan konsentrasi dan pengambilan keputusan.
  • Pada tahap yang lanjut ada keinginan berulang untuk mati atau bunuh diri.

Perlu diperhatikan bahwa mood swing atau kebiasaan tantrum yang bukan perubahan mendadak, tidak termasuk gejala depresi walau bisa dikategorikan gangguan perilaku.

Tatalaksana Depresi pada Anak


Post Comment