We Are DINK Family!

dink_family*Gambar dari sini

Saya baru saja mengetahui ada istilah DINK tempo hari. Menurut wikipedia, DINK/DINKY (Dual/Double Income No Kids Yet), adalah kondisi di mana keluarga mempunyai dua penghasilan, pihak suami & istri, dan masih belum mempunyai anak. Istilah inilah yang tepat mendeskripsikan kondisi keluarga kami saat ini. DINK by condition, not by choice tepatnya. Di usia pernikahan kami yang ke-10 bulan, saya dan suami memutuskan untuk tetap bekerja dan kami belum mendapat titipan dari Tuhan :) . Daripada merenungi nasib, yang seringnya berakhir dengan galau yang ga jelas, kami pun memilih untuk bersyukur dengan kondisi kami saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, menjadi keluarga DINK memberikan beberapa keuntungan bagi kami. Terutama dalam hal finansial dan hubungan interpersonal dengan pasangan. Kami berhasil membeli rumah pertama kali tak lama setelah pernikahan kami. Begitupun kendaraan, gadget, investasi. Juga segala macam untuk kebutuhan hore-hore kami. Kami bisa ‘bebas’ mengatur keuangan tanpa memikirkan kebutuhan anak.

Pun begitu dengan hubungan interpersonal. Kebetulan saya dan suami hanya berhubungan dekat 10 bulan sebelum menikah. Sisi baik dari DINK ini adalah saya lebih mempunyai waktu untuk mengenali karakter, mendalami sifat, dan belajar memahaminya. Vice Versa. Yang namanya rumah tangga ya, dua ego dan kepala menjadi satu. Konflik pasti ada. Harapan kami sih, setelah kami bisa saling memahami, konflik pun terkurangi. Sudah menjadi komitmen kami, untuk tidak berkonflik secara terbuka di depan buah hati kami kelak.

Kata teman-teman, enak dong pacaran terus? Hahaha, ini sih iya banget. Mall hopping, nonton midnight, jalan ke mana sekedar mencari makan enak, rencana traveling, membusuk seharian di kamar, masak bareng, kerja bakti bersihin rumah bareng, hayooo ajaaaa.. Belum ada tanggungan ini kan? :D

Tapi apa iya selamanya kami akan menjadi keluarga DINK?
Jawabnya pasti enggak ya. Kami pun ingin seperti keluarga yang lain. Mempunyai buah hati. Mungkin suatu saat kelak, saya juga berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Di usia pernikahan kami yang masih kurang dari satu tahun, sudah tiga kali ke Obgyn lho kami.. Rajin ya? :D . Setiap bulan pun, kami sudah menyisihkan sekian persen dari penghasilan untuk dana pendidikan. Hal ini kami lakukan untuk memastikan si kecil kelak mendapatkan pendidikan yang layak. Ya meskipun dia belum juga hadir di rahim saya..
Doakan sebentar lagi ya :)

 


4 Comments - Write a Comment

  1. Baca artikel ini jadi ngayal “seandainya belum punya anak” sementara skrg saya sedang hamil anak kedua.. hehehehee.. iya bener bgt nih isi artikelnya, potensi untuk seneng-seneng sebebas-bebasnya memang gede yaa.. kalau sdh punya baby pertimbangan banyak, apalagi mau nonton bioskop,sampai sekarang saya belum masuk bioskop lagi dari semenjak hamil pertama november 2012. :(

Post Comment