Melatih Memori Anak

baby_memory

Jangan remehkan daya ingat bayi.

Kalimat ini terbersit dalam pikiran saya setiap kali Aksa, bayi saya yang berusia 15 bulan, menunjukkan hal-hal yang baru saja bisa dia lakukan. Saya sering melihat beberapa kiat bagaimana melatih memori bayi. Kurang lebih intinya adalah mengajarkan sesuatu kepada bayi secara berulang dan berpola. Kiat tersebut membuat saya flashback ke hari-hari yang saya alami seminggu belakangan bersama Aksa.

Kejadian pertama.

Sekembali dari mudik, saya rutin membacakan tiga buku cerita berbahasa Inggris yang saya beli di kota asal saya. Dari ketiga buku tersebut, hanya satu yang berbentuk touchables dan flappy, alias memiliki tekstur untuk diraba dan berjendela . Sengaja saya belikan yang touchables dan flappy karena saya menganggap minat baca Aksa tidak begitu tinggi. Sudah saya belikan beberapa buku dan membacakannya, tetapi hanya sejenak Aksa bisa duduk manis di depan buku. Selanjutnya, ia pergi meninggalkan saya, duh…
Dengan buku berjendela ini, ternyata reaksinya sedikit berbeda. Ketika saya ajari cara membuka jendela dan meraba teksturnya, dia memerhatikan dengan tekun. Hingga akhirnya dia fasih lift the flap sendiri. Karena melihat dia tertarik, setiap hari saya targetkan untuk selalu membacakan ketiga buku tersebut, entah itu siang, sore atau malam. Pokoknya kalau ia terlihat mulai mengacak-ngacak rak buku ayah ibunya (Aksa gemar menjatuhkan buku di rak satu per satu), saya manfaatkan untuk membuka buku dan mendongeng.

Belum sampai seminggu, hasilnya sudah terlihat. Saat itu saya sedang sibuk di dapur, Aksa juga sibuk bermain dan mondar-mandir sambil bersuara. Tiba-tiba, situasi hening. Saya pun menengok ke belakang, dan Aksa sedang membuka-buka buku sendiri dengan serius..! Tak terkira senangnya hati ini, akhirnya Aksa mau membaca buku atas keinginan sendiri. Dan, di sekitarnya pun tidak terlihat buku berserakan. Artinya, Aksa sudah tahu buku apa yang ingin dia ambil dan di mana letaknya.

Ternyata kegiatan berulang memang mudah diingat. Mungkin dulu saya terlalu cepat putus asa ketika membacakan buku dan Aksa malah melarikan diri dari saya dan main bola, hehe… Bisa jadi bukunya kurang menarik, cara membaca terlalu datar, atau timingnya salah. Sekarang Aksa sering menyodorkan buku flappy tersebut kepada saya, tanda minta dibacakan :)

Kejadian kedua.

Beberapa hari lalu, Aksa mendapat hadiah sepeda dari omnya suami saya. Tentu saja kami senang, karena stroller sudah tidak sesuai lagi dengan kemampuannya sekarang. Karena jalan depan rumah banyak lubang dan becek, saya masih “menahan” sepeda itu untuk dipakai di rumah dulu saja..maklum barang baru, hehe..
Bersepeda di dalam rumah tentu saja tidak bisa melihat apa-apa, hanya mendapat the sense of riding saja untuk Aksa. Akhirnya, sambil mendorong sepeda tersebut, saya menyanyi, atau mengajak Aksa bicara (a.k.a bercerita, karena Aksa belum bisa bicara).

Saat itu saya sedang lelah, maka sambil duduk saya tarik dorong Aksa di atas sepedanya sambil mengucap “Se-pe-da” berulang-ulang. Mungkin ada sekitar 15 menit saya mengucapkannya. Kemudian iseng-iseng saya tahan kalimat saya, “se-peee…” dan Aksa ternyata melanjutkan “daaaa..”.

Saya pun kembali takjub, karena selama ini Aksa baru bisa mengucap kata ayah, owoh haijah (Allahu akbar), dan atuh (jatuh). Akhirnya, selama 15 menit berikutnya, saya mengulang kata “sepe..” dan Aksa melanjutkan “..daa”. Sampai akhirnya sesi bersepeda pun usai.

Keesokan harinya, ketika saya bercerita pada suami, suami pun mengetes Aksa. Ternyata Aksa masih bisa mengingatnya! Pantas saja ketika Aksa di rumah eyangnya, ia bisa mengucapkan Allohuakbar..ternyata karena eyang putrinya melatihnya setiap hari tanpa saya sadari..

Kini, saya lebih optimis dalam mengajari Aksa segala sesuatunya. Selama ini tampaknya saya mengajarinya random things, pokoknya berbicara tapi tak berpola.. Ujung-ujungnya jealous karena anak sepupu sudah bisa ini itu sementara Aksa belum, hahaha…

So, don’t underestimate your kids’ ability… Kita tidak tahu, apalagi keajaiban yang akan ditunjukkannya besok, lusa, dan seterusnya, hanya karena ia melihat, mendengar, dan mengulang apa yang kita ajarkan :)


Post Comment