Home Treatment: Sebenarnya Perlu Nggak?

Walau sudah cukup lama nggak menengok Healthy Baby & Kids di Mommiesdaily forum, beberapa kali masih ada yang japri saya menanyakan anaknya yang sakit. Sebetulnya tulisan-tulisan di Mommiesdaily di kategori ‘Health’ sudah mewakili hampir semua penyakit-penyakit yang umum dan rutin menjangkiti anak-anak. Tapi mungkin lagi panik, ya, jadi lupa semua.. haha.

Jadi selain memberi link (yang saya nggak yakin juga sempat dibaca kalau sedang mengurus anak sakit :D), saya juga sebutkan tata laksana home treatment dasar. Misalnya kalau batuk pilek disarankan menguapi ruang kamar dan mematikan AC supaya lembap dan bantu melancarkan nafas. Atau saat demam rekomendasinya kompres air suam-suam kuku atau berendam. 

sick_daughter-620x349*Gambar dari sini

Seperti yang saya lakukan sendiri? Hehehe…tidak. Sejujurnya, sudah lama sekali saya nggak menjalankan home treatment yang ribet-ribet begini. Saya nggak punya energi mengawasi teko air panas supaya jangan sampai kering, karena berisiko korslet. Apalagi harus memasak air dan mengganti air yang sudah dingin di bak di kamar saat tengah malam. Saya juga nggak bisa terus-terusan menemani dan mengawasi anak berendam air hangat. Karena ada anak-anak lain yang harus diawasi juga, pluuss kamar mandi yang sempit buat ngegelar bak mandi. Saya juga malas mengganti-ganti kompres. Saat anak demam saya lebih memilih skin-to-skin yang lebih simpel dan bagi saya, kok, terasa lebih efektif menurunkan demam.

Tapi saya tetap ketat menjaga asupan cairan kalau anak (atau bapaknya) nggak enak badan. Untuk anak-anak bahkan ada botol minum khusus yang hanya saya pakai saat anak sakit. Yang kedua, istirahat. Syukur kalau bisa tidur, nggak bisa, pun, pokoknya di kamar, di atas tempat tidur. Baca buku silakan, tapi no TV and no gaming. Tanpa disadari sebenarnya TV dan game lebih menstimulasi otak ketimbang membaca buku. Malah makin nggak bisa istirahat.

Makan, pun, saya tidak pernah memaksa dan menakar. Mau makan hayuk, nggak harus penuh gizi apalagi saat mulut terasa pahit atau sakitnya pencernaan yang muntah terus-terusan. Lebih baik makan sedikit walau sekedar biskuit tapi tertahan di dalam, nggak dimuntahkan lagi. Bahkan nggak makan juga nggak apa-apa asal banyak minum. Akan ada saatnya nanti setelah badan enakan makannya ‘balas dendam’, mamayu kata orang Sunda. Untuk anak yang lebih besar dan sudah paham perjalanan penyakit, sih, biasanya dengan sendirinya mencoba makan sesuatu untuk,”..bantu energi tentara pelawan penyakit di badan.”

Saya hanya beri parasetamol saat demam terlalu tinggi hingga anak terganggu istirahatnya dan gelisah. Atau saat ada nyeri yang tidak tertahan. Alhamdulillah kami tidak punya riwayat kejang demam dalam keluarga jadi nggak terlalu khawatir saat demam. Sejauh ini, sih, parasetamol saya tidak terpakai sampai tanggal kadaluarsa karena untuk kebanyakan penyakit umum mencukupi asupan cairan sudah banyak membantu.
Obat-obat dasar lain saya tetap simpan, kok, untuk jaga-jaga. Misalnya seperangkat perban dan plester, salep luka bakar, dan cairan/gel antiseptik.

Dengan penanganan yang sederhana seperti ini sembuhnya juga lumayan cepat, kok. Masih dalam jangka waktu yang wajar. Dan rasanya makin kesini makin cepat sembuh. Mungkin karena dengan cara ini, kami memberi kesempatan tubuh untuk melawan penyakit sendiri. Jadi karena ‘memori’ cara bertahan sudah tersimpan, saat sakit berikutnya datang memorinya tinggal di-‘reload’.

Jangan lupa bahwa being RUM bukan berarti anti dokter, anti medis, dan anti obat; melainkan tahu kapan saat yang tepat harus ke dokter, mencari pertolongan medis, dan kapan harus minum obat serta paham tentang over medikasi.

Lalu masih perlukah mengikuti langkah-langkah tata laksana home treatment? Keputusan kembali ke Mommies. Seperti saya, setelah mencoba beberapa cara home treatment ternyata ada yang cocok dan ada yang tidak dengan keseharian kami. Apapun treatment yang Mommies pilih, pastikan tetap RUM (rational use of medicine) dan pahami gejala-gejala kegawatdaruratannya, ya!


Post Comment