Ibu Saya Seorang Baby Sitter

grandmother-and-baby-holding-hands*Gambar dari sini

Dengan istilah ‘babysitter’ orang akan membayangkan mbak-mbak berseragam warna pastel yang mengasuh bayi/anak, menggendong, menyuapi, mengikuti anak ke mana-mana..
Ibu saya juga seorang babysitter, tapi bukan yang seperti itu.

Saya anak pertama, dan anak saya adalah cucu pertama bagi ibu saya. Sejak saya hamil, ibu sudah berencana bahwa anak saya akan diasuhnya, supaya saya bisa tenang kembali bekerja. Begitu juga dengan adik-adik saya, diminta menitipkan anaknya ke ibu saja kalau akhirnya akan ditinggal kembali bekerja. Dan juga daripada membayar orang/pengasuh, sayang uangnya. :D

Anak saya adalah ‘klien’ asuhan pertama ibu.

Ketika anak saya berusia 4 taun, seorang tetangga dekat menitipkan bayinya yang baru berusia 3 bulan untuk diasuh ibu. Dia klien ke dua ibu. :D
Berturut-turut kemudian, ibu saya mengasuh keponakan saya (cucu ke dua), ketika masih tinggal serumah. Kemudian keponakan satu lagi (cucu ke tiga), dan sekarang keponakan satu lagi (cucu ke empat).
Ketika cucu ke dua berusia 6 bulan, orangtuanya (adik saya) pindah ke rumah sendiri yang jaraknya lumayan jauh dari rumah ibu. Jadinya ibu tidak bisa lagi mengasuhnya. Agak repot kalau misal pagi diantar ke rumah ibu dan sorenya dijemput pulang.

Cucu ke tiga sekarang tinggal di rumah neneknya (besan ibu), tapi masih dekat sama rumah ibu. Kebetulan sekolahnya dekat juga, dan tiap pulang sekolah jalan kaki ke rumah ibu. Sore baru dia pulang ke rumah neneknya (besan ibu).
Sejak Agustus 2012 ibu menerima asuhan bayi usia 3 bulan yang ibunya kerja di dealer motor dekat rumah. Maret 2013 adik bungsu saya melahirkan, dan sejak bayinya usia 6 bulan, adik saya kembali bekerja, dan ibu saya lah yang mengasuh bayinya.

Sekarang anak saya usia sudah 16 tahun, anak asuhan ibu yang ke dua usia 11 tahun, cucu ke tiga usia 7 tahun, anak asuhan ke tiga usia 2 tahun, cucu ibu dari adik bungsu saya usia 1.5 tahun.
Di siang hari bisa terbayang betapa ramai rumah ibu dengan anak & cucu asuhannya. Terbayang juga betapa repotnya ibu menangani 2 batita, sementara yang lebih gede sudah bisa ‘dilepas’ untuk main sendiri. Untungnya, anak saya dan asuhan ke dua (11 tahun), sudah bisa membantu momong para batita, sehingga ibu bisa sedikit beristirahat.

Tak tega juga sebetulnya melihat ibu yang dalam usianya yang sudah mencapai 59 tahun, masih sanggup berakrobat dengan semua anak-cucu asuhnya setiap hari kerja. Namun menurut beliau, meski repot, momong mereka adalah sarana ‘olah raga’ bagi beliau, dan juga penghiburan melihat polah tingkah lucu dan menggemaskan mereka.

May Allah bless you, ibu. Semoga selalu dikaruniai kesehatan… Amin :)


2 Comments - Write a Comment

  1. hahahaha… maap kalo membingungkan.. :D
    itu belum saya sebutkan 2 anak sodara sepupu yang tinggal sebelah rumah ibu, yang seneng kumpul di rumah ibu saya..
    kebetulan rumah ibu juga dipakai buat PAUD 3x seminggu, jadi di depan rumah ada mainan perosotan, jungkat jungkit, ayunan.. jadi pada seneng deh main di sana..
    makin heboh kan dengan tambahan 2 krucil lagi.. hehehe…

Post Comment