Kejutan-kejutan Dari Si Kecil

Membesarkan anak itu seperti menerima kado setiap hari. Ada antusiasme plus deg-degan karena kita nggak tau apa yang ada di dalam kotak kado. Terkadang ada perasaan sedikit kecewa karena isinya nggak sesuai dengan bayangan ideal di kotak kita, tapi lebih sering kejutan di dalam “kotak” itu membuat kita tersenyum dengan hati berbunga-bunga atau menangis terharu karena isi “kotak” melampaui ekspektasi kita. Well, at least itu sih yang saya rasakan selama 20 bulan ini merawat dan membesarkan Gendra.

difficulty-playing-with-own-children-e1370848322963*Gambar dari sini

Beberapa waktu lalu, kami dibuatnya ternganga karena Gendra tiba-tiba membuang sampah ke tempat sampah tanpa harus diperintah. Kami surprised karena kami sebenarnya belum pernah mengajarkannya untuk “Ayo-Gendra-kalo-buang-sampah-di-tempat-sampah”. Tak lama berselang, kami kembali dibuat terkaget-kaget karena tiba-tiba Gendra “tiarap” di atas sajadah yang digelar di lantai. Padahal, sekali lagi, kami belum pernah mengajarkannya. Gendra, ternyata, belajar dari apa yang dilihatnya sehari-hari.

Di usianya yang ke-18 bulan, Gendra mulai belajar bicara. Perkembangannya saya nilai cepat, karena dari yang hanya bisa 2-3 kata, di bulan ke-18 itu Gendra tiba-tiba nyerocos mengeluarkan banyak kata-kata yang seingat saya, belum pernah kami ajarkan dengan serius kepadanya. Dalam waktu sebulan, Gendra bahkan sudah bisa nyanyi “Burung Kakak Tua” walau tidak semua liriknya bisa diucapkan dengan sempurna. Ternyata, ia belajar dari apa yang ia dengar, lalu ditirunya.

Di usianya yang ke-18 bulan ini, Gendra juga sudah bisa bilang kalau mau pipis atau pup. Ia juga sudah bisa bercerita tentang pengalamannya sehari-hari. Tentunya ceritanya ala bayi, dengan menyebutkan beberapa kata, frase, dan kalimat singkat, plus ah-eh-ah-eh-nya bahasa bayi.

Kemarin, Gendra kembali memberi kami kejutan. Ibu saya yang menjaga Gendra selama saya bekerja bercerita kalau siang tadi saat asik main sendirian di kamar, ibu mendengar Gendra menyenandungkan nada shalawat nabi sambil sedikit-sedikit menyanyikan lirik yang terdengar seperti”…’alaa yasiin habibillah”. Waktu itu saya nggak percaya karena saya pikir Gendra gak mungkin bisa menyenandungkan shalawat, apalagi menyanyikan 1-2 liriknya karena Shalawat Badar yang terkadang saya nyanyikan, kan bukan bahasa ibu yang ia dengar sehari-hari. Lagipula saya juga nggak terlalu sering melantunkan shalawat saat momong Gendra.

Karena nggak percaya, akhirnya saya langsung mengetes Gendra saat itu juga dengan melantunkan Shalawat Badar saat menemaninya bermain. Kaget saya dibuatnya, karena Gendra menirukan nada plus kata-kata shalawat yang saya lantunkan, “Aaciin habiibiyyaah… (tawasalna) bibimiyyaah… (wa bil) aadii uuiyyaah.. (wakulli mujahidi lillah, bi ahlil) aadi ya awwooh”.

Sumpah, saya sampai ternganga nggak percaya. Kemampuan balita ternyata melebihi ekspektasi saya sebagai orang dewasa. Gendra menyerap dengan cepat dan baik sekali. Saya ngomong begini karena frekuensi saya melantunkan shalawat saat bersama Gendra selama ini bisa dihitung dengan jari. Kayaknya, saya lebih sering nyanyi “Burung Kakak Tua” deh daripada shalawatan.

Dari kejutan-kejutan Gendra ini, saya jadi belajar satu hal. Bayi, balita, dan anak-anak menyerap dengan cepat apa yang mereka lihat dan dengar. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa, apalagi orangtuanya, harusnya memberikan contoh yang baik, berprilaku baik, berbicara santun karena mereka meniru apa yang dilihat dan didengar dari lingkungannya. Gak gampang sih memang, karena saya sendiri aja terkadang masih suka keceplosan marah-marah dengan suami di depan anak, atau bahkan membentak anak sendiri saat sumbu sabar mulai pendek (duh!).

Jadi mulai sekarang, reminder to myself, behave well and talk politely.

Oiya, terima kasih juga untuk kejutannya, Nak…


One Comment - Write a Comment

Post Comment