Busy While Waiting

Desire to have a Child*Gambar dari sini

Di usia pernikahan yang genap 4 tahun di bulan ini, entah sudah berapa ratus kali saya menerima pertanyaan “Kapan hamil?, atau “Anaknya sudah berapa?” atau yang semacamnyalah. Bisa dibilang saya sudah semakin kebal untuk tidak merasa sedih, sakit hati, atau marah kepada para penanya tersebut. Meskipun tentu saja, ada kalanya saat kondisi hati sedang down, saya nangis juga deh diam-diam, hehe.

Saya mengerti, keluarga, sahabat, teman-teman, kolega, atau siapapun yang bertanya, tidak bermaksud buruk mengajukan pertanyaan itu, selain karena memang ingin tahu, atau sebagai tanda bahwa mereka memiliki perhatian pada saya dan suami. Maka jawaban saya (walaupun klise) adalah seputar “Belum rezeki, mohon didoakan segera mendapat momongan ya” dan kalimat sejenisnya, karena saya tidak mungkin menjelaskan pada beliau-beliau itu, upaya dan proses apa yang sedang kami lakukan untuk keinginan tersebut, bukan?

Nah, saya menuliskan ‘curhatan’ ini karena pertanyaan seorang sahabat (dia sudah memiliki dua anak yang lucu-lucu), kenapa saya terlihat baik-baik saja dan seolah begitu menikmati hidup, padahal belum dikaruniai momongan? Wow, sebuah pertanyaan yang jarang saya terima, dan membuat saya berpikir lama untuk menjawabnya.

Maka, mungkin hal-hal berikut ini bisa dianggap sebagai jawaban saya.

Pertama, saya pikir menikmati hidup (atau bahagia) seharusnya tidak bersyarat. Saya mencoba untuk tidak menggunakan kalimat “Saya akan bahagia, kalau…” dalam hidup saya. Toh bahagia seharusnya memang keputusan hati, tidak perlu hal-hal lain di luar diri kita untuk menentukan apakah kita bisa bahagia atau tidak. Just be happy, right here and now :). Alangkah merananya hidup saya jika tidak bisa menikmati hidup hanya karena belum punya anak, bukan?

Selanjutnya, seperti judul yang saya pilih, saya menyibukkan diri dalam masa penantian ini. Saya memang sengaja resign dan tidak bekerja kantoran lagi dengan harapan saya tidak terlalu capek sehingga proses menunggu kehamilan bisa segera datang. Tapi saya tetap sibuk. Urusan domestik tidak termasuk lah ya, tapi saya rajin mencari kegiatan dan kesibukan di komunitas-komunitas yang saya ikuti. Saya ‘memaksa’ diri saya untuk terus bergerak, berpikir, melakukan sesuatu, sehingga tak ada lagi ruang bagi saya untuk mengeluh atau bersedih atau putus asa. Menunggu terkadang memang menyebalkan, tapi jika kita sibuk, sebetulnya kita tidak pernah betul-betul menunggu.

Konon, selalu ada kepantasan atas segala sesuatu. Terkadang saya berpikir, apakah Tuhan menganggap saya belum pantas menjadi seorang Ibu? Sehingga Dia masih menunda memercayai saya memiliki anak-anak dari rahim saya sendiri? Tapi kemudian saya tahu, mungkin saya yang kurang memantaskan diri. Dan mulai membekali diri saya bagaimana menjadi Ibu yang baik, apa yang harus dan tidak boleh dilakukan saat hamil, di mana imunisasi dan sekolah yang baik bagi anak-anak, dan sebagainya dan seterusnya. Mudah-mudahan Tuhan kasihan melihat upaya saya ini ya hehehe.

Terakhir, bersyukur. Sebagai manusia biasa, saya mengakui saya selalu merasa kurang, menuntut sesuatu yang saya inginkan dengan tergesa, dan seringkali melupakan apa yang sudah saya miliki. Maka bersyukur adalah jalan terbaik, bahwa tak ada yang lebih ajaib daripada bersyukur, karena kekuatannya yang pasti akan menambah nikmat hidup.

Dear Mommies-wanna-be, be happy ya, tetap sibuk dalam kebaikan, dan selalu beryukur.


One Comment - Write a Comment

  1. Neng_orin, saya salut dengan pilihannya :). Luar biasa.

    Saya tau rasanya, pernah ngalami menunggu seperti itu :). Anak pertama saya lahir setelah umur pernikahan kami menyentuh angka 7 thn.

    Setelah masa itu berlalu, saya belajar bahwa Tuhan tau waktu yang paling tepat untuk saya punya anak. Skr, hampir setiap hari, saya bilang ke anak saya, kalau saya bersyukur dikasih privilege untuk jadi mama dia.

    Bertahan yah… terus punya iman, Tuhan pasti sediakan.

Post Comment