Liburan Bersama Demam Typhoid

“Gimana, sih, ibunya nggak kerja padahal. Anaknya malah kena tifoid. Dikasih makan apa coba?” dan banyak lagi komentar menyudutkan ketika mengetahui kalau anak saya terkena typhoid fever. Tapi karena sudah biasa mendengar kalimat-kalimat judgemental sejak punya anak, saya lempeng aja. Jadi bagaimana, nih, ceritanya? Kenapa si kecil bisa tiba-tiba tifoid?

Rabu, 24 Juli malam, tangan saya merasakan suhu tubuh Menik meningkat saat menggendongnya ketika menyusui. Tapi karena cuaca di luar sedang dingin, sekitar 17′ celcius, jadi saya pikir wajar kalau suhu tubuhnya naik sedikit. Lagipula klinis anak normal, nafsu makan juga tidak menurun. Everything just fine, kecuali suhu tubuhnya. Selasa subuh, saya cek suhunya ada di 37.7′ celcius. Namun siang hari suhunya kembali normal. Pola suhu tubuh naik turun namun tidak sampai demam di atas 38,3′ celcius ini terus berlangsung hingga hari Jumat. Akhirnya saya bawa ke dokter, karena sudah mulai curiga dengan suhu yang tidak menentu dan jangka waktu yang sudah terlalu lama. Tapi selama suhu tubuh Menik naik turun itu, saya belum berikan Paracetamol sama sekali, karena anaknya tidak rewel.

meniktyphusIni dalam perjalanan ke dokter, liat kan, masih semangat pake baju Anna!

Setelah periksa, akhirnya dokter bilang, jika sampai besok sore masih demam lagi, mau nggak mau harus dilakukan pengecekan darah di laboratorium. Alhamdulillah keesokan harinya sudah tidak demam lagi, jadi kami tidak jadi cek darah. Aktivitas harian kembali normal, dan dalam hati saya bersyukur karena bisa merayakan lebaran tanpa risau dengan kesehatan Menik. Hari ketiga libur lebaran, kami sekeluarga ke Jakarta.

Ketika sampai tujuan, saya sedang menyusui Menik, dan merasakan perubahan suhu tubuhnya meningkat drastis. Raut cerianya mulai menghilang, walau masih bisa request mau makan bakso dan masih berusaha tertawa ketika digoda. Karena sedang dalam perjalanan, saya langsung memberikan paracetamol agar tubuh Menik terasa nyaman. Sambil berkonsultasi via Whatsapp, dokter menyarankan untuk langsung cek darah sesampainya di Bandung. Rasa khawatir ditambah kalau dokter kesayangan Menik sedang ikut konferensi ASI di Melbourne, tapi beliau menenangkan dan bilang, konsul cukup via Whatsapp dulu, jika nanti harus ketemu dokter akan diberikan rekomendasi.

Bagaimana hasil lab Menik? Lihat di halaman berikutnya.