Mendukung Mbak Yoyo

breastfeeding

Tadi, entah kesambet apa, Nara yang biasanya ogah ikutan PAUD setelah posyandu di kampung, mendadak semangat duduk di antara mainan bersama mbak-mbak KKN. Mungkin karena ada mbak-mbak KKN, ya. Nara emang punya kecenderungan suka ngecengin mbak-mbak sejak dini. Sumpah, nggak ada yang ngajarin. Naluri kali. Mungkin nurun dari bapaknya :D

Anyway, karena dia ogah pulang, jadinya saya ikutan duduk bersama ibu-ibu muda yang juga lagi nungguin anaknya main. Dan di antara ibu-ibu muda tadi, ada yang lagi nyusuin anaknya. Standar lah ya, pertanyaannya, berapa bulan anaknya? Lalu dilanjut dengan ASI atau ‘disambung’?

Kebetulan si mbak Yoyo, sebutlah gitu namanya, yang nyusuin ini, anaknya ASI eksklusif. Anaknya 4 bulan dan sejak lahir hanya minum ASI saja. Ditanya gimana beratnya? Cukup. Emang anaknya enggak gemuk, sih. ASI-nya lancar? Lancar aja. Tapi cukup enggak, kok anaknya nggak gemuk? Gimana kalo ditambahin susu formula aja? Si mbak Yoyo bilang, nggak boleh sama suaminya. ASI aja cukup. Tapi kan kamu ibunya, yang paling tahu kan kamu kalo kurang.

Saya yang tadinya cuma tolah-toleh dikit ke bayinya sambil dadah-dadah, mulai agak gatel. Biasanya saya nggak ikutan acara ibu-ibu gini karena Nara udah cabut duluan. Terutamanya sih karena saya nggak jago obral-obrol gini.

Tiba-tiba,

“Supaya ASI banyak tuh ibunya kudu seneng, Bu. Nggak boleh stres.”

Eh. Siapa barusan yang bilang?

Oh, saya ternyata.

Normally, saya emang gak pernah ikutan acara ibu-ibu karena saya bukan tipe yang thriving di tengah orang banyak macem arisan. Saya jenis yang akan dengan cupu melipir ke samping atau ke belakang, ke tempat saya bisa ‘menghilang’. Tapi sore tadi, dalam sebuah kejarangan, saya nggak pingin menghilang.

Menyusui bukan soal sepele. At least, menurut saya. Di Indonesia yang belum seluruh rakyatnya bisa dapat akses air bersih, sanitasi cukup, dan dukungan tenaga kesehatan yang baik, menyusui eksklusif adalah cara terbaik untuk menjamin kelangsungan hidup bayi di 6 bulan pertama.

“An exclusively breastfed child is 14 times less likely to die in the first six months than a non-breastfed child, and breastfeeding drastically reduces deaths from acute respiratory infection and diarrhoea, two major child killers (Lancet 2008). The potential impact of optimal breastfeeding practices is especially important in developing country situations with a high burden of disease and low access to clean water and sanitation.” - Nutrition: Breastfeeding. UNICEF (http://www.unicef.org/nutrition/index_24824.html)

Nggak ada salahnya kita dukung ibu menyusui di Indonesia supaya bisa menyusui dengan baik, kan?

Kembali ke Mbak Yoyo tadi, dia manggut-manggut aja pas dibilangin perlu minum jamu. Lalu, dia dibilangin gak boleh minum es karena anaknya bisa pilek kalo ASI-nya dingin.

Saya ingin membantu Mbak Yoyo. Cerita selengkapnya, lihat di halaman selanjutnya, ya.


3 Comments - Write a Comment

  1. hahaha, coollll :)) saya juga bukan tipe yang suka ngobrol-ngibril haha-hihi di arisan, deesbe. kalau pas posyandu pun, dateng-timbang-sodorin kms-terima kms+konsumsi-pulang ;p tapi bener juga, kalau denger komentar tsb rasanya ‘gatel’ pgn lurusin, apalagi kalau posisinya kayak mbak yoyo yg ilmu ngASInya masih terbatas, jadi semua info diterima tanpa tahu mana mitos mana yang benar

  2. lama-lama pengen deh jadi semacam konselor walau nggak perlu yg resmi dan bersertifikat gimana2. soalnya kadang ‘orang biasa’ yg ikut nimbrung malah dibilang ‘sok tau, sape sih elo?’ kalo pernah ikut pelatihan singkat atau sejenisnya kan lumayan. agak2 legitimate dikit lah hihi.

Post Comment