Dampak Psikologis Kontes Kecantikan Anak

kontes-kecantikan-anakMenurut Mommies, mereka cantik atau tidak?

Belum lama ini saya membaca artikel yang ditulis oleh Sazqueen berjudul Kontes Eksploitasi Anak. Saya setuju 100% dengan isi artikel tersebut bahwa kontes kecantikan anak adalah hal yang sangat menakutkan. Di mana seharusnya anak-anak sibuk bermain dengan teman-temannya, sekolah, menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan liburan bersama keluarganya, anak-anak peserta kontes kecantikan ini malah sudah sibuk mencari ketenaran, kepopuleran, dan kekayaan dengan mengeksploitasi dirinya. Padahal menurut saya anak-anak tersebut lebih cantik saat tidak mengenakan make up dan menggunakan baju biasa khas anak-anak, karena mereka jauh terlihat lebih tua saat menggunakan make up super tebal dan serba palsu serta baju seperti tante-tante.

Saya 99,9% yakin inisiatif untuk mengikuti kontes kecantikan itu tidak mungkin berasal dari sang anak, melainkan inisiatif dari sang ibu. Mengapa seorang ibu sampai tega-teganya mengikutsertakan anaknya ke kontes kecantikan seperti itu? Ada 3 kemungkinan. Pertama, sang ibu dulu ingin mengikuti kontes kecantikan seperti itu tetapi tidak kesampaian sehingga ia menggunakan anaknya sebagai penerus mimpinya. Kedua, ia dulu peserta kontes kecantikkan juga dan ia ingin terus merasakan euphoria kontes tersebut dan menyuruh anaknya melanjutkan karirnya. Ketiga, untuk dapat uang yang banyak pastinya.

Di artikel Kontes Eksploitasi Anak, saya membaca salah satu komentar yang menyebutkan bahwa acara Little Miss Indonesia didampingi oleh psikolog dan KPAI. Terus terang saya sangat miris membacanya. Bagaimana mungkin seorang psikolog mendukung dan mendampingi acara seperti itu padahal banyak sekali penelitian yang menyebutkan dampak negatif kontes kecantikan anak terhadap psikologis anak.

Para peneliti sependapat bahwa apabila anak sudah terlalu fokus dengan penampilan sejak kecil, pada saat dewasa nanti kepercayaan diri, body image, dan harga diri mereka akan terganggu. Saat mereka remaja mereka akan kesulitan mencari jati diri dan selanjutnya perjuangan dalam hal kesempurnaan, diet, eating disorder, dan body image akan memuncak saat mereka sudah dewasa. Lingkungan yang penuh kritik saat mereka kecil dapat membuat mereka memasang target kesempurnaan yang tidak mungkin dapat dicapai.

Selanjutnya: Yang tertanam dalam benak mereka, kecantikan fisik dan daya tarik adalah kunci menuju sukses!


Post Comment