(Nggak) Beruntung Menyusui

 

IMG_7949

Suatu siang yang terik di perjalanan menuju kantor setelah mengantar jemput anak saya sekolah, saya telepon suami saya, kurang lebih seperti ini ocehan saya: “Duh aneh banget deh tadi ngobrol sama ibu-ibu di sekolah, masa aku dibilang beruntung banget bisa menyusui sambil kerja. Lah beruntung dari mana? Jelas-jelas aku usaha jungkir balik, usahain konsisten mompa, bangun malem kejar tayang ASIP. Itu kan usaha, bukan beruntung. Aku salah atau nggak sih ngerasa gini?”  — Suami saya di ujung telepon dengerin aja (kayaknya ya, atau jangan-jangan dikempit aja handphone-nya daripada denger yang bawel :p) .

Ini kejadiannya sekitar 4 tahun lalu, pas anak saya yang pertama baru masuk taman bermain kecil di usia dua tahun, saya seorang ibu baru, sedang dalam proses menyapih. Lagi capek-capeknya kali ya, jadinya sensi dan crancky. Hahaha.

Tapi itu lah yang saya rasakan waktu itu, rasanya usaha dan lelahnya saya nggak sebanding banget kalau dibungkus dengan kata “beruntung”. Waktu itu, definisi saya tentang beruntung adalah semacam anugerah yang jatuh dari langit dan bisa didapatkan dengan cuma-cuma.

Tapi kemudian waktu berjalan, makin banyak ketemu orangtua lainnya, ibu-ibu dari pergaulan di sekolah anak, klien kerjaan yang kebetulan lagi menyusui juga, saudara sepupu yang baru melahirkan dan dari pertemanan lainnya. Dari kehidupan sosial ini saya belajar banyak tentang menjadi ortu untuk anak saya dan menjadi teman sesama ortu.

Melihat kondisi banyak ortu lain, saat itu lah saya merasa memang sudah sewajarnya saya merasa beruntung. Tidak bermaksud berbahagia di atas penderitaan orang lain, tapi memang banyak alasan untuk merasa beruntung. Apalagi beruntung itu kan soal merasa, jadi bisa sangat relatif, tergantung cara pandang masing-masing.

Ternyata, perihal menyusui saya memang salah satu yang beruntung. Apa pasalnya? Simak di halaman selanjutnya!


Post Comment