Ketika Tidak Mudik

Penghujung bulan Ramadan biasanya identik dengan mudik. Kemarin, saat hari-hari terakhir Ramadan tahun ini, walupun cuti bersama Lebaran belum dimulai, tapi suasana mudik sudah mulai sangat terasa. Di jalan saat hendak berangkat ke kantor, pemandangan orang mudik sudah mulai terlihat. Jalan-jalan juga tidak seramai biasanya. Tukang-tukang sayur pun satu persatu sudah mulai susah ditemui.

Melihat pemandangan itu, saya jadi sedikit mellow. Kenapa mellow? Sejak tahun lalu, karena pekerjaan, saya tidak bisa mudik saat lebaran. Ya, sejak tahun lalu, perusahaan jasa transportasi tempat saya dan suami bekerja menetapkan peraturan untuk menangguhkan cuti bersama. Jadi, lupakan cuti bersama lebaran dan cuti-cuti bersama lainnya! Hiks :( Bahkan nih ya, to make it worse, gak jarang saya atau suami terkena jatah posko sehingga harus ngantor saat hari H Lebaran. Nasib oh nasib.

Padahal saat liburan Lebaran seperti ini, sudah tentu Mbak Pengasuh juga mudik, sehingga jadilah saya dan suami bergantian menjaga Gendra jika salah satu dari kami harus posko. Oiya, fyi, di Bandung, bisa dibilang saya “sebatang kara”. Saya dan suami murni anak rantau dan karenanya di Bandung tidak ada satu pun keluarga yang bisa dikunjungi saat Lebaran (dan dimintai tolong untuk menjaga Gendra tentunya).

son

Tahun lalu, karena saya dan suami gak bisa ijin dan gak ada orang yang bisa menjaga Gendra di rumah, terpaksa saya mengajak Gendra yang waktu itu masih berusia sekitar 7 bulan ke kantor selama beberapa hari. Kemandirian bener-bener diuji deh dalam masa-masa ini. Apalagi suami saya tidak berdinas di satu kota yang sama dengan saya. Dia di Jakarta, saya di Bandung, sehingga otomatis ketika suami harus kembali bekerja, saya hanya berdua saja dengan Gendra.

Survival test ini dimulai saat subuh. Sebelum Gendra bangun, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak makanan untuk Gendra. Saya sangat bersyukur waktu itu Gendra masih di awal MPASI-nya sehingga makanannya tidak harus ribet. Waktu itu agar praktis, saya menyiapkan umbi-umbian plus sayur yang dikukus, serta lauk dan buah. Setelah semuanya selesai, lalu saya mandi. Semua itu saya lakukan dengan terburu-buru sebelum Gendra bangun.

Setelah Gendra bangun, lalu mandi dan sarapan, barulah saya (dan Gendra) bersiap-siap untuk ke kantor. Saya ke kantor dengan menggendong Gendra di depan dan tas ransel berisi perlengkapan-perlengkapan Gendra di belakang. Phiuhh… Pulang kantor, saya harus memandikan Gendra terlebih dulu, setelahnya saya tinggalkan Gendra di kamar (sambil menangis) untuk mandi dengan terburu-buru juga tentunya, hiks. Setelahnya saya masih harus menyuapi Gendra, lalu makan sambil menemani Gendra bermain.

Skenario seperti itu seharusnya berlangsung selama 4 hari. Tapi praktiknya ternyata hanya berlangsung dua hari saja karena di hari ketiga dan keempat saya tumbang karena kelelahan, hahaha! Ehm, saya sebenarnya bingung, harus bangga karena mampu bertahan selama 2 hari atau sedih karena tumbang sebelum pertandingan usai.

Tapi over all, tahun lalu itu semua masih bisa saya handle dengan baik karena waktu itu Gendra belum terlalu aktif. Saat dibawa ke kantor pun, saya masih bisa bekerja sembari mengasuh Gendra yang waktu itu saya dudukkan di stroller.

Tahun ini ceritanya pasti berbeda, karena Gendra sudah jadi balita aktif yang gak bisa diam. Maunya jalaaaaaan terus, mengoceh sana-sini, dan makin menuntut perhatian lebih dari saya. Anak model begini masa iya mau dibawa ke kantor?? Bisa berantakan nanti kantor saya dibuatnya, huhuhu. Selain itu, menjaganya sendirian di rumah juga pasti akan jadi cerita yang lebih seru (baca: rempong) daripada tahun lalu.

Jadi gimana? Karena sudah gak mungkin juga membawa Gendra ke kantor, jadi pilihan terakhir saya adalah terpaksa ijin dari kantor bergantian dengan suami. Sampai berapa lama? Ya sampai Mbak Pengasuh kembali T_T.

 


Post Comment