Pentingnya Memahami Kesehatan Reproduksi

Pada bulan Juli lalu, Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Developmental Goals (KUKPRI-MDGs) pergi ke New York, Amerika Serikat untuk melakukan perundingan menuju perumusan Agenda Pembangunan Pasca 2015. Salah satu bahasan utama dalam perundingan tersebut adalah penurunan angka kematian ibu dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu saat ini dan 15 tahun ke depan.

Pada acara tersebut, Indonesia menjadi salah satu pembicara dalam panel tentang Hak Kesehatan Seksual dan Kesehatan Reproduksi/ Sexual and Reproductive Health and Reproductive Rights. Side event tersebut diselenggarakan oleh Partnership for Maternal, Newborn, and Child Health (PMNCH). Ada 5 pembicara dalam side event tersebut, yaitu Ambassador Maria Cristina Perceval (Permanent Representative of Argentina’s Mission to United Nations), Fabienne Bartolli (Counselor for Social Affairs, Permanent Mission of France to the United Nations), Diah S. Saminarsih (Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs), Laura Laski (Chief of Sexual Reproductive Health UNFPA), dan Rama Lakshminarayanan (Senior Adviser PMNCH) selaku moderator.

 

 

 

Foto PMNCH_sideevent_OWG13_140714

Latar belakang diadakannya diskusi ini adalah adanya perhatian khusus dari PMNCH, UNFPA, USAID, dan beberapa negara lainnya seperti Perancis dan Argentina tentang pentingnya pemuatan target mengenai kesehatan seksual dan reproduksi pada agenda pembanguna pasca 2015. Menurut mereka akses terhadap layanan kesehatan dan reproduksi dipandang sebagai faktor pemungkin dunia untuk menurunkan angka kematian ibu.

Para pembicara dalam panel tersebut menyampaikan pandangannya masing-masing, begitu juga dengan Indonesia. Diah S. Saminarsih menyampaikan pandangan Indonesia yang kurang lebih seperti ini, “Kita semua setuju bahwa kemanusiaan merupakan landasan pemikiran dan pendekatan yang tepat dalam mencegah kematian ibu dan anak. Walaupun saat ini kita sedang mendiskusikan tujuan dan target global untuk diturunkan dalam indikator kuantitatif di tingkat nasional, saya ingin mengajak semua pihak untuk berpikir lebih jauh dari angka dan melihat manusia di balik angka-angka tersebut.

Satu digit angka yang disebutkan, satu target, maupun satu kata yang disebutkan dan disetujui dalam ruang perundingan di tingkat global, akan sangat berarti karena target pembangunan tersebut akan diterjemahkan dan dimasukkan ke dalam agenda pembangunan nasional, yang selanjutnya akan diturunkan ke tingkat sub-nasional hingga ke desa. Maka apa yang dibicarakan di sini akan sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang.

Saya ingat suatu cerita di mana perempuan dilarang untuk membawa bayinya ke dalam rumah karena budaya mengharuskan mereka untuk menggantung bayinya di atas pohon. Pernah ada kejadian, bayi tersebut dimakan oleh anjing karena cabang pohon tempat menggantung bayinya terlalu rendah. Masih banyak tempat lain di dunia, termasuk di Indonesia, di mana para perempuan belum mengerti hak seksual dan kesehatan reproduksi mereka. Karena kejadian nyata seperti inilah, kita memang harus mengutamakan kesehatan seksual dan reproduksi dalam sebuah goal kesehatan akan memberikan dampak signifikan bagi status kesehatan ibu, anak, dan remaja.

Sangat penting untuk memasukkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi sedini mungkin sencara konkret. Hal ini akan mencegah perilaku seks bebas, penyebaran HIV/AIDS, menjaga agar usia sekolah remaja semakin panjang, dan kesadaran untuk merencanakan keluarga. Sedangkan di sisi kuratif, akses kesehatan reproduksi di Puskesmas berarti menjaga para ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan secara berkelanjutan hingga saatnya melahirkan. Dengan kata lain, masih banyak cara-cara nyata untuk membantu negara-negara mencapai target-target MDGs. Tujuan pembangunan pasca 2015 harus memasukkan cara atau proses yang diperlukan negara-negara di dunia untuk mencapai tujuan pembangunan yang disepakati bersama.”

Indonesia menyadari bahwa menurunkan angka kematian ibu dan anak merupakan target nasional yang genting. Saat ini angka kematian ibu dan anak yang berada di 359.000 per 100.000 kelahiran hidup memerlukan fokus pada target kesehatan menjadi kesatuan integral, di mana di dalamnya sudah mencakup akses terhadap layanan KB, diberikannya layanan kesehatan reproduksi terhadap perempauan yang belum menikah dan remaja, akses terhadap kesehatan reproduksi, dan peletakkan kesehatan reproduksi dalam layanan kesehatan primer yang dijamin dalam sistem jaminan sosial kesehatan.


Post Comment