Rindu Kehadiran Adik

Ibu, boleh nggak perutnya aku gunting ?

Aduuuuhh…. ya, nggak boleh dong, Mas Bumi. Kan sakit. Lagian mau ngapain?

Aku mau lihat perut ibu, siapa tahu ada dedeknya.

Ya, nggak ada. Lagian kan ibu bilang hati-hati kalau pegang gunting, bahaya.

Iya. Tapi kenapa diperut ibu nggak ada dedeknya sih? Lama amat? Aku kan mau punya dedek.

Amiin. Bantuin doa aja ya supaya Bumi bisa cepat punya dedek.

Kita berdoa bersama yuk, ibu….

Percakapan ini terjadi kira-kira sebulan yang lalu ketika saya dan Bumi main ndusel-nduselan di kasur. Belakangan ini Bumi memang mulai sering mempertanyakan soal adik. Kapan Bumi punya adik? Kenapa di perut ibu belum ada adiknya? Ketika kumpul keluarga seperti saat Lebaran kemarin, dengan polosnya Bumi juga kerap bilang, “Bumi kan mau punya adik, lihat deh, tuh, perut ibu kan gendut” hahaha… Padahal persoalan perut ibunya gendut bukan karena hamil, tapi memang buncit *elus elus perut*. Bahkan, Bumi sudah nyiapin nama buat adiknya. “Aku mau punya adik perempuan, nanti namanya Aqeela, ya, Bu!,” serunya.

buminay

Terus terang, saya dan suami cukup kaget meliat betapa antusiasnya Bumi merindukan kehadiran seorang adik. Dulu, saya pikir, ketika akan nambah momongan, saya harus ekstra kerja keras. Mempersiapkan mental dan memberikan pengertian lebih dulu ke Bumi sebagai calon kakak. Ternyata dugaan saya sepertinya keliru. Melihat tingkah laku saat Bumi bermain dan memperlakukan sepupu sepupunya yang masih Bayi, sepertinya Bumi sudah siap punya adik. Kalau dulu Bumi selalu merengek dan cemburu saat saya menggendong anak bayi, sekarang tidak lagi.  Yang ada, malah justru Bumi minta ikut gendong.

Mungkin hal ini juga nggak terlepas karena usia bumi sudah lewat dari 4 tahun. Banyak yang bilang, jarak usia antar anak 3 tahun atau lebih merupakan saat yang tepat untuk menambah adik. Katanya, sih, jarak usia yang cukup jauh bisa membuat si kakak memperlakukan adik bayi lebih lembut dan penuh kasih sayang. Sang kakak bahkan sudah siap berbagi kasih sayang orangtuanya, dalam hal ini rasa cemburunya lebih bisa ditekan dan tidak ‘meledak-ledak’.

Setelah memiliki Bumi, saya dan suami memang sepakat untuk nggak buru-buru nambah adik. Makanya, setelah masa nifas, saya langsung memutuskan menggunakan alat kontrasepsi, IUD, jaga-jaga biar nggak kebobolan. Lagi pula, setidaknya saya dan suami sama-sama ingin mencurahkan perhatian secara maksimal pada Bumi.

Lagian kami pikir, membesarkan dua balita sekaligus itu pekerjaan yang berat. Buat saya, ngurus satu balita saja sudah sering bikin kepala pening, jadi nggak kebayang kalau punya dua balita, hahahaa. Memang, sih, ada juga yang beranggapan, punya anak dengan beda usia yang tidak terlalu jauh justru lebih mengasikan. Mereka bisa jadi teman bermain, dan kita sebagai orangtua juga nggak perlu repot-repot mengurus anak kecil lagi. Istilahnya, biar sekalian capek. Mungkin, persis dengan cerita Ameel ini.

Selain memikirkan usia dan kesiapan Bumi, ketika memutuskan ingin hamil lagi, saya pun harus memikirkan faktor usia sendiri. Biar bagaimana pun, faktor usia kan memang penting. Apalagi kalau ingat usia saya sekarang sudah melebihi kepala 3. Sudah bisa dipastikan, kondisi kehamilan saya nanti akan berbeda ketika saat sedang mengandung Bumi.

Walaupun saya sudah pernah merasakan suka dukanya hamil, menyusui dan merawat anak, bukan berarti saya tahu segala-galanya. Apalagi kalau ingat banyak teman yang bercerita pengalaman hamil anak kedua hingga membesarkannya pasti akan akan jauh berbeda. Yang jelas, saat ini saya sedang mempersiapkan semuanya, baik fisik, mental, emosioanal ataupun finansial. Mudah-mudahan saja, keinginan Bumi punya adik segera terwujud, ya….

 


2 Comments - Write a Comment

  1. Tos ah mas Bumi sama Tangguh… ini jg udah nanya2 mau punya adek bun, yg banyak aja ya biar bisa main bareng, hahaha.. #emaknya mau pingsan dgr kata banyak. hehehe… Ya smoga Bumi dan Tangguh sama2 segera punya adek, amin…

  2. Hahahahaa…. amiin dulu, ah!

    Waduh Tangguh memangnya mau punya adik berapa? Punya satu aja list PR ayah ibunya bakal bejibun. Gimana kalau banyak, ya :))
    Tapi kalau aku masih santai, sih, Mbak…. maksudnya belum sampai ikutan program ini itu atau cek lanjutan ke dokter. Kalau Mbak Ameryani, gimana?

    Mudah2an aja meskipun santai, tapi segera dipercaya lagi, ya…. amiin lagi, aaah :D

Post Comment