Menghubungi Konselor Laktasi

IMG_7903

Beberapa kali saya ditanya teman yang baru melahirkan (atau teman yang punya teman baru melahirkan) kemana harus menghubungi bila perlu bantuan Konselor Laktasi (KL). Tadinya saya pikir, susah amat, sih, bukannya di setiap rumah sakit sudah ada KL yang walau tidak stand by setiap hari tapi bisa dipanggil sewaktu-waktu? Atau kalau memang tidak ada, kan, tinggal kontak AIMI saja, konselor langsung meluncur. Ternyata kenyataannya tidak semudah itu.

Saya pernah ditanya teman di hari Sabtu. Saat saya googling-kan nomor kontak AIMI Jakarta di webnya, saya baru ngeh ternyata menelepon AIMI hanya bisa di hari kerja Senin-Jum’at jam 9.00-16.00 WIB. Wah, bagaimana dengan yang baru perlu saat akhir pekan, melahirkan atau kesulitan menyusui, kan, nggak muncul di hari kerja saja?

Saat mendapat kesempatan bertemu dengan personel KL dan IBCLC (sertifikasi internasional untuk KL), saya menanyakan hal ini. Hasilnya, saya mendapatkan kiat menghubungi KL dan daftar rumah sakit yang mempunyai KL sendiri baik yang stand by setiap hari maupun on-call:

  • Samakan persepsi tentang menyusui dan seluk-beluknya dengan suami. Ini penting karena saat persalinan nanti suamilah yang harus mengambil keputusan atas tindakan dan menandatangani berkas bila ada masalah. Saya kecolongan sebotol susu formula saat persalinan anak kedua karena suami belum paham tentang ASI dan saya masih di ruang pemulihan.
  • Sebelum melahirkan, datangi seminar atau ‘training’ menyusui yang diadakan oleh AIMI dan kenali pengurus AIMI. Simpan kontaknya, atau minimal panitia acara tersebut. Kelak kontak ini akan bisa membantu di waktu yang darurat.
  • Pelajari tentang mitos menyusui supaya bisa memutuskan kapan betul-betul perlu bantuan KL.
  • Memilih RS yang sayang ibu akan mengurangi banyak masalah menyusui karena tenaga kesehatan yang support menyusui dan sudah terbiasa menghadapi masalah belajar menyusui pertama kali dan bisa mengidentifikasi masalah lanjutan (misalnya bayi yang tongue tie) dan memberi rujukan atau saran yang tepat.
  • Memilih RS sayang ibu jangan berdasarkan klaim dari si RS, tapi cari testimonial teman atau kenalan yang mengalami sendiri melahirkan dan rawat inap disitu.
  • RS yang sayang ibu biasanya sudah menyediakan KL atau dokter anak yang sudah bersertifikat KL atau bahkan IBCLC. Kunjungan KL kadang sudah termasuk dalam paket persalinan, sekali saat baru melahirkan dan sekali saat mau pulang. Beberapa RS malah KLnya mengadakan kunjungan harian seperti observasi dokter kandungan dan dokter anak. Bila tidak, minimal RS memiliki kontak KL yang bisa on-call kapan pun diperlukan.
  • Bila susah/tidak ada RS sayang ibu di daerah Mommies atau dokter kandungan langganan tidak praktek di RS yang sayang ibu, setidaknya cari dokter anak yang pro-ASI dan IMD dan update mengenai permasalahan menyusui. Bagaimana cara mengetahuinya? Temui langsung calon dokter anak saat jam prakteknya, dan ajak diskusi mengenai ASI. Kalau perlu bawa print-out literatur mengenai ASI, IMD, dll. Usahakan bersama suami, ya.
  • Perjanjian dengan KL dari AIMI sebetulnya bisa dilakukan di hari libur/akhir pekan, TAPI menelponnya tetap harus di hari kerja. KL yang saya temui menjelaskan bahwa diperlukan kira-kira setidaknya satu hari kerja untuk AIMI mencari KL yang available di hari dan waktu yang diminta oleh ibu menyusui. Jadi nggak bisa langsung datang begitu ditelpon, ya.

Lalu, rumah sakit mana saja yang sudah memiliki KL? Daftarnya ada di halaman berikutnya, ya. Tapi sayangnya saya hanya punya daftar untuk RS di Jakarta saja :(.

Daftar RS yang punya KL >>


Post Comment