Berhijab, Salah Satu Wujud Syukur

Senin lalu, 21 July 2014, hari terakhir ngantor di bulan puasa, keluarga Female Daily Network sempat ngadain buka puasa bareng di kantor. Meskipun kantor sudah nyediain makanan, kami pun memutuskan mengadakan potluck. Ya,  supaya kebersamaan lebih kerasa juga, kan.  Jadi, masing-masing departemen kebagian bawa makanan. Karena departemen di Female Daily Network cukup banyak, sudah kebayang, ya, kalau akhirnya makanan berlimpah ruah.

IMG-20140721-WA0011

Yang menarik, waktu ngumumin akan ada buka puasa di kantor, plus mengadakan sistem potluck, Mbak Hanzky juga bilang kalau masing-masing dari anggota keluarga Female Daily harus bercerita 3 hal yang patut disyukuri dalam hidup ini. Saya pun lantas mikir, apa yan yang harus saya sebutkan? Sementara banyak sekali hal yang harus saya syukuri dalam hidup ini.

Selain nikmat diberikan kesempatan untuk membuka mata setiap pagi, bertemu dan melihat perkembangan anak, punya suami yang begitu memahami saya, punya orangtua yang begitu sayang dan masih mau terus direpotkan karena sampai detik ini saya masih nebeng di rumah mereka, punya kesibukan bekerja di kantor yang begitu menyenangkan, dan masih banyak hal lain yang rasanya nggak akan akan selesai kalau ditulis satu persatu.

Kerena keterbatasan waktu, nggak mungkin dong semuanya disebutin? Waktu itu akhirnya  saya memilih untuk mengucap syukur atas 3 hal. Pertama, bersyukur atas nikmat sehat, bersyukur karena masih dikelililingi orang-orang yang begitu menyenangkan dan membuat hidup saya begitu berwarna, dalam hal ini tentu nggak terlepas dari pihak keluarga, sahabat dan lingkungan kantor Female Daily Network. Dan terakhir, saya bersyukur karena di bulan puasa ini saya sudah mengenakan hijab.

Ngomongin soal hujab, sebenarnya sudah sejak dari dulu saya kepingin menutup aurat dengan mengenakannya. “Ya, paling nggak, ketika saya sudah menikah,” begitu niat saya. Tapi entah kenapa setelah nikah, saya tak kunjung memakainya. Mungkin hidayahnya belum datang kali, ya? :D Saya pun sempat tanya ke ayah, kenapa beliau nggak pernah meminta atau memberikan isyarat pada anak-anaknya supaya pakai hijab? Jawabannya, “Ayah akan senang sekali kalau anak perempuan ayah bisa pakai jilbab. Tapi buat apa kalau pakai jilbab hanya untuk sekedar aksesori? Sedangkan hati dan perilakunya tidak sesuai?”.

IMG_20140729_080125 (1)

Wiih… #jleb banget, deh! Saya pikir, benar juga, apa yang beliau bilang. Kalau memang keinginan memakai hijab belum datang dari hati, saya juga takut kalau malah nantinya berjalan setengah-setengah. Maksudnya hanya bertahan mengenakannya dalam hitungan bulan, selanjutnya malah memutuskan untuk lepas. Apalagi kalau pakai hijab cuma lantaran gaya-gayaan atau sekedar tren.

Keputusan saya memakai hujab ini pun sebenarnya tanpa disengaja. Lebaran tahun lalu, saat sholat ied, saya niat untuk mengenakan busana muslim, lengkap dengan kerudungnya. Dari sanalah akhirnya cerita mengenakan hijab ini dimulai. Saya keterusan pakai jilbab! Bahkan saya masih ingat betul ketika halal bi halal dan ketemu teman-teman, banyak di antara mereka yang mengajukan pertanyaan serupa. “Dis, elo udah pakai hijab, ya, sekarang?”. Setiap kali ditanya, saya punya punya jawaban yang sama, “Pakai hijab karena edisi Lebaran, nih. Tapi mudah-mudahan aja bisa berlanjut, ya!”

Kenyataannya, alhamdulillah sampai saat ini saya saya masih mengenakannya. Yang pasti, buat saya pribadi mengenakan hijab merupakan salah satu proses pembelajaran hidup dan wujud rasa syukur semua karunia-Nya. Jilbab hanyalah sebatas kain, sebagai perempuan muslim yang pengetahuan agamanya belum terlalu banyak,  saya memang masih harus banyak belajar memahami hakekat jilbab itu sendiri.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment