Belajar Menurunkan Gengsi

Saya mau mengaku kalau saya punya kadar gengsi yang tinggi. Dari dulu, saya ingin menjadi nomor satu. Inginnya bisa melakukan semua dengan sempurna, dan akan merasa sangat malu jika melakukan kesalahan yang harusnya bisa dihindari. Sering juga saya berada di situasi setelah adu argumen sama suami, harusnya ketika sudah saling minta maaf, maka situasi kembali seperti biasa. Nah, kalau saya bisa menghindari sehari atau dua hari untuk menghilangkan rasa kesal dan juga malu. Gengsi-lah kalau harus menghidupkan suasana. Eh, gengsi bukan sih, namanya? Karena kalau cek di KBBI, gengsi itu artinya kehormatan, harga diri, martabat. Intinya saya tidak senang jika ada di situasi harus memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan orang yang tadinya berantem sama saya :p, kalimat defense-nya “Gengsi, dong!” *Duh, malu!*

ssssaazzz

Dulu saya tidak pernah ambil pusing dengan perasaan ini, yang paling sering kena adalah suami tentunya. Tapi sebagai orang yang sudah mengenal saya selama 10 tahun, suami rasanya pun tidak pernah ambil pusing. Dirinya selalu mengalah setelah sesi berantem untuk mencoba mencairkan suasana. Jadi nggak ada masalah. Suami udah biasa banget diem-dieman dulu, nggak ngajak bercanda dulu setelah adu argumen. Kalau dipaksakan, saya pasti ngambek. *Waduh, ini buka aib sendiri, haha*

Anyway, sejak punya anak, saya tidak bisa lagi menghindari situasi orang pertama yang harus menghidupkan suasana antara saya dan si anak. Kenapa? Ya masa gengsi sama anak sendiri. Tapi sesungguhnya, situasi saya harus mencairkan suasana setelah menasihati anak itu buat saya rasanya awkward moment banget, loh! Toddler dan tingkah lakunya yang ajaib ini memang jadi arena belajar baru bagi saya. Salah satunya adalah belajar untuk menurunkan rasa malas menegur duluan setelah sesi ‘ngambek’ sama Menik. Bayangkan saya ada dalam situasi selesai memberi nasehat ke Menik setelah si balita menabur isi piring makan siangnya ke seluruh lantai ruang makan. Karena baru belajar untuk memberikan argumen, biasanya kami jadi adu mulut.

“Menik, kenapa nasinya ditabur begitu?”

“Emm, nggak apa-apa!”

“Loh, apa-apa, dong! Nasinya terbuang, lantainya kotor. Yuk, beresin dulu!”

“Enggak mau!”

“Kenapa?”

“Menik abis tabur-tabur, nggak mau bersihin, mau main aja!” kemudian anaknya kabur ke ruang bermain.

Anak memang guru yang terbaik, lihat lanjutan cerita saya di halaman berikutnya!


Post Comment