Tinggal Sama Orangtua: A. Jadul, atau B. Manja

Slide2(1)

Zaman saya masih single, saya jenis orang yang gampang ‘kecewa’. Alasannya sederhana, sih. Saya ini perfeksionis. Risiko jadi orang perfeksionis ya gampang kecewa. Karena emang nggak ada hal yang sempurna, kan? Rencana gak berjalan lancar, bete. Orang lain ga bekerja sesuai standar kita, bete lagi. Gagal memenuhi deadline sendiri, bete banget. Jadi orang perfeksionis banyak betenya emang.

Omong-omong soal rencana gak berjalan lancar, salah satu rencana hidup terbesar saya yang bubar jalan hampir tanpa jejak adalah situasi domisili saya saat ini. Saya tinggal bersama ayah dan ibu saya. Di rumah mereka. Bersama suami dan anak.

Untuk standar pasangan muda masa kini, saya mungkin terhitung: a. jadul, atau b. manja. Mengingat umumnya pasangan muda masa kini lebih suka tinggal di rumah sendiri atau ngontrak. Alasannya berkisar antara ingin mandiri dan ogah berkonflik soal urusan rumah tangga dengan ayah-ibu. Saya juga begitu, kok.

Saya juga pernah punya cita-cita tinggal sendiri setelah menikah karena alasan yang sama. Ditambah lagi, saya sudah biasa tinggal sendiri selama bertahun-tahun, rasanya akan sulit tinggal bersama kembali dengan orangtua saya. Lagian, kami memang nggak seratus persen kompak. Malahan ketika berjauhan, seperti saat saya ngekos, hubungan kami lebih adem. Jadi, pilihan saya dan suami waktu itu memang mengontrak. Nggak bisa ditawar.

Lalu, sebelum kami sempat pindah rumah, saya hamil dan masuk rumah sakit. Kemudian, harus bed rest sampai anak saya lahir. Rencana mengontrak ditunda karena ya nggak mungkin aja bed rest tapi di rumah sendirian.

Nggak taunya, itu cuma awal dari kebubaran rencana mengontrak kami. Setelah anak saya lahir pun, kondisi kesehatan saya nggak pernah 100%. Tujuh puluh lima persen lah paling banter jika dibandingkan sebelum saya hamil. Saya nggak bisa ngurus rumah sendiri, apalagi ditambah anak. Bisa sih, maksa. Pernah. Terus saya sakit tipus, dua kali. Adanya anak dan rumah makin nggak keurus karena saya (lagi-lagi) harus bed rest sebulan. Though luck.

Anyway, akhirnya saya dan keluarga kecil saya tinggal bersama ayah-ibu saya. Sampai sekarang. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, konflik selalu ada setiap hari. Sampe bosen karena konfliknya itu-itu saja. Kapan anak makan, makan apa, udah bobo siang belum, mandinya jam berapa. Soal urusan rumah tangga pun juga ada. Jadwal pakai mesin cuci, siapa masak nggak cuci piring, tagihan listrik kok banyak banget, and the list goes on. Tipikal konflik kalau ada dua rumah tangga tinggal di bawah satu atap. Bete? Nggak mungkin enggak.

Mungkin banyak Mommies yang mengalami hal serupa. Apakah tinggal sama orangtua selalu menyebalkan? Lihat di halaman selanjutnya, ya.


2 Comments - Write a Comment

  1. Kalo saya berarti pilihannya C. Menemani Orang tua. Saya tinggal dengan nenek sejak kecil karena ayah-ibu ga ada. Ketika memutuskan menikah,suami saya setuju dengan keputusan saya untuk tinggal menemani nenek. Namun di usia 5 tahun pernikahan,ada juga rasa kepengen ngebentuk sarang/rumah sendiri…rupanya Allah belum mengijinkan. Nenek saya terserang demensia, dan pastinya saya jadi anak yang ga berbhakti kalau saya memutuskan ngontrak rumah/meninggalkan beliau. Hihihi rencana tinggal rencana, belajar nrimo, pasrah. Semoga semua indah pada waktuNYA…

Post Comment