ART: Bagai Mencari Cinta Sejati

maidJangan marah dulu ya mommies, ini hanya guyonan di antara teman-teman saya lho. Apalagi kalau di grup Whatsapp saya saat ini sedang ramai curhat tentang orang kepercayaan tersebut sudah meminta pulang dalam rangka Lebaran. Sungguh was-was takut diberi harapan palsu lagi. PHP lagi PHP lagi…

Setelah masa kampanye telah lewat, ini pertanyaan yang beredar saat ini di kantor adalah:

“Gimana Yas? Duo Teteh lo bakal balik kerja lagi sama lo gak?”

Saya tidak tahu. Beberapa orang bahkan tercengang kalau tahu Duo Teteh saya (Asisten Rumah Tangga  saya di rumah) akan libur sejak tanggal 26 Juli 2014 sampai dengan 9 Agustus 2014. Itu belum termasuk libur tahun baru yang lalu selama seminggu, jadi amunisi cuti kami harus banyak. Kalau kata suami saya:

“Jadwal cuti kita ditentukan oleh Duo Teteh ya?” sambil bercanda.

Duo Teteh yang kebetulan kakak beradik, sudah bekerja di rumah saya sejak 3 tahun yang lalu, yang di mana menurut teman-teman saya merupakan sebuah rekor. Saya juga pernah merasakan masa-masa kelam mencari ART atau Baby Sitter (BS). Kalau boleh saya menggambarkan dahulu kehidupan rumah tangga kami, saat ini saya berstatus sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, bertempat tinggal sekitar 80km perjalanan dari kantor saya, orangtua dan mertua masih aktif di kantor, mau gak mau saya harus mencari tenaga tambahan untuk menjaga anak-anak selain opsi menitipkan di daycare atau ke orangtua. Kadang timbul juga perasaan sudah di- fait accompli saat mencari ART. Inginnya A-B-C-D, sedangkan yang didapat adalah X-Y-Z. Mereka butuh pekerjaan, saya lebih butuh mereka.

Rekor paling singkat saya memiliki ART adalah 18 jam! Saya ingat ketika anak ke dua saya baru lahir, mantan ART keluarga saya membawa 2 anak di bawah umur dari daerah Gunung Merapi. Penampilan yang sedikit lusuh, berbadan tidak lebih besar dari anak sulung saya yang berusia 3 tahun saat itu, ditambah kenyataan yang lebih mengejutkan: mereka berusia 10 dan 12 tahun. Hati saya tidak tega, kasihan dan sedih, apalagi mereka masih anak-anak dan mereka tidak tahu bahwa akan diperkerjakan jauh dari Muntilan. Segera dengan segala kerugian transportasi yang harus kami tanggung, kami minta mereka dikembalikan kepada orangtua mereka. Saya tidak mau menjadi tertuduh dalam kegiatan child trafficking, pikir saya. Apalagi di kemudian hari mereka berempat (ART cilik dan anak-anak saya) harus sendirian berada di rumah.

Sebelumnya saya pernah memiliki ART yang mantan buruh migran. Karena saya pernah turun melakukan wawancara ke tempat pelatihan buruh migran, jadi saya merasa bahwa pastinya ART yang satu ini pastinya sudah memenuhi kualifikasi standar pekerja internasional. Ternyata saya belum beruntung. Secara pekerjaan memang bagus, tapi Bapak saya menjadi saksi bagaimana anak saya diperlakukan dengan kasar oleh ART tersebut.

Teman saya mengalami hal serupa, di mana BS yang dia pekerjakan, yang katanya mantan pekerja di salah satu model ternama dan sempat dia banggakan kecekatannya, ternyata ketika mengundurkan diri, barulah anaknya memberikan suatu pengakuan yang mengejutkan. Kebetulan anaknya sudah SD kelas 3 atau 4 dan memang terlihat sehat, tapi memerlukan pengawasan untuk pemberian obat harian sejak mengalami transplantasi organ. Anak tersebut ternyata sering di-bully dengan kata-kata seperti pemalas, anak bodoh atau apapun jika anak teman saya lalai melakukan suatu tugas.

Suka duka seperti ini tidak hanya dialami oleh saya sendiri, seyakin-yakinnya banyak teman-teman yang mengalami hal serupa. Saya pun sempat frustrasi ketika di mailing list, forum atau social media beredar video maupun cerita tentang ART maupun BS ini. Masih bergidik saya mengingatnya.

Lalu, bagaimana asal muasal Duo Teteh di rumah saya? Simak ceritanya di halaman selanjutnya, ya..


8 Comments - Write a Comment

  1. Astaga Tyas, gue bacanya ngakak-ngakak nih!
    Terutama bagian lo melototin suami lo gara2 dia negor si teteh, hahaha…! Tapi emang salah satu yang patut disyukuri juga oleh gue adalah: nyokap mau menyerahkan ART andalannya buat gue :)

  2. aaaaa baca ini bikin gue inget ART yang udah 10 bulan ini ngurus anak. Si mbak ini super duper kece berat! sayang anak, orangnya modis bin rapi, rumah gue rapi jali, anak gue juga deket sama dia. mungkin si mbak cinta sejati gue……*eh*

    Sayangnya, karena gue harus pindah ke ibukota dan si mbak nggak mau diboyong, kami pun terpaksa berpisah….pas gue kasi tau kalo mau pindah pun, gue nggak tega dan sedih liat si mbak matanya berkaca-kaca ihiks :( makanya, untuk memastikan si mbak tetep kerja, rencana suami si mbak mau dioper ke temannya. sukur2 kalo suatu hari balik lagi ke gue, hahaha

  3. Mbak Deeth, iya nie kalau dapat yg cocok, rasanya sayang banget, apalagi kinerjanya bagus, sayang kalau selepas dari kita malah gak dapat yg lebih baik dari kita ya gak. Apalagi kalau tali silahturahmi terjalin baik, bisa jadi suatu saat nanti dia belik sama kita ya.

  4. Ini bacaannya paaas banget ya dengan kondisi menjelang lebaran ini :D
    ART saya sudah ikut saya hampir 2 tahun, tahun ini kali kedua dia pulang mudik dan akan jadi kali kedua juga saya antar dan jemput nanti setelah lebaran. Repot? memang.. tapi demi yakin dia akan balik lagi saya rela :) . Selain itu, sekalian saya menjalin silaturahmi dengan Ibu dan keluarga dia jadi moga-moga kalau dia ada niat PHP segera diurungkan karena ‘kekerabatan’ kami ini.
    ART ini juga ‘cuma’ bagus di urus anak dan beberes rumah…dan ga bisa masak juga tapi karena awalnya memang membutuhkan untuk jaga anak ya bersyukur aja… melihat betapa dia sayang sama anak saya udah kayak ke adiknya sendiri… bahkan kadang lebih protektif dia daripada saya ehehhehe.
    Sebagai single mom, ART ini jadi ‘partner’ saya banget dan bersyukur Allah telah menjodohkan kami… Semoga jodoh kami ini panjang…Amiiin
    *lah panjang banget jadi curcol hehhee… TFS ya Mba :)

    1. Hai Mom Reyliarey, maaf baru balas komentarnya… amien semoga langgeng terus ya… sebenarnya tanpa mengecilkan peran pasangan, ya mitra utama kita ya ART ini. Saya suka Mbak mengasosiasikan dengan kata partner, yup, memang ART adalah partner kita ya gak.

Post Comment