Flat Head Syndrom, Apa dan Bagaimana?

Waktu baru melahirkan Bumi, ada salah satu pesan yang sering  kali masuk di kuping saya. Yaitu, soal posisi menidurkan anak. “Kalau nidurin Bumi jangan cuma satu posisi aja, ya, Dis… Bumi, kok, tidurnya telantang terus, sih, Dis? Nanti bentuk kepalanya nggak bagus, lho. Jadi gepeng.” Ternyata, masalah bentuk kepala memang bayi memang sering dipermasalahkan, ya. Bahkan nggak jarang, banyak ibu-ibu yang begitu khawatir ketika melihat bentuk kepala bayinya yang kurang bagus.

Sebagai ibu baru yang belum punya pengalaman, saya pun sangat penasaran dan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai bentuk kepala bayi, khususnya soal sindrom kepala datar atau flat head syndrom. Lewat berbagi artikel dan informasi yang saya kumpulkan, saya pun mengetahui kalau kondisi sindrom kepala datar atau flat head syndrome merupakan kondisi yang timbul karena posisi kepala di satu sisi yang terlalu lama.

tortle baby & mom (1)

Ada 2 jenis sindrom yang termasuk di dalamnya, yakni Plagiocephaly dan juga Tortikolis:

Plagiochepaly adalah perataan pada tengkorak bayi. Terjadi karena distorsi asimetris tulang kepala atau merata di satu sisi kepala. Hal ini biasanya disebabkan karena posisi telentang di satu sisi yang terlalu lama.

Tortikolis adalah ketidakseimbangan pada otot leher. Biasanya ditandai dengan nyeri yang hilang timbul atau kejang yang terus menerus pada otot-otot leher, sehingga mendorong kepala berputar dan miring ke depan, ke belakang, atau ke samping.

Dan, ternyata sindrom kepala datar sebaiknya tidak dianggap remeh. Soalnya selain cukup mengganggu dalam segi penampilannya, dalam jangka panjang bisa berpengaruh kepada kemampuan penglihatan, pendengaran, kognitif dan keterlambatan motorik.

Hal ini bisa dibuktikan lewat penelitian yang dilakukan Dr. Matthew L. Speltz tahun tahun 2010 silam. Dokter spesialis tumbuh-kembang anak dari University of Washington School of Medicine, Amerika Serikat sempat melakukan sebuah riset yang membuktikan kalau masalah kepala datar ini tidak diatasi akan berisiko mengalami keterlambatan perkembangan fisik dan mental. Seperti lamban dalam merespons kondisi di sekitarnya, bahkan bisa mengalami keterlambatan dalam kemampuan merangkak atau berguling.

Sedangkan penelitian lain yang dilakukan Wake Forest University Medical Center di North Carolina, USA mengatakan kalau flat head syndrome ini bisa mengakibatkan gangguan kesehatan bayi seperti infeksi telinga. Penelitian ini sempat melibatkan 1112 pasien yang dirawat dalam 2 tahun terakhir. Dan, ternyata 50,3% dari bayi dengan bentuk kepala rata tersebut memang pernah menderita infeksi telinga dalam 1 tahun pertama hidup mereka.

Pantas saja, ya, kalau banyak orangtua yang sering wanti-wanti kalau posisi tidur anak harus diperhatikan sebagai salah satu upaya mencegah kepala bayi jadi gepeng. Dengan sering mengubah posisi kepala anak ketika tidur, biasanya akan membantu bentuk kepala bagian belakang ke bentuk normal. Pun dengan pemlilihan bantal khusus untuk mencegah bagian belakang kepala bayi menjadi datar

Bahkan, saat ini sudah ada topi yang bisa mencegah kepala bayi jadi datar. Adalah Tortle, topi kupluk yang diciptakan untuk menyokong pergerakan kepala dan leher bayi yang baik, agar terhindar dari sindrom kepala datar baik plagiochepaly ataupun tortikolis.

Tortle baby laying down

Topi ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Jane Scott, dokter spesialis anak dan neonatologis dari Colorado. Jadi, sudah nggak perlu lagi ya, soal keamanannya? Bahkan Tortle telah disahkan oleh FDA (Food & Drug Association) dan dipatenkan dengan kelas 1 alat medis yang mendukung kesehatan kepala dan pergerakan leher untuk mencegah meratanya kepala bayi.

Topi kupluk ini disarankan untuk kenakan oleh bayi usia 0 hingga 6 bulan selama 8 jam sehari. Ketika menggunakan Tortle, tempatkan gulungan di belakang telinga bayi sehingga bisa menyokong kepala bayi. Meskipun sudah menggunakan topi ini, kepala bayi tetap harus secara regular diubah posisinya untuk menjaga bentuk tetap bulat sempurna.

 

 

 


Post Comment