Motherhood Monday: Nita Puspita, “Semua Perempuan Bisa Melahirkan Normal”

maternity1 (1)

“Banyak yang bilang proses lahiran saya hanya sekedar gaya-gayaan atau cari sensasi. Padahal bukan itu yang saya cari. Saya mencari penolong persalinan atau bidan yang sangat support pada ibu khususnya dengan kondisi dan keterbatasan saya”.

Obrolan saya dengan Mbak Nita ini bisa dibilang tanpa disengaja. Suatu hari, timeline Facebook saya dipenuhi beberapa kalimat ucapan untuknya karena telah berhasil melahirkan dengan proses normal. Mungkin, melahirkan secara normal merupakan hal yang lumrah. Tapi, berbeda untuk kondisi Mbak Nita.

Bisa melahirkan anak pertamanya  dengan normal menjadi spesial lantaran Mbak Nita memiliki banyak keterbatasan. Minus mata sudah sampai 7,5, punya penyakit asma dan rubella. Ditambah lagi kondisi anak dalam kandungan terdapat lilitan 2 tali pusat, sehingga sudah 4 dokter yang memvonisnya untuk melakukan proses  caesar.  

Setelah ngobrol panjang lebar, ternyata Mbak Nita ini juga salah satu member femaledaily dengan username nitapinky. Simak saja, yuk, obrolan lengkap saya dengannya. Mudah-mudahan saja, semua usaha perempuan kelahiran 27 Juni ini bisa memberikan insight buat Mommies yang lain.

Mbak Nita, ceritain, dong pengalaman dan ‘perjuangannya’ kemarin saat melahirkan… 

Iya mbak. Setiap saya kontrol ke dokter yang berbeda, di Depok, Surabaya, dan Sidoarjo tanggapannya memang seperti itu. Saya harus melahirkan dengan cara ceasar. Saya memang pernah tinggal di Depok ikut suami, lalu pindah ke rumah orangtua di Sidoarjo pada saat hamil tua. Dokter melihat saya memakai kacamata tebal dan memang minus mata saya 7,5. Untuk minus di atas 5 biasanya dokter langsung menjatuhkan vonis caesar dikarenakan takut mata menjadi buta pada saat mengejan.

Sebenarnya waterbirth juga masih kontroversi, tak jarang ibu-ibu mencibir kelahiran secara waterbirth apalagi yang tidak memakai dokter. Tapi ada juga beberapa ibu yang bertanya pada saya tentang lahiran ini, mereka melihat video saya yang tenang waktu melahirkan, dan kebanyakan ibu-ibu bilang, ‘Mbak nggak sakit tuh lahiran di air?”. Saya hanya tertawa, buat saya semua ini buah dari kesabaran dan pemberdayaan diri, tidak bisa langsung instan ya… hehehe.

Selanjutnya: Faktor yang meyakinkan bisa melahirkan dengan normal


5 Comments - Write a Comment

  1. hiksss, pengen banget waterbirth + hypnobirthing. kemaren waktu Gaby lahir, uda ke bidan kita (Klaten) juga, tapi malah KPD terus ditunggu smp 12 jam belum lahir juga padahal janin uda distress :( akhirnya dianter bu Yessi ke solo, sc deh akhirnya. tapi yang penting saya dan Gaby sehat & selamat :)
    Semoga anak kedua nanti bisa vbac, ngerasain nikmatnya waterbirth + hypnobirthing, amiiiinnnn :))

  2. Di Belanda sangatlah umum ibu melahirkan di rumah dengan bantuan bidan jika tidak ada komplikasi. Ya mungkin gak 1/2 tapi sekitar 1/4 sampai 1/3 ibu hamil memilih melahirkan di rumah. Konon katanya supaya lebih tenang, gak setres dst dst karena rumah sakit sini membudayakan 3 jam habis lahiran normal ibu langsung disuruh pulang jadi percuma repot2 ke RS. Masuk RS pun baru boleh sesudah kontraksi 5 menit sekali. Perawatan ibu dan anak dilanjutkan oleh suster yang datang ke rumah selama 8 hari pertama *dibayar asuransi*..

    Saya kebeneran punya ibu yang tenaga medis dan saudara2 ibu saya pun hampir semuanya tenaga medis, jadi sedikit overmedicated. Saya dengan sadar memilih rumah sakit sebagai tempat yang aman untuk melahirkan. Untung saja saya memilih rumah sakit karena bayinya setres jadi harus dikeluarkan ASAP. Dari cuma 2 orang yang bantu di ruang melahirkan (bidan dan suster) langsung saya dikelilingi sama 9 orang termasuk 1 residen obgyn tingkat akhir dan 1 orang obgyn yang bertanggung jawab atas segala proses yang terjadi. Kebayang kalau iseng nunggu di rumah, yang ada panik :p

  3. suka quote nya “knowledge is power”
    si “knowledge” inilah yang dulu membuat saya yakin bisa melahirkan normal dan sekarang yakin bisa menerapkan RUM untuk Gendra.

    jadi, jangan berhenti cari ilmu moms
    banyak baca baca baca….

Post Comment