Family Friday : Meisya Siregar, “Aku Bukan Tipe Ibu Parnoan”

Waktu acara jumpa pers yang dilangsungkan Brawijaya Women and Children HospitalBrawijaya Women and Children berkaitan dengan pelayanan terbaru mereka, saya sempat bertemu dengan Meisya Siregar. Waktu itu, istri Bebi Romeo sempat bercerita kalau dirinya sangat concern dalam hal memilih rumah sakit. Hal ini tentunya nggak terlepas dari pelayanan serta rasional atau tidaknya para tenaga medis dalam memberikan obat.

MS

Lewat beberapa artikel yang sempat saya baca, saya memang mengetahui kalau ibu dua orang anak ini termasuk orangtua yang melandasi pengomatan dengan konsep RUM. Jadi nggak heran, ya, kalau dirinya mengaku paling tidak mau membeli sebarangan obat terutama obat yang dijual secara bebas. Lucunya, nih, dalam menjalankan konsep RUM di rumahnya ternyata perempuan kelahiran Bandung, 13 April 1979 mengaku sempat bersinggungan dengan suaminya. Lho, kok, bisa, ya? Mau tau alasannya? Baca kutipan wawancara saya dengannya saja, ya!

Mbak, ceritain sedikit, dong, bagaimana cara Mbak mengajarkan pola hidup sehat pada anak-anak?

Sama aja dengan ibu-ibu yang lain, apa yang kita lakuin di rumah atau luar rumah, aku selalu berupaya untuk untuk kasih contoh dulu. Lebih gampangnya, sih, untuk anak-anak di mulai dari yang standart aja. Semuanya mungkin dimulai dengan mengenalkan makanan yang sehat. Gizi dan vitaminnya bisa seimbang. Tapi aku juga bukan tipe ibu yang paranoid. Yang nggak boleh ini itu. Sesekali bolehlah mereka menikmati makanan yang disukai anak-anak yang jual di pasaran. Selain itu paling soal istirahat, dan olahraga.

Senang olahraga seperti apa saja, Mbak?

Olahraganya juga nggak melulu yang bersifat serius. Anak-anak itukan basic-nya suka melakukan hal yang mereka senang, kalau nggak, pasti nggak akan mau mereka lakukan. Mungkin yang terahir juga memilih cara bermain mereka, ya.

Contohnya?

Ya, cara bermain anak-anak itukan juga sangat berpengaruh dengan pola hidup sehat mereka. Kalau terlalu sering ‘bercengkrama’ dengan gadget, pasti aktivitas fisik jadi kurang. Jadi aku berupaya sering mengajak mereka main ke luar rumah. Mau main sepeda, bulu tangkis, atau mereka cuma mau main lari-larian di dalam komplek, atau berenang. Anything, pokoknya aktivitas fisik apa pun yang mereka senang lakukan pasti aku support. Makanya anak aku yang kedua ini sangat aktif banget, dia anak yang kinestetik yang geraknya banyak.

Oh, ya, Mbak Meisya ini kan salah satu Ibu yang menerapkan konsep RUM. Anak-anak jarang di bawa ke Rumah Sakit, dong?

Ya, sesuai dengan kebutuhan saja anak ke rumah sakit untuk apa. Alhamdulillah anak-anak aku nggak sering jajan di rumah sakit, paling hanya untuk imunisasi, selalin itu paling hanya untuk mesalah kesehatan yang sifatnya sudah urgent.

Indikator kondisi urgent-nya seperti apa, Mbak? 

Seperti yang aku udah ceritain tadi, kalau aku ini bukan tipe ibu yang parno-an. Anak baru sakit satu hari, sudah langsung aku bawa ke rumah sakit. Nggak, aku bukan tipe begitu. Aku cukup rasional mencari informasi, kapan waktu yang tepat untuk bawa anak-anak ke rumah sakit. Misalnya kalau anak lima hari panasnya nggak turun-turun, sikapnya juga sudah berubah dari yang ceria jadi lemes, mereka nggak mau minum, udah nggak mau main-main, nah itu deh yang baru khawatirin. Kalau sedang sakit tapi anak-anak nggak mau makan, itu sih normal, ya. Kita saja yang dewasa kalau sakit, pasti males makan. Nah, kondisi yang seperti itulah yang aku sudah anggap urgent dan perlu di bawa ke dokter. Kalau untuk demam biasa, batuk pilek, sih, nggak perlu.

Selanjutnya : Meisya bercerita lebih senang melakukan home treatment


Post Comment