Bijak Memilih Menu Buka Puasa

150924_Sweetner _KDM_Horeee… Bulan Ramadan sudah datang. Biasanya, yang paling berkesan dari bulan puasa adalah berseliwerannya berbagai macam makanan untuk berbuka. Saya yakin, semua orang pasti sepakat bahwa saat bulan puasa datang, otomatis makanan enak hadir semua. Bisa jadi hadirnya berbagai macam kolak (mulai dari pisang hingga singkong), berbagai kue basah dan jajanan pasar serta aneka minuman dingin pelepas dahaga. Dan entah mengapa, di saat bulan puasa seperti sekarang, rasanya semua makanan terasa enak dan bikin lapar. Jadi deh kepengen beli semua makanan atau minuman yang dijual. Bisa juga tiba-tiba kita menjadi kreatif di dapur dan memasak makanan-minuman ini dan itu sebagai menu berbuka puasa, yang mana biasanya kita memasak menu berbuka puasa lebih dari satu macam. Wow!

Satu hal yang sering saya lihat mengenai makanan berbuka puasa, yakni identik dengan rasa yang manis. Jelas saja, rasa yang manis ini ditimbulkan oleh pemanis tambahan (gula pasir, gula batu, gula merah dan berbagai pemanis tambahan lainnya). Misalnya pada seporsi kolak pisang. Kita tahu di dalamnya ada gula merah dan sedikit gula pasir. Takaran gula merahnya pun nggak kira-kira, bisa lebih dari takaran gula yang dianjurkan. Ada juga yang terbiasa menambahkan sedikit gula pasir ke dalam masakan kolak tersebut. Ditambah lagi santan yang melengkapi gurihnya kolak. Kalau sudah begini, beranikah kita untuk menghitung berlipat gandanya kalori dalam semangkok kolak pisang? O ya, jangan lupakan juga bahwa buah yang dimasak atau diolah akan mengeluarkan kandungan gulanya lebih banyak dari buah yang tidak diolah.Kemudian terbayang nilai kalorinya yang bikin kita berujar “Haduh, parah nih!”

Hal-hal yang terlihat sepele (seperti pemilihan menu saat berbuka puasa) inilah yang selalu kita remehkan. Bisa jadi kita menganggap semangkuk kolak pisang itu adalah hal yang biasa saja. Padahal, dari semangkuk kolak pisang atau makanan-minuman manis lainnya yang kita santap setiap kali berbuka puasa akan menentukan kesehatan kita setelah bulan puasa berakhir. Belum lagi kita akan mengonsumsi makanan berat setelah menyantap makanan pembuka (duh!). Nggak mau dong kandungan gula darah kita naik hanya karena kita kurang hati-hati dalam memilih menu berbuka puasa. Kan kita ingin makin sehat setelah bulan puasa berakhir, bukannya menimbulkan risiko kesehatan yang lain.

Jadi, sebaiknya sih kita menjadi bijak dalam memilih makanan berbuka puasa. Gimana caranya? Lihat di halaman selanjutnya ya!


One Comment - Write a Comment

Post Comment