Ketika YKS Dihentikan Sementara…

Lalu apa? Saya agak pesimis mendengar berita KPI ‘hanya’ berani menghentikan sementara. Kenapa tidak dicabut saja? Oh, mungkin KPI pesimis juga, karena otak kreatif orang-orang berpendidikan yang membuat tayangan tidak mendidik itu akan terus berjalan. Saking ‘kreatifnya’, mungkin kalau dicabut, akan muncul acara “BUKAN YKS” seminggu kemudian. Lagipula, keputusan menghentikan sementara ini hanya berkait satu konten saja. Memang melecehkan itu tidak baik. Tapi KPI bergerak HANYA karena ini? Anak-anak yang menonton bagaimana? Ah, sampai kapan lingkaran setan ini akan berakhir?

Zooming out the situation a bit, make us realize, how pathetic those people behind the show. Saya yakin juga, minimal para pekerja di balik layar ini adalah sarjana. Jika pendidikan yang mereka dapatkan tidak mengajarkan soal dampak buruk televisi bagi anak, at least they can read! Kan sarjana!! Semua dilakukan demi rating, saya tidak tahu apakah ini hanya terjadi di Indonesia, atau memang jadi hal yang biasa di dunia hiburan televisi. Seakan tidak ada beban ketika menayangkan sesuatu, yang penting rating tinggi, banyak produk yang pasang iklan di acara tersebut. Selesai urusan mereka. Sedangkan konsumen, dibiarkan untuk menelan sendiri apa yang mereka tonton. Okelah, kalau golongan menengah-atas bisa memilih apa yang mereka mau tonton. Ada fasilitas TV cable, sehingga bisa memilih tayangan yang berguna bagi diri dan keluarganya. Setidaknya ada saringan yang terpasang, padahal sebetulnya juga kita sudah sering membaca dampak tayangan televisi bagi anak. Pembenarannya adalah at least our children watch Mickey Mouse.

ykssLihat ada berapa anak kecil yang hadir? Gambar dari sini

Bagaimana dengan keluarga yang tidak memiliki TV berlangganan? Bagaimana dengan keluarga menengah ke bawah yang setiap hari harus memikirkan uang untuk hidup? Karena kesibukannya bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, tidak ada waktu untuk memilih acara televisi untuk anaknya. Jangankan memilih acara yang boleh ditonton, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh anaknya saja kadang luput karena fokus dengan mencari uang. Saya benar-benar jadi ingin tahu, apakah tidak ada rasa sedikitpun bagi pemilik stasiun televisi komersil untuk orang-orang yang situasinya seperti ini? Lebih parah lagi, kenaifan mereka dimanfaatkan untuk menambah ‘nilai plus’ bagi acara TV tersebut. Dengan cara apa? Mengundang rakyat untuk menonton langsung dari venue. Dan ironipun terpampang di televisi, banyak sekali anak di bawah umur yang ikut menikmati tontonan di atas panggung acara tv live, even worst: they laugh, enjoy, and move their body along with that adult-content script.

Selanjutnya: Konsep tayangan langsung kerap menjerumuskan!


4 Comments - Write a Comment

  1. Saya malah br tau kalo yks dihentikan. Tp kayanya ada penggantinya yg gak jauh beda jenis2nya..
    Apalagi pas ramadhan gini lho, banyak acara menjelang buka puasa & waktu sahur yg bener2 gak mendidik. Joget2 gak jelas, becanda menghina fisik, banci2an. Padahal banyak usia anak2 yg nonton buat nemenin sahur..

  2. Believe me selama masi ada yg nonton, acaranya ga akan pernah mati. D1 (9th) tadinya seneng. Tapi sambil gw brainwash. Apa sih itu kok gini gitu? Apa sih gitu doang kok xyz? Karena dia sambil nonton natgeo sama runningman gw jd bisa bandingin tuh sama YKS. Mau lucu tp ga seabsurd YKS, tuh runningman lebih lucu. Mau yg bikin pinter, dapet ilmu/tau sesuatu lebih banyak, ada Natgeo. Lama2 ngeh dan bosen sendiri malah bisa nyela2 hahaha.

    But still ya undeniable klo acara tsb (plus acara2 semodel lain) sumber periuk nasi banyak org.

  3. Sebagai orang yang dulu pernah terlibat di produksi acara sejenis, gue malu lho. Asli. Dan merasa beruntung sekarang nggak harus terlibat secara langsung sama program-program sejenis ini.
    Tapi bener banget, live sama taping itu secara psikologis emang beda buat para pemain (juga kru). Untuk lebih seru, lebih seru love. Tapi risiko jauh lebih tinggi. Bukan cuma masalah melanggar UU penyiarannya aja, tapi trouble sama pemain, audio, dsb itu gede banget. Kalo taping, lebih aman. Cuma sekali lagi, efeknya beda.

    Mudah2an acara sejenis ini bisa dihentikan SELAMANYA, deh. Nggak mendidik, apalagi anak-anak malah ikut diekspos di acara sejenis. Atau kalau bukan anak2, ada juga orang dewasa yang postur tubuhnya seperti anak-anak, jadi bulan2an. Anak2 kita banyak yang belum paham kalau itu adalah orang dewasa kan? Duh, semoga KPI melakukan sesuatu untuk ini.

    Dan yang paling penting, semoga kita sebagai orangtua juga aware dengan hal-hal semacam ini.

  4. Televisi (yang bukan berbayar, ya) memang masih menjadi hiburan termurah bagi sebagian besar masyarakat, Jadi, walopun mereka tau tayangan seperti YKS, sinetron, dll itu jelek dan gak bermutu, di sisi lain mereka pun butuh hiburan. Jadilah mereka menonton.

    Kalau saya, kembali kepada kita sendiri. Kalau udah tau jelek, jangan tonton. Cari kegiatan lain yang menghibur (dan solusinya gak selalu harus dengan berlangganan tv kabel). Kembali kepada tekad kita. Mau pasrah dengan hiburan yang ada atau mencari hiburan lain yang lebih bermanfaat.

    Saya sih setuju YKS dibubarkan selamanya. Tapi, kalau cuma dihentikan sementara trus dibikin acara baru dengan format sama, judulnya dibikin mirip, misalnya ‘Bukan YKS’. Saya lebih gak setuju lagi. Sama aja televisi tersebut secara terang2an seperti mengejek buat saya.

Post Comment