Pilpres 2014: Pelajaran Demokrasi Berawal dari Rumah

permission

Minggu ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar tentang kekerasan terhadap anak-anak yang diselenggarakan oleh ikatan pegawai kantor saya bekerjasama dengan sebuah majalah keluarga nasional dengan menghadirkan seorang psikolog ternama. Di dalam sesi pertanyaan, seorang rekan kerja menyampaikan permasalahan bahwa salah satu topik yang pernah diperdebatkan secara panas antara dirinya dan pasangannya di depan anak-anak mereka adalah masalah pemilihan presiden tahun ini. Peserta seminar lainnya sempat tertawa kecil. Saya? Déjà vu!

Saya teringat kembali pemilihan calon legislatif dan presiden beberapa tahun yang lalu. Alkisah saya mempunyai kekaguman yang luar biasa (kalau tidak dibilang berlebihan ya) terhadap seorang tokoh Reformasi 98. Namanya juga mahasiswa angkatan reformasi, yang pernah ikutan demonstrasi pula, yang pastinya saya merasa harus memilih beliau dan bagaimana pun saya berharap beliau dan partainya menang. Lalu saya bertanyalah pada (calon) suami apa partai yang alan dipilihnya dan siapa presiden pilihannya. Tentunya calon suami tidak mau menjawab. Lupakan asas pemilihan LUBER, apapun itu saya harus mengetahui. Karena sang calon tidak mau memberitahu, saya ngambek. Saya marah kepadanya dan mendiamkan yang bersangkutan. Sampai di hari pemilihan dia baru membisikan apa yang dipilihnya, dan ternyata ada sedikit berbeda dengan pilihan saya, seketika kemarahan saya semakin menjadi, saya marah besar sampai menuduh dia tidak berwawasan luas, tidak mengerti demokrasi dan sebagainya. Dan kami baru berbaikan setelah euforia pemilihan mereda.

Di pemilihan berikutnya, ketika kami sudah menjadi suami istri, topik pemilihan presiden pun menjadi topik pembicaraan yang sangat hati-hati diangkat oleh suami saya. Dia tahu banget adat saya yang keras hahahaha. Dan di saat itu juga suami mengungkapkan bahwa dia sedikit berbohong kepada tentang pilihannya beberapa tahun yang lalu hanya demi menggoda saya dan menurut pandangan dia pribadi bahwa cara saya ingin mengetahui apa pilihannya (yang harusnya rahasia kan) dan memaksa keinginan saya malah mengganggu dia. Mau diajak diskusi baik-baik kok rasanya dia melihat saya seperti kepala batu.

“Lagipula kan Bapak itu kan tidak kenal sama kamu juga, begitu sebaliknya, kok kamu sampai sebegitu marahnya sama aku hanya demi dirinya?”

Padahal, masa kecil mengajarkan saya untuk menghargai perbedaan pendapat. Simak di halaman selanjutnya!


3 Comments - Write a Comment

  1. Tyas, untung gue sama suami selalu sama pilihannya. Hahaha.. Ini akibat obrolan politik selalu nyangkut dulu pas zaman temenan kali ya! Salah satu hal jadi mau nikah sama dia kayanya karena pandangan politiknya sama deh *lebay*.

    Kalo bokap sama nyokap sering beda, dan kocaknya nyokap selalu sama dengan anak-anaknya, jadi bokap suka di-bully :D

  2. Hihihihi… ya begitu dech laki gue memang penuh misteri Lit, meski kita berdua bisa membahas politik dari A-Z, mengkritik atau memuji orang-orang yang sama, kata dia sie biarkan pilihannya menjadi rahasi antara dia dan Tuhan hahahaha. Susah nie, padahal istrinya kepo habis :P.

Post Comment