Ketika Si Kecil Harus ‘Berpulang’

beauty girl cryRasanya, nggak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa hancurnya perasaan orangtua saat harus menerima kenyataan bahwa buah hatinya harus menghadap Sang Khalik. Jangankan begitu, melihat anak sakit saja rasanya sudah memilukan. Kalau bisa, kita saja yang menanggung rasa sakit yang dideritanya.

Menangis pun akhirnya jadi salah satu bentuk luapan perasaan. Dan  hal ini memang sangat wajar dilakukan karena dipercaya sangat ampuh  menghilangkan duka yang membuat dada begitu sesak.

Kira-kira 8 tahun yang lalu, kakak kedua saya sempat ‘kehilangan’ anaknya yang pertama, Rafi, yang ketika itu masih berusia 6 bulan. Jangankan kakak saya, saya dan keluarga besar rasanya butuh waktu yang cukup lama untuk berada dalam fase benar-benar ikhlas menerima kepergiannya. Selama berbulan-bulan, mata kakak saya tidak berhenti menitikan air mata. Walaupun ketika itu saya belum belum menikah dan punya anak, tapi saya cukup paham seperti apa rasanya. Maklum saja,  hari-hari saya memang banyak dihabiskan bersama keponakan saya yang satu itu. 

Saya bisa merasakan betapa kalutnya perasaan kakak saya saya ini ketika harus menerima ‘kiamat’ kecil tersebut. Jika mereka harus  menangis berhari-hari, saya pun cukup memahaminya. Seperti yang diungkapkan Zoya. D Amirin M. Psi, saat seseorang sedang merasakan duka yang mendalam seperti saat kehilangan anak, menangis merupakan salah satu jalan untuk meluapkan rasa yang ada di dada. “Dengan menangis beban memang akan jauh berkurang”, ujarnya.

“Jadi menangislah, saat memang harus menangis. Justru, jika tidak menangis, emosi yang dirasakan tidak bisa dilupakan sehingga penerimaan tidak bisa cepat dirasakan,” begitu kata satu-satunya seksolog berlatar belakang psikologi di Indonesia .

Mbak Zoya juga mengingatkan, kita sebagai orang terdekat harus bisa memberikan dukungan, namun katanya, “Jangan pernah mengatakan, yang tabah ya… sudahlah, kamu kamu jangan menangis terus-menerus.”

Ya, biar bagaimana pun, proses untuk ikhlas dan lapang dada menerima kondisi kehilangan anak tentu nggak mudah. Seperti yang ia jelaskan kalau rasa ikhlas kehilangan akan sang buah hati, baru bisa dirasakan setelah melewati beberapa fase. Untuk penjelasan lengkapnya, di halaman berikut.


7 Comments - Write a Comment

  1. jadi inget keponakan saya yg meninggal diusia 5 bln, kakak saya keliatan tegar sekali dan ga banyak menangis, malah kita keluarganya yg terlihat lebih sedih, mungkin tiap orang berbeda2 dalam mengekspresikan dan mengatasi kesedihannya.

  2. Iya, Mbak… pasti tiap orang punya caranya masing2 buat luapin kesedihannya. Cuma, waktu itu Mbak Zoya, sih, bilang, kalau mau nangis, ya nangis aja. Mungkin maksudnya kalau memang dasarnya oarngnta mudah cengeng kaya saya, ya, nggak mesti di sok tegar2in, kali ya? :)

  3. pd beberapa orang, ketika ditinggal orang tersayang (orangtua, suami/istri, apalagi anak) bisa aja keliatan tegar ketika di depan orang2. msh bisa ngobrol, bahkan nyiapin makanan utk para pelayat..
    tapi.. ketika semua pelayat/keluarga pergi, dan dia sendirian baru deh bs meledak airmatanya..

    1. Bener banget, Mbak Pangesti…. suka salut juga sih buat mereka yang bisa tegar dan nyembunyiin perasaan mereka. Cuma takutnya kalau begitu sembuhnya malah jadi jauh lebih lama karena mereka simpan perasaan sendiri.

  4. ada istilah ‘seharusnya anak yg menguburkan orang tua, bukan sebaliknya’.. memang hancur hati saat buah hati harus berpulang. rasanya tak kan cukup waktu berminggu2 atau mgkin berbulan2 utk bisa benar2 ikhlas..
    kesedihan dan kehilangan akan tetap ada dlm hati, dan perjuangan utk benar2 ikhlas tidaklah mudah. segala hal mengingatkan padanya,.
    *mengenang dede’,. sayang selalu dari papi, mamah, dan kakak2..*

    1. Iya, Mbak Mamahrahma. Makanya, ada salah teman yang pernah mengalami kiamat kecil ini yang akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan barang-barang anaknya. Dikasih buat mereka yang memang butuh. Pasti rasanya bikin dada bener2 nyesek ya…

      1. iya mba.. saat merasa kangen dede’, pengennya liatin foto2 dan videonya.. tapi saat liat, ga lain ga bukan adanya air mata mengucur deras.. sebisa mungkin di rumah ga ada lagi barang2 yang akan ngingetin ke dia., tepat 40 hari yang lalu dia berpulang, dan nanti malam kami akan adakan tahlilan.. kami masih terus berjuang utk bisa mengenangnya dengan kasih sayang, dan bukan lagi dengan kesedihan mendalam.. :)

Post Comment