Afterplay, Pentingkah?

gty_cuddling_jp_110708_wg

Dalam menjalin hubungan seksual dengan pasangan, para ahli banyak menyarankan para pasutri untuk melakukan berbagai variasi sehingga hubungannya jadi nggak ‘basi’. Hal ini pun bekaitan dengan afterplay,  di mana kegiatan ini konon harus dilakukan setelah melakukan hubungan intim. Joel D. Block, Ph.D, dalam bukunya Secrets of Better Sex bahkan menekankan betapa pentingnya afterplay agar menimbulkan kenangan indah yang mampu menimbulkan rasa ketagihan dan bisa menimbulkan kenangan yang indah.

“Jadi jangan langsung mendengkur setelah hasrat terlampiaskan,” tulis ahli terapi seks di Human Sexuality Center of Long Island Jewish Medical Center, Amerika Serikat ini.

Sayangnya, kenyataan nggak selalu berbanding lurus dengan banyaknya teori dan nasihat dari pakar-pakar seks ini, ya? Soalnya, waktu masih jadi pengantin baru saya sempat dibikin gondok setengah mati ketika menghadapi kenyataan kalau suami bisa langsung tidur pulas sesaat setelah kami bermesraan. Rasanya, mau marah dan mau ‘oyak-oyak’ tubuhnya, deh! Hahahaa…. Dan ternyata, kondisi suami yang sering kali melupakan ‘hidangan penutup’ ini nggak hanya saya yang mengalaminya, kok. Beberapa teman dekat juga sempat curcol masalah yang sama.

Memang dalam hal pihak perempuan yang sering merasa kecewa. Hal ini nggak terlepas dari sudut pandang yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Seperti yang diungkapkan Dr. Mulyadi Tedjapranata, “Ada perbedaan mendasar antara pria dan wanita mengenai tujuannya dalam bercinta. Bagi pria tujuan dari bercinta adalah untuk mencapai orgasme. Hal ini terlihat dari sebagian besar pria untuk membalikan badan atau langsung tidur seusai mencapai orgasme. Pada perempuan tujuan dari bercinta bukanlah sekedar untuk mencapi orgasme. Bercinta juga sebagai pengalaman total ketimbang aktivitas berdua dan dalam hal ini perempuan selalu mementingkan kepuasan batin”.

Ia pun menjelaskan kalau afterplay sering disebut sebagai fase resolusi. Pada fase ini, alat-alat kelamin dan bagian tubuh lain mengalami perubahan, kembali ke keadaan semula sebelum ada rangsangan seksual. Ketegangan otot, tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi pernafasan juga kembali ke keadaan semula.

“Itulah mengapa wanita masih ingin merasakan cinta dari suaminya setelah melewati masa orgasme menuju tahap resolusi, tahap setelah merasakan kenikmatan. Wanita akan merasa terlukai perasaannya, bahkan merasa tidak dipedulikan jika suami tidak menunjukkan rasa mencintai yang dalam karena langsung tidur sehabis bercinta tanpa memperdulikan dirinya yang masih membutuhkan dekapan kasih sayang,” paparnya.

Setelah mendapat ‘pencerahan’ dari Dr. Mulayadi saya pun semakin paham kenapa banyak pria yang tidak mementingkan afterplay. Untungnya, pelajaran yang bisa saya petik dalam hal ini adalah pentingnya komunikasi seksual yang baik antara pasangan. Kalau komunikasi sudah berjalan dengan baik tentu kita bisa mengetahui keinginan dan kebutuhan masing-masing. Buat saya, sih, nggak perlu sungkan untuk mengungkapkan apa yang disenangi dalam berhubungan. Kalau nggak ngomong, pasangan tentu nggak bisa tahu apa yang kita suka dan nggak. Betul, kan?

Toh, sebagai perempuan sebenarnya afterplay nggak perlu ribet. Dengan sedikit belaian, pelukan, dan kecupan kecil juga sudah bikin jauh lebih bahagia. Bahkan fase afterplay juga bisa berubah jadi sebuah “pemanasan” lagi, lho! Duh… jadi kangen bapaknya Bumi, nih!


4 Comments - Write a Comment

  1. baca ini jadi pengen ketawa, karena justru saya yg lebih sering lsg molor setelah mencapai klimaks… suami malah masih kepengen meluk2 dan belai2 saya….

    klo dia protes, saya berdalih… “Maklum kecapean setelah seharian meladeni 3 lelaki yang luar biasa… (3 lelaki disini maksud saya: sang suami, Danny-boy – 3 y & Baby-David 11 m ).

    Klo sudah begini suami cuma nyengir dan membiarkan saya terlelap dalam dekapannya…

    AIH! :D

Post Comment