Menjadi Ibu dan Anak dari Ibu

Mommy'sHug*Gambar dari sini

Di suatu pagi di akhir pekan, masih pakai piyama, saya pergi ke kumpulan tukang sayur dekat rumah untuk lihat yang segar-segar sambil bergaul dengan tetangga. Dan lagi pengen masak aja, mumpung Sabtu. Di hari biasa saya nggak pernah masak – pagi di jam-jam belanja kayak gini, saya biasanya udah terjebak di kemacetan, mengantar anak sekolah dan setelahnya langsung ke kantor.

Nah, ada dua hal yang berkaitan dengan ibu saya tentang cerita yang barusan ini.

Pertama, pada saat saya belanja ke tukang sayur, saya nawar harga kangkung, kerang dan telur puyuh yang ditawarkan. Cara saya menawar, pilihan kata saya, intonasi dan mungkin gesture (saya nggak bisa lihat, sih), mengingatkan saya pada ibu saya. Dan meski saya seringkali kurang sepakat dengan tawar menawar ini, tanpa saya sadari, saya sudah plek-ketiplek ibu saya. Ada nggak yang ngerasa juga, meski kita nggak sepakat dengan cara ibu kita, tapi tanpa disadari kita juga menirunya? :))

Kedua, soal saya kena macet, mengantar sekolah dan setelahnya saya ke kantor, hal ini yang membedakan saya dengan ibu saya. Ibu saya adalah ibu rumah tangga, tidak pernah bekerja. Baik full time, maupun freelance, bekerja dari rumah atau sejenisnya, tidak dialami ibu saya. Beliau langsung menikah setelah lulus SMA, baginya hidup ini adalah mengurus suami dan anak. Dalam hal ini, ibu tidak pernah melarang saya untuk beda dengannya, yaitu menjadi ibu bekerja.

Jadi sebenarnya, saya pengen cerita hubungan saya dengan ibu saya. Gimana kami bisa sangat sama dan di saat yang bersamaan, kami juga sangat berbeda, dan ini membuat hubungan kami menjadi unik. Perbedaan dan persamaan ini semakin terasa setelah saya juga menjadi ibu, sejak hampir 6 tahun lalu.

Ibu saya masih sulit memahami kenapa orangtua di generasi saya melakukan me-time. Pantang untuk ibu saya, mengakui dan menerima bahwa menjadi ibu itu ada capeknya. Sementara buat saya me-time itu perlu, selama tidak berlebihan. Dan mendengarkan diri sendiri bilang capek adalah penting sebagai proses penerimaan diri.

Ibu saya punya standar tersendiri tentang pengasuhan anak, begitu pun saya. Minum ASI vs minum susu kaleng, makan disuapin supaya anak makannya banyak dan rapi vs makan berantakan sambil belajar makan, makan tepat waktu vs makan tunggu lapar, dll, masih panjang, deh, daftarnya.

Suatu siang, saya traktir ibu saya makan di restoran Jepang. Uang hasil dari saya bekerja. Kami saling memuji. Dan saling mengkritik, tentunya. Apa saja isi pujian dan ehm, tentunya kritikan kami? Temukan di halaman berikutnya!


One Comment - Write a Comment

Post Comment